Upsus Siwab Terintegrasi, Kendalikan Pemotongan Sapi Betina Produktif

Sapi-sapi milik peternak asal Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang saat ikut program Pelayanan Gratis UPSUS SIWAB.

Mengakselerasi Swasembada Daging Agar Tak Cuma Mimpi (Habis)
Pemprov Jatim, Bhirawa
Ada yang menyebut program swasembada daging sapi telah gagal. Pernyataan itu tak sepenuhnya salah, sebab hingga detik ini Indonesia masih impor sapi potong dari Australia dan Selandia Baru. Tapi pemerintah tak mau menyerah. Melalui program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), pemerintah ingin melakukan akselerasi swasembada daging sapi agar tak cuma mimpi.
Sebenarnya, keinginan berswasembada daging sapi sudah dimulai sejak 2000. Karena keprihatinan terhadap pertumbuhan ternak yang rendah dan impor daging sapi yang tinggi. Namun kondisi ini masih belum ditindaklanjuti dengan formulasi program yang terstruktur dan sistematis, serta masih sebatas wacana dan jargon-jargon pembangunan semata.
Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) adalah salah satu program yang dicanangkan Kementerian Pertanian RI, untuk mengakselerasi target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri.
Program tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016, tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting, yang ditandatangani Menteri Pertanian pada 3 Oktober 2016.
Program ini memiliki tujuan mewujudkan komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada daging yang ditargetkan tercapai pada 2026. Selain itu juga mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat. Untuk itu, Upsus Siwab akan memaksimalkan potensi sapi indukan di dalam negeri untuk dapat terus menghasilkan pedet.
Terdapat dua program utama dalam program Upsus Siwab ini. Yaitu peningkatan populasi melalui inseminasi buatan (IB) dan intensifikasi kawin alam (Inka). Kedua program utama tersebut merupakan upaya penerapan sistem manjemen reproduksi yang baik. Meliputi; pemeriksaan status reproduksi dan gangguan reproduksi, pelayanan IB dan kawin alam, pemenuhan semen beku dan N2 cair, pengendalian betina produktif, dan pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat.
Program Upsus Siwab yang menggunakan pendekatan peran aktif masyarakat ini terbilang berhasil. Untuk pelayanan inseminasi buatan dari Januari 2017 sampai Maret 2018 telah terealisasi sebanyak 4.905.881 ekor. Sedangkan sapi dalam kondisi bunting sebanyak 2.186.892 ekor dan kelahiran ternak sampai dengan Maret 2018 ini sebanyak 1.051.688 ekor.
Di Jatim, program Upsus Siwab mampu memberikan kontribusi besar terhadap nasional. Pada 2017, target inseminasi buatan di Jatim sebanyak 1.365.138. Angka ini memberikan kontribusi 33,13 persen dari target empat juta secara nasional. Begitu pula dengan kebuntingan, Jatim mampu memberikan kontribusi sebesar 38,22 persen atau sebanyak 1.146.716 dari target tiga juta secara nasional. Sedangkan untuk kelahiran, mampu memberikan kontribusi 43,75 persen atau 1.050.000 dari 2,4 juta target nasional.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim, drh Wemmi Niamawati MMA menuturkan, pada 2018 ini, Pemprov Jatim memiliki target tinggi dalam kontribusinya terhadap nasional. Seperti inseminasi buatan, Jatim menargetkan 43,20 persen atau 1.295.600 dari target 3 juta inseminasi buatan secara nasional. Sementara untuk kebuntingan, targetnya kontribusinya 43,58 persen atau 1.005.629 dari target nasional 2.307.794. Sedangkan kelahiran, targetnya sebanyak 43,72 persen atau 939.136 dari target nasional 2.148.048.
“Kita optimis target tersebut bisa terpenuhi bahkan melebihi. Sebab kita mempunyai SDM yang melimpah untuk mendukung percepatan peningkatan populasi sapi. Kita memiliki petugas inseminasi yang jumlahnya mencapai 1.436 orang, petugas pemeriksa kebuntingan 1.129 orang, petugas paramedik veteriner 636 orang dan dokter hewan 366 orang,” jelas Wemmi, saat dikonfirmasi, Senin (20/8).
Berkat terintegrasinya program Upsus Siwab, baik di tingkat pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota, realisasi kegiatan inseminasi buatan, kebuntingan dan kelahiran pada 1 Januari hingga 15 Agustus 2018 sangat memuaskan. Bahkan untuk inseminasi buatan, kini telah mencapai 101,5 persen atau 1.314.874 dari target. Dari jumlah ini, realisasi hingga 31 Desember 2018 untuk inseminasi buatan diperkirakan mencapai 140 persen dari target 1.295.600.
“Sedangkan untuk kebuntingan telah terealisasi 673.441 atau 67,1 persen dan kelahiran 398.505 atau 42,5 persen. Untuk kebuntingan dan kelahiran ini, kami yakin akan tercapai target 100 persen,” ungkapnya optimis.

Kendalikan Pemotongan
Tak hanya menggenjot upaya inseminasi butan, kebuntingan dan kelahiran, Dinas Peternakan Provinsi Jatim juga melakukan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dalam rangka mendukung Upsus Siwab ini. Karena akan sia-sia walaupun inseminasi buatan, kebuntingan dan kelahiran sukses, tapi sapi betina produktif tetap dipotong.
Menurut Wemmi, pengendalian pemotongan sapi betina produktif ini mempunyai beberapa tujuan. Pertama, menurunkan jumlah pemotongan betina produktif. Kedua, menambah atau mempertahankan jumlah akseptor Upsus Siwab melalui pencegahan pemotongan betina produktif yang tidak bunting dan ketiga, menyelamatkan kelahiran pedet melalui pencegahan pemotongan sapi betina produktif bunting.
Sasaran pengendalian pemotongan sapi betina produktif dilakukan di 19 kabupaten/kota. Terdiri dari enam kabupaten/kota utama meliputi; Bondowoso, Lumajang, Ponorogo, Sidoarjo, Kota Blitar dan Kota Surabaya. Lalu 13 kabupaten pendukung yakni; Situbondo, Banyuwangi, Jember, Magetan, Pacitan, Ngawi, Tulungagung, Gresik, Probolinggo, Blitar, Kediri, Mojokerto dan Malang.
“Kegiatan-kegiatan yang telah kami lakukan seperti sosialisasi dan advokasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pengawasan pemotongan sapi betina produktif dengan mekanisme pendampingan, pengawasan dan penindakan yang bekerjasama dengan Polda Jatim,” kata Wemmi.
Gencarnya upaya pengendalian pemotongan sapi betina produktif ini pun berhasil. Selama 2017, rumah potong hewan (RPH) telah menolak melakukan pemotongan sapi betina bunting sebanyak 486 ekor dan sapi betina tidak bunting berstatus produktif sebanyak 3.775 ekor. Sementara selama 1 Januari hingga 30 Mei 2018, sapi betina bunting yang telah ditolak sebanyak 96 ekor, dan sapi betina produktif tidak bunting sebanyak 452 ekor.
Kepala UPT Inseminasi Buatan Dinas Peternakan Provinsi Jatim, Dr drh Iswahyudi menambahkan, tingginya kontribusi Jatim terhadap kesuksesan swasembada daging menjadikan provinsi ini, mendapat alokasi paling banyak untuk program Upsus Siwab. Jumlahnya mencapai 43 persen dari nasional.
“Produksi semen untuk inseminasi buatan di Indonesia ada dua. Yaitu di Singosari, Malang dan di Lembang, Jawa Barat. Untuk di Singosari, diutamakan untuk wilayah Jatim. Kualitas semen ini pasti terjamin, karena sudah ada ISO untuk laboratoriumnya dan ISO untuk manajemennya. Semua diawasi oleh lembaga independen karena menyangkut mutu,” ujar Iswahyudi.
Pelayanan gratis Upsus Siwab seperti di Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, juga dilakukan di semua daerah. Metodenya ada dua, yaitu secara massal atau individual. Untuk massal, dilakukan secara berkala tidak bisa setiap waktu karena menyangkut pendanaan dan membutuhkan tenaga yang banyak.
Sementara untuk metode individual, bisa dilakukan sewaktu-waktu walaupun butuh waktu lama. “Setiap petugas mempunyai data lengkap. Seperti data sapinya Pak Rahmad telah dikawin suntik dua bulan lalu. Setelah dua bulan akan dicek keberhasilannya. Dengan perhatian yang begitu detail itu, makanya Jatim mampu berkontribusi besar terhadap kesuksesan swasembada daging nasional,” pungkasnya. [Zainal Ibad]

Tags: