Angka Kemiskinan di Jatim Turun

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat membuka acara Temu Ilmiah Nasional dengan tema Percepatan Pengembangan Desa Mandiri digelar di Hotel Regent Park, Selasa malam (3/9) lalu. [m taufiq]

Gubernur Tetap Ingin Ada Penelitian Mendalam
Malang, Bhirawa
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat membuka acara Temu Ilmiah Nasional dengan tema Percepatan Pengembangan Desa Mandiri digelar di Hotel Regent Park, Selasa malam (3/9) lalu, menginginkan adanya penilitan mendalam terkait penurunan angka kemiskinan di Jawa Timur.
Tampak mengecilnya angka kemiskinan di Jawa Timur belum membuat Gubernur Jatim, berpuas diri, sebaliknya berharap percepatan penurunan angka kemiskinan tak berjalan di tempat. Meski selama enam bulan terakhir terhitung sejak September 2018 hingga Maret 2019 tercatat angka kemiskinan turun 0,78%.
“Kami menginginkan agar tetap ada penelitian lebih mendalam terkait kondisi di lapangan. Karena masih banyak persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Kalau dilakukan penelitian yang mendalam maka dapat terpetakan lagi persoalan kemiskinan, atau yang menyebabkan orang menjadi miskin,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur mendorong agar para pakar, akademisi, serta stakeholder merumuskan jurus terbaru dalam mengatasi kemiskinan, sehingga persolan ini benar – benar tuntas hingga ke akar – akarnya.
Gubernur Khofifah, lantas menyampaikan dari hasil survei BPS, dikatakan jika penurunan kemiskinan Jatim selama 4,5 tahun sebelumnya adalah 0,92%. Sementara sejak September 2018 hingga Maret 2019 kemiskinan turun 0,78%. Perbandingan yang cukup tinggi itu pun diharapkan mampu menjadi salah satu objek untuk dikaji lebih mendalam lagi.
Menurut Gubernur, ini harus diintervensi dengan penelitian lebih detail. Apakah dana desa yang selama ini diberikan pemerintah membantu mengentaskan kemiskinan, atau bantuan pangan non tunai juga berpengaruh. Karena sejauh ini belum ada penelitian yang mendetail.
“Penurunan itu bukan hanya sebatas data yang bisa dibanggakan. Melainkan harus ada kajian mendetail untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam penanganan kemiskinan berikutnya. Sehingga tak ada lagi anomali kemiskinan, melainkan kemiskinan dapat benar – benar diatasi, sampai tuntas,” imbuhnya.
Gubernur Khofifah ingin tahu dengan detail, sebenarnya apa yang membuat angka kemiskinan itu turun. Mengapa dalam enam bulan terakhir ini angka kemiskinan turun signifikan. Penyebabnya pasti ada. ”Saya minta Bappenas melakukan asistensi terhadap program yang bisa diintervensi untuk menurunkan kemiskinan,” tegasnya.
Tidak hanya itu, gubernur juga menekankan adanya ketimpangan kemiskinan yang terjadi di pedesaan dan perkotaan. Di mana hingga kini angka kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah yang menurutnya harus segera dicarikan jalan keluar. Sehingga, kemiskinan di pedesaan dan perkotaan dapat diatasi dengan baik.
Setelaah dilantik, lanjut Gubernur Khofifah, dirinya menyampikan kepada seluruh OPD bahwa ada tiga hal yang tidak boleh ditawar. Pertama penurunan kemiskinan, ke dua mempersempit ketimpangan, dan ketiga meningkatkan IPM. IPM Jatim Nomor 15 dan terendah se Jawa. Maka nggak boleh ditawar dalam meningkatkan IPM. ”Kita di atas rata -rata nasional 9,64 (nasional),” terangnya.
Gubernur juga menegaskan, agar ada sinergitas yang dibangun untuk memetakan kemiskinan dan cara yang tepat dalam mengatasi hal itu. Ketika sudah ditemukan formula yang tepat, maka ia optimis angka kemiskinan di Jatim akan dapat ditekan lebih kecil lagi. [mut]

Rate this article!
Tags: