Harga Telur Turun, Peternak di Kabupaten Jombang Merugi

Kondisi kandang dan ayam petelur milik M Nasir (51) di Dusun Bogem, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Jombang, Rabu (17/10). [Arif Yulianto/ Bhirawa]

Jombang, Bhirawa
Harga telur yang sekitar sebulan terakhir ini mengalami penurunan harga, membuat peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang mengalami kerugian. Menurut hitungan seorang peternak ayam petelur di Dusun Bogem, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang bernama M Nasir (51), tiap seribu ekor ayam dengan kapasitas produksi telur sebesar 70 persen, ia mengalami kerugian sekitar 200 ribu hingga 350 ribu rupiah.
Hal tersebut seperti dituturkan oleh M Nasir saat diwawancarai sejumlah wartawan di kandang miliknya, Rabu (17/10).
“Saya kira ini rugi, kalau produksi ayam 70 persen sudah rugi. Kecuali yang produksi 90 persen masih impas. Tapi untuk pembibitan sudah ‘ndak’ mampu, ‘ndak’ bisa membeli lagi untuk ayam DOC nya,” tutur M Nasir.
Nasir menambahkan, jika ayam petelur kapasitas produksinya sekitar 70 persen, dengan kondisi harga telur seperti sekarang ini, bisa dipastikan peternak mengalami kerugian, karena menurutnya juga, harga pakan juga mahal.
“Harga pakan sangat mahal, waktu kurs Dollar (Amerika) terhadap Rupiah itu 14. 500 rupiah dulu, sekarang 15.200 rupiah lebih, itu naiknya 600 rupiah per kilogram. Artinya, per saknya menjadi 30 ribu naiknya,” ujarnya.
Harga pakan yang naik tersebut, lanjut Nasir, tak sebanding dengan harga jual telur yang berada pada level 15.800 hingga 16.000 rupiah per kilogram.
“Umpama harga pakan tidak terlalu tinggi, saya kira dengan harga (telur) 16.000 rupiah (per kilogram) ini, peternak masih bisa bernafas, masih bisa melanjutkan kerjanya, kalau harga segini, sudah ‘ndak’ bisa lagi,” lanjutnya.
Masih menurut penjelasan M Nasir, harga telur mengalami penurunan sejak dua bulan terakhir dari titik awal sebesar 19.000 rupiah hingga 20.000 rupiah menjadi 15.600 hingga 16.000 rupiah. Selain harga turun, imbuh Nasir, permintaan pembeli juga mengalami penurunan beberapa waktu terakhir ini. Bahkan saat ini katanya, ada stock telur miliknya sejumlah 7,5 hingga 10 ton yang merupakan stock antara tiga sampai hari panen belum bisa terjual. Jika dalam kondisi penuh, kandang miliknya bisa terisi 80 ribu ekor ayam petelur, namun saat ini, ada sekitar 70 ribu ekor, karena ada sebagian kandang yang kosong. Kepada pemerintah, ia berharap agar nilai tukar Dollar Amerika terhadap Rupiah dapat diturunkan.
“Harapan saya agar pemerintah bisa menstabilkan nilai rupiah saja, sehingga harga (pakan) tidak terlalu tinggi. Karena konsentrat kandungan importnya kan sangat tinggi juga,” pungkasnya.(rif)

Tags: