Acuh pada Lingkungan, Belajarlah dari Pak Ndul

Oleh :
Eka Sugeng Ariadi
Bekerja di MTsN 6 Pasuruan

Menarik (bahkan sangat menarik) menyimak satu per satu video sederhana karya YouTuber Pak Ndul (begitulah ia dipanggil, sedang nama aslinya adalah Agung Sukoco). Beberapa bulan belakangan ini videonya yang terkumpul dalam 2 channel Wagu Ndeso (channel pertama kali menjadi YouTuber, sejak Oktober 2017) dan Wagu Waton Guyon (channel yang sekarang lebih populer, sejak Desember 2018) menjadi idola publik. Tak heran setiap videonya unggah di YouTube, beberapa hari kemudian ditonton oleh puluhan juta orang. Hingga tulisan ini dibuat Wagu Waton Guyon telah menyentuh angka 916 ribu lebih pelanggan (subscribers). Popularitas Pak Ndul di dunia maya (baik di YouTube maupun di media sosial) menarik banyak pihak untuk mengundangnya. Intinya, apa yang telah dilakukan Pak Ndul dan timnya, inovasi dan kreatifitasnya, menyentak publik khususnya di dunia hiburan (entertainment).
Fenomena unik dan menarik ini berkelindan dengan salah satu kritik sastra Ekokritisisme atau dikenal dengan istilah Kritik Sastra Hijau. Ekokritik ini merupakan salah satu jenis kritik sastra paling baru di antara kritik sastra yang ada. Meski sudah banyak peneliti sastra yang menggunakan ekokritik sebagai “pisau” untuk mengupas berbagai karya sastra (novel, film, puisi, dan lain-lain), namun belum ditemui yang menggunakan ilmu ini untuk mengupas kompilasi video di Wagu Waton Guyon. Ide terpenting dari ekokritik yang saat ini menjadi fokus banyak peneliti sastra dan peneliti lingkungan adalah Ekoliterasi. Ekoliterasi (Ecoliteracy) merupakan gabungan dari dua kata yang berbeda area pembahasan, namun sangat erat kaitannya, yaitu ecology (ecological) dan literacy. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online disebutkan bahwa ekologi diartikan sebagai ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya). Sedangkan literasi berarti kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu (kbbi.kemdikbud.go.id). Gabungan dua kata tersebut membentuk istilah baru, yaitu ekoliterasi yang dimaknai dengan kemampuan untuk memahami sistem alam yang membuat kehidupan di bumi (wikipedia.org).
Setelah melihat video Pak Ndul dan membaca tentang teori sastra ekoliterasi, ternyata suara ekoliterasi “berbunyi” nyaring dan menggema dari videonya. Lihatlah setting (latar atau lokasi pengambilan video), isi dan pesan materi yang disampaikan, semua tidak lepas dari alam sekitar, lingkungan pedesaan (alam ndeso). Media yang dijadikan sebagai alat bantu ketika menjelaskan satu topik pun benda-benda yang sangat sederhana dan ada di sekitar rumah, pekarangan, sawah, dan jalan-jalan di pedesaan. Misalnya: dalam beberapa video, bisa dilihat aksi Pak Ndul menjelaskan tentang cara mencangkok pohon pisang, keong racun, rahasia ternak ayam, tiang listrik, raket nyamuk, alat-alat dapur, tanaman padi, dan sebagainya. Memang kejenakaan Pak Ndul dalam mengolah kata yang itu menjadi keunikan tersendiri. Bahasa yang digunakan aneh dan unik, sering menggunakan bahasa Inggris, bahasa Sains, bahasa Planet, dan sebagainya yang tak pernah diduga sama sekali. Jargon andalannya adalah “Ahlinya Ahli, Intinya Inti, dan Core of the Core”.
Jika pemirsa videonya Pak Ndul melihat lebih dalam pesan karya ini maka akan ditemukan betapa kuatnya suara rakyat dan suara alam yang ditampilkan. Suara rakyat ditampilkan secara jelas dalam penampilan fisik Pak Ndul di tiap videonya. Hanya pakai kaos, celana, dan sandal (kadang pun tidak pakai sandal). Dengan penampilan sederhana dan ala kadarnya seperti itu, topik-topik videonya pun sudah mulai menyentuh isu-isu sensitif yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya: tentang Pilpres, muncullah video berjudul “Jangan Pilih 01 atau 02″. Contoh lain misalnya tentang pemukulan siswa pada gurunya, beberapa hari kemudian ada videonya, dan banyak lagi lainnya. Tentu, paparan yang disampaikan tidak seserius takshow di televisi. Semua dibungkus dengan jenaka yang melibatkan suara alam (menggunakan media alam sekitar) sebagai alat bantu. Memang kebenaran isi yang disampaikan banyak yang meragukan. Namun, tak mengurangi inti pesan yang disampaikan.
Jika menilik fenomena asap karena kebakaran hutan yang terjadi beberapa hari lalu, penulis melihat betapa video ini membawa pesan penting bagi semua warga negeri ini agar benar-benar acuh pada lingkungan, khusunya para pemilik lahan, pemerintah daerah dan pihak-pihak yang terkait. Kesuksesan yang diraih Pak Ndul sekarang ini sudah banyak disampaikan dalam beberapa wawancaranya di acara televisi bahwa bukan semata-mata mencari ketenaran dan uang, namun juga untuk menyuarakan kepeduliaan terhadap kelangsungan umat manusia dan alam semesta. Perlindungan dan penyelamatan alam (reservasi ekologi) serta pembentukan karakter manusia yang peduli terhadapnya (ekoliterasi) menjadi misi utama. Hendaknya lebih banyak lagi yang berbuat nyata, kreatif, inovatif, dan inspiratif seperti Pak Ndul. Terlebih lagi, meski video ini sederhana dan terkesan ndeso, namun tak ketinggalan dalam kualitas literasi digital dan literasi teknologinya.
Mengapa suara ekoliterasi ini sangat penting dan harus semakin gencar digaungkan? Tak lain karena lingkungan kita semakin rusak parah. Data BPS tahun 2018 menunjukkan bahwa untuk urusan sampah saja di tahun 2018, 25,1 persen desa mengalami pencemaran air, dan sekitar 2,7 persen desa tercemar tanahnya. Sampah juga berkontribusi terhadap kejadian banjir yang terus meningkat dari tahun ketahun, pada tahun 2016 dan 2017 sebanyak 1.805 banjir terjadi di Indonesia serta menimbulkan 433 korban jiwa. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah angka kematian (CFR) akibat kejadian luar biasa diare pada tahun 2016 sebesar 3,04 persen, padahal CFR diharapkan kurang dari 1 persen.” Ini baru masalah sampah dan limbah, belum luas hutan yang semakin berkurang dari tahun ke tahun. Kekayaan laut yang beranjak menuju kehancuran. Oleh karenanya, mari acuh pada lingkungan sekitar masing-masing karena semua orang memiliki kesempatan, hak, dan kewajiban yang sama untuk melindungi alam dari kerusakan yang semakin nyata dan merajalela. Mari belajar dari Pak Ndul.

————- *** —————

Tags: