Eksekusi Tanah Memanas, Ratusan PKL Terusir dari Relokasi

Dua alat berat dan pengawalan ketat Polisi dan TNI dikerahkan dalam pelaksanaan eksekusi lahan di Jl.Sudiro dan Jl.WR.Supratman Kota Batu, Rabu (5/12).

Kota Batu, Bhirawa
Pengadilan Negeri (PN) Malang dengan pengawalan ketat dari Kepolisian dan TNI melakukan eksekusi terhadap 5 bidang tanah di Jl.Sudiro dan Jl.WR Supratman Kota Batu. Ironisnya, saat ini tanah tersebut digunakan sebagai area relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun- Alun Batu. Akibatnya, ratusan PKL pontang- panting menyelamatkan barang dagangan mereka dan hanya bisa pasrah.
“Hari ini bukan dilakukan penertiban PKL. Kita melakukan pengamanan terhadap pelaksanaan eksekusi dari Pengadilan Negeri Malang,”ujar Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto yang terus memantau jalannya eksekusi, Rabu (5/12).
Sempat terjadi perlawanan terhadap jalannya eksekusi. Ada kelompok massa sekitar 400 orang yang berusaha menghalangi jalannya eksekusi. Namun aksi massa tersebut langsung dihalau oleh aparat TNI dan Polisi.
Budi Hermanto mengatakan pihaknya telah menyiapkan 300 personel dari Polres Batu dan 1 kompi pasukan Brimob. “Selain itu ada 30 personel dari TNI yang diperbantukan untuk mengamankan jalannya eksekusi ini,”tambah Kapolres.
Ada 2 alat berat yang dikerahkan meratakan bangunan semi permanen yang selama ini dipergunakan sebagai tempat relokasi sekitar 150 PKL Alun-Alun Batu. Para pedagang hanya bisa pasrah, kemudian mengangkuti barang-barang mereka untuk dipindahkan.
“Memang sudah ada surat peringatan untuk meninggalkan tempat ini. Tapi kita kira hanya gertak sambal saja karena selama ini kita selalu membayar uang sewa dan iuran- iuran,”ujar Umi, salah satu PKL yang berdagang kuliner di tempat tersebut.
Diketahui, untuk bisa berdagang di sana para PKL menyewa kios semi permanen tersebut kepada Suprapto, warga Jl.Teluk Cendrawasih Malang dengan harga antara Rp12 juta hingga Rp 25 juta per tahunnya. Namun sekarang para PKL ini menjadi korban dari sengketa lahan antara Suprapto dan Linawati Hidayatno bersama Yanelia Hidayatno. Dan Suprapto kalah dalam persidangan tingkat kasasi sehingga lahan sengketa tersebut kini dikuasai Linawati-Yanelia.
“Eksekusi ini kita lakukan berdasarkan penetapan Pengadilan Nomor 6/Eks/2018/PN MLG. Jo putusan Pengadilan Malang nomor 40.pdt.g/2015/pn. Mlg. Jo tertangggal 4 Januari 2016 dan putusan Pengadilan Tinggi Nomor 20/pdt/2016. PT Sby. Jo tertanggal 16 Juni 2016 dan Putusan Mahkamah Agung (MA) nomor 1094 K/PDT/2017,” ujar Panitera Muda Perdata dan Ketua Tim Juru Sita, Rudi Hartono SH.
Sementara, kuasa hukum Suprapto (termohon eksekusi), Suharto Sumartono meminta kepada PN Malang untuk menunda eksekusi, karena belum ada kejelasan tentang obyek eksekusi. Ia menjelaskan bahwa 5 bidang yang disengketakan memiliki total luas 12.666 meter persegi. Padahal lahan yang kini ditempati PKL memiliki luas lebih dari 19.000 meter persegi.
“Obyek yang dieksekusi itu 12 ribu meter persegi, dan obyek ini belum jelas di sebelah mana. Karena itu saya minta ditunda dulu eksekusi ini, ayo diukur ulang dan dipastikan dulu yang dieksekusi di sebelah mana,”jelas Suharto. [nas]

Tags: