Shodiq Tjahjono: Masih 32 Orang Terpasung di Kabupaten Probolinggo

Dinkes gelar revitalisasi tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat.

Kab.Probolinggo, Bhirawa
Penderita ODGJ di Kabupaten probolinggo mencapai 1.654 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 32 penderita masih terpasung .
Angka tersevbut merupakan hasil evaluasi dan revtalisasi tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo di ruang pertemuan Jabung 1 Kantor Bupati Probolinggo.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono, Kamis (4/10) mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat di Kabupaten Probolinggo serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa.
“Setidaknya dengan kegiatan ini nantinya bisa memahami analisis situasi kesehatan jiwa masyarakat, mengetahui strategi prioritas bagi kesehatan jiwa masyarakat serta melakukan monitoring dan evaluasi secara bertahap dalam proses implementasi program kesehatan jiwa masyarakat,” katanya pada acara yang diikuti 64 orang peserta terdiri dari 24 orang dari 24 kecamatan dan 20 orang dari lintar sektor dan lintas program Dinkes Kabupaten Probolinggo.
Menurut Shodiq, gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat masih identik dengan gila, sementara kelompok gangguan jiwa lain seperti ansietas, depresi dan gangguan jiwa yang tampil dalam bentuk berbagai keluhan fisik kurang dikenal. Kelompok gangguan jiwa inilah yang banyak ditemukan di masyarakat.
“Mereka ini datang ke pelayanan kesehatan umum dengan keluhan fisiknya, sehingga petugas kesehatan sering kali terfokus pada keluhan fisik, melakukan berbagai pemeriksaan dan memberikan berbagai jenis obat untuk mengatasinya. Masalah kesehatan jiwa yang melatarbelakangi keluhan fisik tersebut sering kali terabaikan, sehingga pengobatan menjadi tidak efektif,” terangnya.
Lebih lanjut Shodiq menerangkan masalah kesehatan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung, namun akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan baik bagi individu, keluarga, masyarakat dan negara karena penderitanya menjadi tidak produktif dan bergantung pada orang lain.
Sementara Plt Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Probolinggo Achmad Arif mengungkapkan gangguan jiwa merupakan penyebab terbesar nomor 2 beban akibat penyakit, berdasarkan tahun hidup dengan disabilitas (DALYs), terbanyak pada usia produktif (15-45 tahun).
“Di Kabupaten Probolinggo kasus ODGJ dengan estimasi 2.557 orang telah ditemukan sebanyak 1.654 orang. Kasus pasung memiliki estimasi 417 orang dan telah ditemukan 216 orang dengan sebanyak 32 orang masih terpasung,” ungkapnya.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa beban masalah PTM dan kesehatan jiwa merupakan tantangan yang harus dihadapi saat ini. Dengan demikian, deteksi dini PTM dan gangguan jiwa dalam keluarga perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi hilangnya hari produktif atau menjadi beban keluarga dan negara yang berkepanjangan.
“Tanpa upaya-upaya yang strategis dan sungguh-sungguh, kecenderungan kesakitan, kematian dan kecacatan akan terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung kurang aktifitas fisik, mengkonsumsi makanan yang tidak sehat (kurang buah dan sayur serta tinggi kalori, garam dan lemak) merokok, minum minuman beralkohol dan tidak mengelola stres dengan tepat,” terangnya.
Sebagai upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dan kualitas sumber daya manusia yang sebaik-baiknya. Dewasa ini upaya promotif-preventif diutamakan dalam pembangunan kesehatan.
“Untuk itu perlu adanya dukungan baik masyarakat maupun lintas sektor dalam penanganan dan pencegahan kasus jiwa dan pasung secara inklusif dan komprehensif. Maka di Kabupaten Probolinggo perlu adanya evaluasi dan revitalisasi tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat tingkat kabupaten menuju bebas pasung sehingga kasus jiwa dan pasung bisa tertangani secara optimal,” tambahnya.(Wap)

Tags: