Tingkatkan DPLK, Manulife Bidik Perusahaan di Provinsi Jawa Timur

Direktur & Chief Employee Benefits Manulife Indonesia, Karjadi Pranoto (tengah) saat menjelaskan pentingnya perusahaan memberikan DPLK kepada karyawannya di Hotel Shangrilla Surabaya, Kamis (20/9) kemarin. [achmad tauriq/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Untuk meningkatkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), Manulife Indonesia mulai mengekspansi bisnis asuransi di area Jatim dengan membidik perusahaan-perusahaan yang ada di Jatim untuk menjadi nasabahnya.
Direktur & Chief Employee Benefits Manulife Indonesia, Karjadi Pranoto saat dikonfirmasi Bhirawa disela-sela Sosialisasi di hotel Shangrilla Surabaya, Kamis (20/9) kemarin mengungkapkan potensi di Jawa Timur masih sangat besar, pihaknya yakin Manulife mampu berkembang dengan baik.
“Saat di Jatim perusahaan yang menggunakan jasa Manulife untuk berasuransi cukup besar, mereka berasal dari perusahaan media, properti, transportasi dan manufaktur. Keberadaan mereka menyumbang cukup besar nominal asuransi secara nasional, karena data Manulife menyebutkan jumlah asuransi DPLK sebesar Rp15,3 triliun, dari 1.800 perusahaan dengan 500 ribu peserta,” terangnya.
Karjadi Pranoto menambahkan bahwa jumlah tersebut telah dibagi menjadi dua jenis asuransi DPLK, pertama pensiun pasti dan kedua pensiun kompensasi. DPLK pasti atau pensiun pasti sudah mencatatkan jumlaha asuransi sebesar Rp9 triliun, sedangkan DPLK kompensasi pesangon sebesar Rp6 triliun.
“Jadi jumlah asuransi DPLK yang sudah ditangani Manulife sekitar Rp15 triliunan,” tandasnya.
Sedangkan untuk melihat perkembangan selanjutnya, Manulife akan fokus pada sektor korporasi. Sebab, kerjasama dengan korporasi lebih menjanjikan, karena pemotongan biaya asuransi langsung dilakukan perusahaan. “Untuk itu, perlu dilakukan edukasi secara berkelanjutan supaya pengusaha mampu untuk mengerti betapa pentingnya asuransi DPLK,” ujarnya.
Apalagi, sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13/2003, khususnya pasal 167, melalui Program DPLK perusahaan harus memenuhi kewajiban sebagai pemberi kerja kepada karyawannya. Dengan begitu, perusahaan mampu mengantisipasi jika ada karyawan yang memasuki masa pensiun atau keluar dan membutuhkan pesangon.
“Kami akan terus berupaya meningkatkan aset kelolaan, menggelar edukasi mengenai peranan dana pensiun bagi perusahaan serta memberikan pelayanan unggul yang didukung oleh layanan demi kenyamanan peserta. Kami pun siap untuk melayani perusahaan-perusahaan yang ingin menyediakan program pesangon bagi karyawannya,” terangnya.
Sementara itu sesuai dengan data Otoritas Jasa keuangan (OJK) 2017 menyebutkan jumlah peserta DPLK di tahun 2017 tercatat sebesar 3.055.617 pekerja. Itu untuk jumlah pekerja sektor formal yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 sebanyak 73,98 juta orang. Dengan demikian, dari data ini hanya ada sekitar 4% pekerja formal yang tergabung melalui kepesertaan DPLK.
“Melihat persentase yang rendah dari kepesertaan karyawan dalam dana pensiun, kondisi ini menjadi peluang dan potensi bagi DPLK Manulife Indonesia untuk terus menggarap pasar tersebut dan secara berkala melakukan sosialisasi peranan dana pensiun guna membangun kesadaran para pemberi kerja,” pungkas Karjadi Pranoto.
Pengelolaan dana pensiun merupakan nilai tambah bagi perusahaan, sehingga mereka tidak hanya menjadi perusahaan yang memberikan manfaat keuangan secara regular, namun dapat memberikan manfaat kesejahteraan jangka panjang untuk karyawannya di masa depan maupun sebagai antisipasi terhadap risiko di kemudian hari, seperti terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan.
Melalui program DPLK, beban perusahaan atau pemberi kerja untuk membayar sejumlah dana yang besar saat pekerja pensiun akan berkurang sehingga tidak mengganggu arus kas atau perusahaan. Tentunya, DPLK juga dapat menjadi solusi yang lebih baik sehingga perusahaan dapat membayarkan kewajiban dana pensiun secara bertahap sejak dini kepada karyawan melalui DPLK. [riq]

Tags: