Turunkan Relawan Guru, SAIM Bekali dengan PFA

Direktur SAIM Aziz Badiansyah memberikan pembekalan kepada puluhan guru relawan untuk korban gempa Lombok, kemarin (6/9).

Surabaya, Bhirawa
Sekolah Insan Alam Mulia (SAIM) Surabaya, akan turunkan 20 guru relawan dalam pendampingan trauma healing korban gempa Lombok. Para relawan nantinya, akan dibentuk secara tim untuk menyesuaikan kebutuhan yang ada di Lombok.
Diungkapkan Direktur SAIM, Aziz Badiansyah, pengiriman guru relawan SAIM merupakan bentuk kerjasama dengan Yayasan Seribu Senyum untuk membantu proses pemulihan secara psikologis dan sosial masyarakat dengan pendekatan Pshycological First Aid (PFA).
“Untuk pemulihan masyarakat Lombok, bantuan logistik saja tidak cukup. Tapi perlu juga penanganan secara psikologis. Memulihkan lagi kondisi sosial masyarakat sana. Itu nantinya tugas para relawan kami,” ungkap dia, kemarin (6/9).
Untuk pemulihan kondisi sosial sendiri, lanjut dia, bisa bersifat sementara dan cepat dilakukan. Misalnya pembangunan sekolah, mushollah dan rumah-rumah yang tahan gempa. Di samping itu, pihaknya juga akan fokus untuk memunculkan sikap optimis dalam diri korban.
“Dengan tim yang berbeda setiap minggunya, para guru relawan kami akan membantu mereka dalam memberikan semangat dan motivasi. Tentu saja ini bisa dikembangkan. Membentuk komunitas sosial masyarakat yang baru. Ini yang ingin kita atur kembali,” ujar dia.
Gelombang pertama yang akan diberangkat pada September iini akan melanjutkan proses observasi yang sebelumnya sudah dilakukan pihak Yayasan Seribu Senyum dalam menganalisa kebutuhan lapangan.
“Kita butuh analisa pemetaan data. Apa yang dibutuhkan para korban itu yang akan kita bentuk dalam tim ini,” ujar dia.
Ada lima program yang nantinya menjadi target bagi relawan SAIM untuk diselesaikan. Seperti penangangan pertama masalah psikologi, penataan perkampungan, penataan sekolah, penataan tempat ibadah, dan membangun perekonomian.
“Program ini kita rancang selama tiga bulan. Kita juga memikirkan bagaimana cara membentuk kembali pribadi mereka yang berdirikari. Karena kita tidak mau mereka terlena dengan penerimaan berbagai bantuan sehingga menjadikan mereka malas,” papar Aziz.
Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia (UI) yang juga menjadi pemateri pembekalan, Asep Haerul Ghani mengatakan jika pasca terjadinya gempa Lombok, para korban akan mengalami critical incedent stress. Pada kondisi tersebut, para relawan harus melakukan pendekatan melalui fisik, pikiran, relasi sosial, dan perasaan.
“Mereka mengalami gangguan secara psikologi. Peran-peran mereka juga pasti terganggu. Nah ini tugas kami untuk bisa membangkitkan penguasaan diri mereka,” kata laki-laki yang kerab di sapa Kang Asep ini. Misalnya, sambung dia, menyelesaikan masalah pribadi kedalam sebuah kelompok. “Apa yang membuat mereka stress itu yang nantinya kita angkat. Dengan begitu mereka tidak akan merasa sendiri. Kita damping mereka untuk bisa do something (melakukan sesuatu,” tandas dia. [ina]

Tags: