Terdakwa Kasus TPPO Tertunduk Lemas Dituntut 5 Tahun Penjara

Ayuk, terdakwa kasus TPPO tertunduk lemas usai mendengar tuntutan lima tahun penjara oleh jaksa di PN Surabaya, Rabu (17/10). [abednego/bhirawa]

PN Surabaya, Bhirawa
Ayuk alias Puspita binti Daslan tertunduk lemas di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (17/10). Perempuan 22 tahun warga Jl Dukuh Kupang ini hanya tertunduk saat mendengar tuntutan lima tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fathol Rasyid.
Selain hukuman pidana, Jaksa Fathol mewajibkan terdakwa membayar denda Rp 120 juta. Sebab dalam kasus ini, perempuan kelahiran Tuban itu dianggap terbukti melakukan tindak pidana perdagangan manusia atau human trafficking. Sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU No 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Sebelum pada tuntutan, Jaksa Fathol membacakan pertimbangan yang memberatkan dan meringankan terhadap terdakwa. Adapun hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan tidak mengakui perbuatannya. Bahkan, terdakwa juga berbelit ketika menyampaikan keterangan selama persidangan.
Sedangkan hal yang meringankan, lanjut Jaksa Fathol, terdakwa belum pernah dihukum dan selalu sopan selama persidangan. Setelah mendengarkan pertimbangan yang memberatkan dan meringankan terdakwa, Jaksa Fathol sampai pada tuntutannya.
“Meminta Majelis Hakim menjatuhkan pidana selama lima tahun penjara dan denda Rp 120 juta,” kata Jaksa Fathol Rasyid di hadapan Ketua Majelis Hakim, Sarwaedi, Rabu (17/10).
Seperti diketahui, perkara ini bermula ketika pada Juni lalu, Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya menangkap Ayuk saat melayani pria hidung belang bersama korban dalam kamar Fave Hotel Rungkut Surabaya. Saat digerebek, Ayuk dalam keadaan telanjang bulat, karena sedang berhubungan intim bertiga (threesome).
Dari tangan tersangka, polisi menyita kondom bekas pakai dan yang masih utuh, uang tunai Rp 500.000, satu buah handphone dan bill hotel. Modus terdakwa, dia menjajakan atau menjual dirinya sendiri dan korban (temannya) melalui Facebook dengan akun Puspita Puspita Open Area Surabaya exclude.
Pada akun tersebut, tersangka menampakkan foto di dalam Facebooknya tersebut. Perkara ini terungkap saat tersangka berkomunikasi dengan tamunya. Kemudian tersangka memberikan nomor WhatsApp-nya pada sang tamu, dan menawarkan korban (temannya) pada tamu. Disepakati harga Rp 2 juta per jam, dengan pembagian korban mendapat bagian Rp 1 juta, dan tersangka Rp 1 juta.
Setelah sepakat harga dan tempatnya, tersangka check in ke kamar hotel. Tersangka lebih dulu menunggu di dalan kamar yang kemudian disusul oleh korban dan tamunya seorang laki-laki. Selanjutnya baik korban maupun tersangka sama-sama melayani tamunya melakukan hubungan badan. [bed]

Tags: