Jatim Jadi Wilayah Pertarungan Penting

Surabaya, Bhirawa
Tingginya populasi pemilih dan keberadaan tokoh-tokoh penting di Jatim menjadikan wilayah ini sebagai titik krusial pertarungan politik pada Pilpres 2019 mendatang. Bahkan Jatim dinilai menjadi provinsi kunci untuk menentukan kemenangan dua paslon yang kini tengah berebut simpati publik.
Dikatakan pengamat politik Universitas Airlangga Suko Widodo, wilayah Jawa menjadi penyumbang 53 persen pemilih nasional. Sementara Jatim, menyumbang 15 persen pemilih nasional. Karena itu, tidak heran jika kedua paslon yang kini bersaing beberapa kali bertandang untuk merebut hati masyarakat Jatim.
“Karena melihat pengalaman di Pilpres 2014 perolehan suara Prabowo juga cukup kuat. Bahkan di 14 daerah wilayah Mataraman, Tapal Kuda dan Madura Prabowo masih unggul. Karena itu, tidak heran jika tim kampanye Jokowi begitu massif dengan melibatkan kepala daerah sebagai kordinator wilayah,” ujar Suko saat ditemui kemarin, Senin (6/11).
Di wilayah Madura, suara Prabowo dinilai masih cukup kuat. Karena itu, digratiskannya tol Suramadu bisa disebut memiliki alasan yang politis. Sebab, biasanya kebijakan itu diambil melalui kajian dan melempar wacana ke publik. Sementara keputusan menggratiskan tol Suramadu terkesan cukup tergesa-gesa.
Lebih lanjut Pria yang juga Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair ini mengaku, panggung utama kampanye Pilpres saat ini masih berkutat pada pasar dan pesantren. Dua hal itu merupakan representasi sektor ekonomi yang memiliki efek kuat terhadap pemilih. Sementara di pesantren, paslon cenderung ingin mendekati kyai untuk membangun opini publik. “Karena kalau untuk meraup suara dari kalangan santri juga masih banyak yang belum menjadi pemilih,” tutur dia.
Kendati safari politik kedua paslon sudah cukup gencar di Jatim, Suko menilai tahapan saat ini masih saling mengklaim. Terutama mengklaim suara NU yang dinilai paling besar di tingkat nasional. “Padahal di lingkungan NU itu masih cukup besar warga NU kultural. Dan itu belum bisa diklaim akan condong ke salah satu pihak,” ungkap Suko.
Suko menilai, yang saat ini menarik adalah masyarakat di wilayah terpencil di pinggir-pingir hutan, petani, nelayan, dari pada hanya berkutat di ponpes atau pasar. Riset yang disajikan lembaga survey sejauh ini masih terbatas elektabilitas dan popularitas. Sementara pendekatan psikologis dan kultural masih diabaikan. “Jadi masih ada ruang-ruang sunyi, jalan-jalan sunyi seprti itu, yang itu justru masih kosong dan belum melihat ada yang mendengar suara mereka,” tutur dia.
Selain itu, ada kelompok lain yang cukup besar populasinya sekitar 52 persen. Yaitu, kelompok yang sangat akrab dengan teknologi informasi mulai dari pemilih pemula hingga usia 38 tahun. “Pemilih Jatim cukup rasional, tapi rasional itu tetap menggunakan standar mereka. Misalnya, apa yang mereka rasakan dari hasil membyara pajak kepada pemerintah selama ini, itu menjadi pertimbangan penting,” pungkas Suko. [tam]

Tags: