Kekeringan di Pasuruan Semakin Meluas, Warga Dihimbau Salat Istisqo

Wabub Pasuruan, KH A Mujib Imron (makai batik coklat) saat mendistribusikan air bersih ke warga yang dilanda kekeringan di Desa Kedungpengaron, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (11/10).

Pasuruan, Bhirawa
Kekeringan di wilayah Kabupaten Pasuruan semakin luas. Dari sebelumnya krisis air bersih terjadfi di 20 desa dalam lima kecamatan, saat ini meluas menjadi 22 desa di tujuh kecamatan.
Agar kemarau bisa berakhir dan hujan segera turun, warga di desa-desa dan kecamatan-kecamatan yang mengalami kekeringan serta krisis air bersih, dihimbau untuk melakukan salat istisqo.
Wakil Bupati (Wabup) Pasuruan, KH A Mujib Imron menyampaikan salat istisqo untuk memohon agar segera turun hujan. Sehingga, kekeringan yang melanda Kabupaten Pasuruan segera teratasi.
“Apabila sudah waktunya musim hujan, tapi masih musim kemarau, bahkan kemarau berkepanjangan, maka warga akan saya ajak untuk menggelar salat istisqo. Termasuk juga, kami (Pemkab Pasuruan) akan memberikan surat ke ormas-ormas (keagamaan) yang anggotanya di desa-desa, untuk melaksanakan salat istisqo. Terutama di desa-desa dan kecamatan yang kekeringan dan krisis air bersih, memohon segera turun hujan,” ujar KH A Mujib Imron disela-sela mendistribusikan air bersih ke warga di Desa Kedungpengaron, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (11/10).
Terdapat 22 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Pasuruan yang kawasannya semakin mengering berada di Kecamatan Pasrepan, Lumbang, Winongan, Kejayan, Puspo, Gempol dan Lekok.
Dalam mengatasi hal tersebut, Pemkab Pasuruan mendistribusikan bantuan dua truk tanki air setiap harinya.
“Setiap desa yang mengalami kekeringan krisis air bersih, dijatah dua truk tangki setiap harinya. Utamanya untuk masak dan minum serta ibadah. Selain anggaran Pemkab Pasuruan, juga ada CSR (corporate social responbility) perusahaan. Distribusi air diatur, sehingga merata. Warga juga diedukasi untuk hemat air,” tandas Mujib Imron.
Tak hanya itu, Pemkab Pasuruan juga mengupayakan penyelesaian krisis air bersih secara permanen. Yakni dengan pembangunan pompa-pompa air.
“Sebenarnya di Desa Kedungapengaron ini sudah ada pompa airnya. Tapi rusak dan tidak segera melaporkan ke kami. Karena itu, kami akan segera memperbaikinya dan sekaligus menambah jaringan pipa yang ada. Untuk desa lain yang belum memiliki pompa air, juga akan segera dibangun,” kata Hanung Widya Sasangka, Kepala Dinas Pengairan dan ESDM Kabupaten Pasuruan.
Sementara itu, sejumlah desa lain, seperti di desa-desa di kecamatan Lumbang dan Winongan, akan mendapat air bersih dari kompensasi proyek SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Umbulan. Sedangkan anggarannya mencapai Rp 40 miliar dan 2019 beroperasi.
“Memang desa-desa di kecamatan Lumbang dan Winongan tidak mungkin mendapat air di lokasinya. Tapi, akan mendapatkan kompensasi dana APBN kompensasi SPAM Umbulan, fasilitas akan dipenuhi. Nantinya, air akan ditarik dari mata air Banyubiru. Anggarannya Rp 40 miliaran dan sekarang dikerjakan, 2019 nanti ditargetkan beroperasi,” tegas Misbah Zunip, Kepala Dinas PUPR, Kabupaten Pasuruan.
Perwakilan warga, sejak 3 bulan terakhir mereka mencari air bersih hingga ke luar dari desanya menempuh jarak hingga 5-6 kilometer. Lantaran suplai air dari pemerintah tidak cukup.
“Karena truk tangki dari pemerintah tidak datang, kami mencari air sendiri dari luar desa dengan jarak antara 5-6 kilometer,” kata Mardiah, salah satu warga Desa Kedungpengaron. [hil]

Tags: