Kenapa Malu Kalau Jadi Berprestasi

Resha Panji Lanang

Resha Panji Lanang
Berdarah seniman, begitulah sosok Resha Panji Lanang yang mengikuti jejak seni dari sang ayah dan ibu. Resha begitu sapaan akrabnya dikenal sebagai seorang pantomim yang tak pantang menyerah. Bagaimana tidak, sempat diremehkan oleh keluarga sendiri dan dihina oleh teman sebayanya, Resha mampu membungkam pandangan sinis tersebut dengan berbagai prestasi yang membanggakan. Misalnya meraih best performance di tingkat nasional beberapa waktu yang lalu, serta menjadi juara I di berbagai gelaran bergengsi tingkat regional.
“Dulu waktu SD pernah ada yang bilang kamu ngapain main gini (pantomim,red) kayak orang nggak jelas aja. Kata-kata itu membuat saya nge down. Sempet nggak pengen main pantomim lagi. Saudara juga gitu pernah ngeremehin saya karena suka pantomim. Tapi saya buktikkan kalau apa yang saya sukai ini justru membawa prestasi,” ungkap pria yang mempunyai nama panggung Resha Mime ini.
Siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 17 Surabaya ini bercerita sejak kelas empat SD, ia mulai menggeluti pantomim sebagai hoby baru yang di tekuni. Hal itu tidak terlepas ketika sang ayah, Eko Cahyono mengenalkan tokoh pantomim Charlie Caplin dan Penyanyi pop kawakan Michael Jackson kepada Resha.
“Ayah sering mengajak saya untuk liat pentasnya. Ayah juga sering memainkan kaset pantomim Charlie Caplin dan Penyanyi pop kawakan Michael Jackson. Dari situ saya mulai menyukai pantomim,” papar remaja berusia 14 tahun ini.
Hal tersebut juga diperkuat dengan ciri khas pantomim yang ekspresional. Bagi Resha, dengan ekspresi jujur yang selalu melekat pasa seni pantomim membuat ketertarikan tersendiri bagi pihaknya. Selain bermain kelenturan dan gaya yang tidak monoton, kreasi pantomim dan imajinasi juga dibutuhkan dalam setiap pertunjukkan. Ini agar para penonton bisa merasakan pesan yang ingin disampaikan pemain.
“Seorang pantomim harus membuat para penonton fokus pada penampilannya. Membuat suatu hiburan, membuat penonton tertawa ini yang menjadi tantangan bagi seorang pantomim. Bagi saya pribadi membuat orang tertawa dengan pertunjukkan dan ekspresi jujur yang saya bawakan adalah kepuasan bagi saya,” ujar anak tunggal dari pasangan Eko Cahyono dan almh. Retno Sulanjar.
Sebagai seorang Pantomim yang terbilang junior, Resha juga pernah merasakan kegagalan dalam membawakan pertunjukkan. Di mana ia tidak mampu memecah ketegangan para penonton dengan tepuk tangan dan tertawa.
“Ketika itu terjadi, sampai dibelakang panggung saya ditegur pelatih pantomim yang juga teman ayah saya. Dia bilang kalau berpantomim itu jangan monoton. Jika konsepnya pegang kaca ya harus diperjelas. Harus detail. Jadi penonton juga tahu kamu ngapain,” ucap Resha menirukan perkataan pelatihnya.
Remaja kelahiran Surabaya 5 Februari 2004 mengaku selama ia berpantomim ada satu hal yang menjadi keinginan dan harapan sederhananya. Yaitu berkolaborasi pantomim bersama ayah nya. Ia menyadari hanya hidup berdua dengan sang ayah tak cukup untuk bisa menghabiskan waktu bersama.
“Dulu kalau latihan suka sama ayah. Tapi semakin kesini kesibukan kami juga semakin tinggi. Sempat berharap bisa latihan pantomim berdua sama ayah, menghabiskan waktu berdua sama ayah,” harap Resha dengan mata berkaca-kaca. [ina]

Rate this article!
Tags: