Kampus Turunkan Relawan Medis dan Bantuan Logistik

Rektor UMSurabaya, Dr dr Sukadiono secara simbolis menyematkan jaket relawan kepada lulusan keperawatan tandai pelepasan keberangkatan relawan Palu-Donggala

Surabaya, Bhirawa
Peristiwa gempa dan Tsunami yang menelan ratusan korban jiwa di Palu dan Donggala direspon cepat oleh berbagai pihak. tidak terkecuali dari institusi pendidikan tinggi. Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), misalnya, yang mengirimkan empat relawan medis untuk menangani korban bencana dan tsunami.
Pemberangkatan ini, dilakukan kemarin (1/10) usai pelantikan lulusan perawat dan analisis.
“Kami kirimkan empat relawan yang basiknya dari medis. Dua dari dosen, dua berasal dari lulusan perawat. Nantinya, mereka akan bergabung dengan Muhammadiyah Disaster Managemen Centre (MDMC) Jatim,” ungkap Rektor UMSurabaya, Dr dr Sukadiono.
Pengiriman relawan ini, menurut, Sukadiono akan dilakukan bertahap di setiap minggunya. “Kita kirim tim berbeda setiap minggu tergantung kondisi atau kebutuhan disana. Untuk bisa jadi relawan pun, ini harus ada proses seleksi secara psikologis,” tutur dia.
Disamping mengirim bantuan relawan, UMSurabaya juga menggalang donasi yang terkumpul sebanyak Rp. 12 juta. “Donasi ini dari wali mahasiswa. Untuk jajaran dosen, staff dan mahasiswa in sha Allah besok kita lakukan,” papar dia.
Di tempat lain, Universitas Airlangga (Unair) mengirimkan Kapal Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk mengalihkan bakti sosial di kawasan Maluku Barat Daya menuju Donggala, Sulawesi Tengah untuk membantu korban tsunami dan gempa.
“RSTKA berangkat dari Alor menuju Makassar. Kami anggap Palu dan Donggala lebih membutuhkan bantuan. Sehingga kami putuskan untuk putar haluan menuju Donggala,” ujar Direktur RSTKA, Agus Harianto SpB.
Sebelumnya, sesuai dengan rencana, Agus menuturkan RSTKA akan fokus pada misi kemanusiaan dengan memberikan pelayanan dokter spesialis pada masyarakat yang tinggal di kawasan pulau-pulau perbatasan di kawasan Indonesia Timur. Misi ini sudah dimulai sejak 19 September dan berakhir pada 3 November 2018.
Pulau-pulau tersebut, sambung dia adalah Pulau Nusa Penida, Alor Lirang, Wetar, Kisar, Leti, Moa, Lakor, Luang Barat, Luang Timur, Sermata, Babar, Banda, dan terakhir Wakatobi. “Yang sudah dilakukan bakti sosial dengan lancar dan sukses yaitu Nusa Penida dan Alor,” lanjut Agus.
Sayangnya, misi tersebut harus berubah karena adanya gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. “Kami memuutuskan putar haluan menuju Donggala, yang membutuhkan penanganan cepat tanggap,” pungkas dia.

Tambah Relawan, MDMC Jatim Tunggu Instruksi Lapangan
Menjalin kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan tinggi Muhamadiyah termasuk juga Rumah Sakit Muhammadiyah, Muhammadiyah Disaster Managemen Centre (MDMC)Jatim dorong pengiriman relawan medis dan teknisi di Palu dan Donggala.
Ketua MDMC Jatim, Rofii untuk korban gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala pihaknya mengirimkan dua tim. Dua tim tersebut adalah, tim teknik SAR evakuasi dan tim SAR medis.
“Kami tempatkan para relawan ini di beberapa titik. Misalnya di RS Muhammadiyah Palu, Kampus Muhammadiyah Palu, kantor wilayah muhammadiyah palu untuk membuka poskoh pelayanan,” ungkap dia.
Pada pengiriman teknik SAR evakuasi, Rofii menuturkan mengirim dua mobil rescue yang berisi bahan bakar dan alat-alat teknik untuk perbaikan listrik dan sebagainya.
“Untuk tim kedua, ada 11 relawan kami yang terdiri dari dua dokter, empat perawat, dua SAR medis, satu wartawan dan dua managemen poskoh,” papar dia.
Dosen UMSurabaya ini juga memaparkan untuk tahap awal pihaknya akan melakukan evakuasi di sekitar poskoh di Palu dengan pendirian dapur umum dan melakukan pelayan medis. Sedangkan tim kedua, akan membuka poskoh di Donggala.
“Dari rekomendasi poskoh setempat (Palu-Donggala,red) kami diminta menyiapkan tenaga evakuasi, tenaga relawan khusus yang bisa mengurusi jenazah, tenaga teknik untuk perbaikan listrik dan komunikasi, kebutuhan pokok air, makanan siap saji, susu untuk anak-anak dan terpal yang saat ini mendesak diperlukan bagi mereka,” terang Rofii.
Rofii juga menambahkan, kebutuhan tim medis yang sebelumnya di tempatkan di Lombok harus terbagi dan dipindah tugaskan ke Palu.
“Setelah masa tanggap darurat selesai, tim psikososial dan trauma healing akan dikirim. Ini akan juga akan ada penambahan dari tim dokter,” tandas Rofii. [ina]

Tags: