Pahlawan Berantas Hoax

Foto Ilustrasi

Indonesia memiliki sejarah spirit kejuangan melawan penjajahan ekonomi, dan politik adu domba (devide et impera). Sejak abad ke-16, berbagai pangeran dan raja-raja suku-suku di seantero Indonesia telah mengobarkan anti-penjajahan. Berujung pada perang (gerilya) 10 November 1945 di Surabaya. Pemenang Perang Dunia II, pasukan NICA (Belanda) yang biasa menebar hoax adu-domba, takluk hanya dalam waktu dua pekan. Meminta bantuan presiden Soekarno menghentikan perang kota.
Permintaan genjatan senjata oleh Sekutu (yang di dalamnya terdapat NICA Belanda), berarti mengakui eksistensi Indonesia (yang diproklamirkan 17 Agustus 1945). Perang 10 November 1945 di Surabaya, menjadi Indonesia telah memiliki tentara yang mampu memeprtahankan kedaulatan negara. Kebiasaan Belanda menyebar hoax adu-domba, dilawan dengan fatwa perang Jihad fi sabilillah. Resolusi Jihad merupakan hasil diskusi ulama se-Jawa di Surabaya (22 September 1945).
Fatwa jihad di-umum-kan melalui pengajian di kampung-kampung, sembari meng-organisir bekas tentara santri yang di-didik di Bogor oleh Jepang. Sekitar seribu santri dan kyai muda telah mengikuti pendidikan kemiliteran di Bogor. Semula digunakan sebagai prajurit perbantuan (Heiho). Seiring kepentingan Jepang, rekrutmen ditambah lagi hingga mencapai 38 ribu orang.
Bahkan pada Desember 1944, pemerintahan militer Jepang mengukuhkan pasukan sukarela khusus Islam, bernama Laskar Hizbullah. Hasil rekrutmen dikelompokkan dalam sukarelawan PETA (Pembela Tanah Air), terdiri dari puluhan Batalyon. Tentara PETA disebar, dan disiagakan di Jawa dan Bali. Sudah terampil menggunakan senjata, membuat bom, sampai taktik perang. Beberapa perwira Sekutu menulis (dalam buku harian) menghadapi “tawur sosial” melawan rakyat.
Padahal sesungguhnya, rakyat Jawa Timur telah dilatih kemiliteran, sudah menjadi tentara. Itu sebabnya, masyarakat menolak menyerahkan senjata (bekas rampasan milik tentara Jepang). Sebagai strategi, laskar rakyat hanya menunjukkan senjata bambu runcing. Laskar kyai dan santri dari Jawa Barat, dan Jawa Tengah, juga dikerahkan ke Surabaya. Usai perang 10 November 1945, serta-serta menjadi inspirasi tentara PETA di daerah lain turut angkat senjata.
Di Jawa Tengah meletus perang Ambarawa. Di Jawa Barat, meletus pula perang (dan strategi kontra militer) yang dikenal sebagai peristiwa Bandung Lautan Api. Hasilnya, Belanda melalui pengerahan tentara NICA dan AFNEI, tidak mudah kembali menjajah Indonesia. Pergaulan bangsa-bangsa mengakui keberadaan (eksistensi) Indonesia. Berbagai perundingan tentang kedaulatan Indonesia digelar oleh masyarakat internasional.
Tetapi pergerakan revolusi, belum selesai. Begitu kata Bung Karno, proklamator sekaligus presiden pertama RI. Perang (besar) 10 November 1945, untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan, dinyatakan sebagai perang revolusi kecil. Dan masih harus dilanjutkan dengan pergerakan revolusi lainnya. Tamsil Bung Karno, itu bersambungan dengan pembukaan UUD 1945 alenia kedua. Bahwa proklamasi 17 Agustus tahun 1945, itu sebagai “depan pintu gerbang” kemerdekaan.
Menilik kata-kata dalam alenia kedua pembukaan UUD itu, rakyat Indonesia telah meraih kemerdekaan berpemerintahan sendiri. Tetapi adil dan makmur, masih harus terus diperjuangkan. Perang Surabaya 10 November 1945, sudah berlalu 73 tahun lalu. Model perang revolusi (bersenjata untuk membunuh musuh) sudah tiada. Tetapi perang belum selesai, karena masih terdapat perang baru. Yakni, kukuh mempertahankan NKRI, serta jihad melawan korupsi, dan peredaran narkoba.
Dibutuhkan persatuan, dan kesatuan mempertahankan NKRI. Walau pada masa (tahun) politik, menghadapi pemilihan presiden, serta perebutan kursi parlemen. Perlawanan terhadap devide et impera, masih harus digelorakan. Terutama melawan hoax, berita palsu adu-domba, mengoyak persatuan nasional. Hajat politik, seyogianya dianggap sebagai rutinitas demokrasi. Tanpa menista, tidak “menghunus pedang” saudara sebangsa yang berbeda pilihan.

——— 000 ———

Rate this article!
Pahlawan Berantas Hoax,5 / 5 ( 1votes )
Tags: