150 Pemain Sepak Bola Ikuti Coaching Clinic

Kadispora Jatim, Drs Supratomo, MSi bersama 150 pemain sepak bola dari SSB Surabaya, Sidoarjo dan Madura mengikuti coaching clinic yang digelar oleh Dispora Jatim. [wawan triyanto]

Surabaya, Bhirawa
Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dispora) Jatim menggelar coaching clinic untuk pemain sepak bola usia muda. Kegiatan tersebut diikuti 150 pemain dari Sekolah Sepak Bola (SSB) dari Surabaya dan Madura.
Kepala Dispora Jatim, Drs Supratomo, MSi dihadapan peserta menjelakan kalau tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada para pemain tentang teknik bermain sepak bola dengan benar.
Seperti teknik menggiring, menyundul, mengumpang, mengontrol bola hingga menghentikan laju pergerakan lawan dengan sledding. “Untuk menjadi pemain sepak bola yang handal harus mengusai teknik dasar,” kata Supratomo saat ditemui di lokasi Jatim Fair yang digelar di Grand City Surabaya, Kamis (11/10).
Lebih lanjut Supratomo menjelaskan, pada usia muda pemain sepak bola tidak dituntut untuk selalu menang dalam pertandingan. “Dalam kurikulum internsional pesepak bola usia muda hanya dituntut untuk menguasai teknik, karena mereka berada di usia emas untuk belajar bermain sepak bola,” katanya.
Agar pengetahuan peserta bisa bertambah, pihak Dispora menghadirkan nara sumber mantan pemain Persebaya dan nasional Yusuf Ekodono, Dosen Unesa Imam Syafii, MKes dan pemain nasional Fandi Utomo.
Ditemui ditempat yang sama Imam Syafii mengatakan kegiatan ini diikuti oleh para pemain sepak bola dari SSB dari U12 hingga U15. Pada usia itu mereka dituntut untuk menguasai teknik sepak bola dengan benar agar bisa menjadi pemain profesional.
Namun ia mengakui saat ini masih ada beberapa kendala yang dihadapi para pemain, yakni harus memilih antara karir di sepak bola atau didunia pendidikan.
“Saat U15 sepak bola harus balance dengan pendidikan, namun begitu menginjak usia 17 tahun para pemain harus memilih antara berkarir di sepak bola atau pendidikan. Tapi ada banyak pemain yang bisa menjalani keduanya,” kata Imam Syafii.
Selain itu ia juga mengemukakan kalau kompetisi di U16 hingga U19 saat ini masih minim, padahal idealnya para pemain muda itu harus bertanding sebanyak 40 kali dalam setahun. Namun sebaliknya pada U14 banyak kompetisi baik tingkat regional maupun nasional.
“Itulah mengapa kita pemain Timnas U14 kita banyak memiliki prestasi, namun begitu masuk U16 hingga U19 sulit berprestasi di level internasional karena minim kompetisi di dalam negeri,” kata pria yang kini sudah memiliki tiga SSB itu. [wwn]

Tags: