Aksi Solidaritas Penggalangan Dana melalui Dongeng

Tergabung dalam komunitas “Surabaya Mendongeng” Kak Haris mengajak siswa SDN Ngagel I Surabaya dalam aksi solidaritas penggalangan dana korban bencana Gempa dan Tsunami di Palu-Donggala melalui Dongeng, Selasa (2/10).

Surabaya, Bhirawa
Menanggapi peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah komunitas “Surabaya Mendongeng” gelar aksi solidaritas di SDN Ngagel I Surabaya, Selasa (2/10). Aksi solidaritas ini merupakan rangkaian roadshow para pendongeng Surabaya untuk mengumpulkan donasi bagi korban bencana Palu-Donggala.
Pendongeng sekaligus Pustakawan, Haris Riski mengungkapkan roadshow penggalangan dana ini akan menyasar dilingkungan sekolah dasar baik negeri maupun swasta. Pihaknya ingin mengajak seluruh siswa SD untuk berbagi. Dalam kegiatan aksi solidaritas ini, komunitas “Surabaya Mendongeng” membawakan dua topik, yaitu tentang Indahnya Berbagi dan Bekerjasama.
“Kita ingin mneyadarkan anak-anak untuk perduli terhadap sesama. Itu yang kita tanamkan dalam diri anak-anak. Kita tanamkan mulai dini indahnya berbagi dan bekerjasama dalam membantu teman-teman kita yang sedang susah,” Tutur Haris.
Haris menjelaskan rencananya pada bulan November depan pihaknya tidak hanya menyalurkan bantuan dari penggalangan dana, melainkan juga bertugas dalam menghibur anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana.
“Kita ada sebelas tim yang akan terus menggalang dana. Masing-masing tim ini akan mendampingi anak-anak untuk pemulihan kondisi trauma melalui psikososial,” ungkap dia.
Roadshow dongeng yang baru dimulai untuk Palu-Donggala mengumpulkan donasi sekitar Rp580.500.
Sementara itu, Koordinator Kurikulum SDN Ngagel I, Pudji Winarsih mengapresiasi kegiatan aksi solidaritas ini.
“Kami bersyukur ada acara semacam ini. Kami sangat senang sekali karena tujuannya untuk melatih kepedulian anak-anak,” tutur dia.
Di manapun tempatnya, Pudji berharap siswanya bisa peduli kepada saudara-saudaranya yang mengalami bencana. “Apa yang kita punya selain doa? Meskipun sedikit kita harus peduli dengan siapapun. Tidak hanya materi tapi harus diamalkan,” papar dia. Sehingga, lanjut dia, nantinya ketika dewasa para sisiwa peduli dengan lingkungan sosial. Terlebih, saat ini era gadget yang membuat sisi individualis lebih dominan. Pihaknya menilai melalui pola pembelajaran mendongeng anak-anak lebih memahami pesan-pesan yang disampaikan. “Anak-anak lebih peka terhadap sesuatu ketika media penyampaiannya seperti ini,” sambung dia. Siswa kelas IV, Andrea Aileena menuturkan rasa keprihatinannya atas apa yang terjadi di Palu dan Donggala. Ia berharap dengan sedikit membantu para korban melalui materi, itu bisa membantu saudara mereka. [ina]

Tags: