Komisi B Minta Lokasi Pedagang Pandugo II Dijadikan Kampung Tematik

Pasar Penjaringansari tempat relokasi pedagang Pandugo II terlihat sepi, Rabu (3/10).[andre/bhirawa]

DPRD Surabaya, Bhirawa
Komisi B DPRD Surabaya meminta Pemkot Surabaya agar tak merelokasi 126 pedagang Pandugo gang II ke Pasar Penjaringansari. Lokasi para pedagang tersebut bisa dibuat kampung tematik yang bisa menjadi pasar wisata seperti di luar negeri.
”Pedagang di kampung Pandugo II ini bisa ditata lebih bagus lagi. Seperti dibuatkan kanopi yang besar sehingga bisa menarik wisatawan datang ke sana. Di Istambul Turki ada seperti itu dan banyak turis yang datang,” ujar anggota Komisi B DPRD Surabaya Achmad Zakaria, Rabu (3/10).
Menurutnya jika nantinya pedagang di pindah ke luar, maka kekhasan Pandugo sebagai kampung pedagang ini akan lenyap. Seharusnya persoalan ini dilakukan pendekatan kearifan lokal.
Achmad Zakaria juga minta agar Pemkot Surabaya melalui Bappeko dan dinas terkait membuat kajian agar kampung Pandugo Gang II menjadi kampung tematik.
Selain itu, bazar rakyat atau pasar rakyat tiap pagi di kampung Pandugo II itu sebagai warisan itu sebagai warisan budaya ekonomi mikro dari rakyat untuk rakyat.
”Kalau perlu dihias, kerjasama dengan swasta melalui CSR untuk atribut, desain kampung, sanitasi, saluran, agar bisa berjualan di kampung dengan dibatasi jam dan kebersihan yangg memadai. Ini seperti kampung tematik, kampung kue, kampung lontong, kampung batik dan lain lain,” ujar politisi PKS yang duduk di DPRD Surabaya asal Dapil Surabaya 3 ini.
Menurut Zakaria, bazar pagi atau pasar pagi di Pandugo II itu telah membuat kemandirian ekonomi warga di sana. Selain itu juga gotong royong warga. Sehingga kalau semua pindah ke pasar baru, bisa jadi akar budayanya hilang.
Dukungan serupa juga diungkapkan oleh Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mazlan Mansyur. Ia menyatakan perubahan itu menuju perbaikan. Artinya pedagang ditata lebih baik oleh Pemkot Surabaya. Jika sekarang stan itu kurang, maka Pemkot Surabaya siap membangunnya.
‘Yang penting lagi selama proses pembangunan, pedagang tetap diperbolehkan berjualan di sana. Kan perubahan pembangunannya tahun depan,” ujarnya.
Terkait dengan usulan Achmad Zakaria, ia menegaskan pedagang tidak harus masuk ke Pasar Penjaringansari. Pedagang masih bisa memberikan masukan bagaimana baiknya untuk penataan pedagang di Pandugo II.
“Saya yakin, Bappeko Surabaya bisa membuat dua kajian yaitu soal penataan kampung Pandugo II dan Pasar Penjaringansari,” kata Mazlan.
Seperti diketahui, pedagang pasar pagi di kampung Pandugo II tetap ngotot bertahan di tempat semula yang sudah ditempati untuk berjualan puluhan tahun.
Sedangkan pasar Penjaringansari di lokasi bekas SDN I Penjaringansari yang dibangun dengan dana APBD Surabaya Rp 2 miliar lebih pada akhir 2017 itu malah ditempati orang lain.
Ketua RT 03/RW 01 Suyanto menegaskan kalau Pasar Penjaringansari yang sudah hampir satu tahun mangkrak itu kurang layak. Sebab, stannya hanya ada 43 unit, sedangkan pedagangnya 100 lebih.
Selain itu juga ukuran stan terbuka sempit sehingga membuat pedagangn susah bergerak jika ditempati untuk berjualan karena sudah sesak dengan barang dagangan.
Sementara itu Camat Rungkut Syafik menyatakan, pembangunan pasar Penjaringansari itu untuk pedagang ber-KTP Penjaringsari. Maka ketika warga di sana tidak mau masuk, maka akan dialihkan ke warga lainnya. [dre]

Tags: