Terbukti Bobol Server UNBK, Keny Divonis 1,5 Tahun Penjara

Keny Erviati (kanan), terdakwa dugaan perkara pembobolan server UNBK di SMPN 54 mendapat vonis 1,5 tahun di PN Surabaya, Senin (24/9).[abednego/bhirawa]

PN Surabaya, Bhirawa
Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Sifa’urosidin menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan penjara terhadap Keny Erviati, Senin (24/9). Mantan Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 54 Surabaya ini terbukti bersalah atas dugaan perkara pembobolan server komputer Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMPN 54.
Majelis Hakim Sifa’urosidin menyatakan Keny Erviati terbukti secara sah melawan hukum sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 46 Ayat (2) Jo Pasal 30 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
Sebelum menjatuhkan putusan, Hakim Sifa’ membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan merusak pembinaan generasi muda. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum dan mengakui perbuatannya.
“Menjatuhkan pidana selama 1 tahun 6 bulan penjara dikurangi masa hukuman,” kata Majelis Hakim Sifa’urosidin dalam amar putusannya, Senin (24/9).
Sementara itu, dua terdakwa lainnya, Imam Setiono dan Teguh Kartono divonis Majelis Hakim pidana satu tahun penjara. Vonis ketiga terdakwa ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf Akbar Amin. Sebelumnya, JPU menuntut terdakwa Keny Erviati dengan pidana selama tiga tahun penjara.
Sedangkan terdakwa Imam Setiono dan Teguh Kartono dituntut 1 tahun 6 bulan penjara. Tuntutan yang lebih ringan terhadap kedua terdakwa ini karena perannya sebagai pembantu Keny dalam perbuatan tindak pidana.
Menanggapi putusan Majelis Hakim, Jaksa Yusuf Akbar Amin mengaku masih pikir-pikir untuk mengajukan banding. Dia berdalih akan menyampaikan putusan tersebut pada pimpinan. “Saya sampaikan dulu putusan ini pada atasan. Baru setelah itu kami akan pertimbangkan untuk mengajukan banding,” ucapnya disambut ketukan palu Majelis Hakim, tanda berakhirnya sidang.
Kasus ini bermula pada Kamis, 26 April 2018 saat itu saksi Muhamad Aries Hilmi, saksi Sudarminto, saksi Ali dan saksi Harun yang bertugas memantau pelaksanaan UNBK datang ke SMPN 54 Surabaya. Saat itu para saksi melihat ruangan di samping kelas yaitu Laboratorium IPA ada aktivitas mencurigakan.
Selanjutnya para saksi melihat satu unit komputer dalam keadaan menyala dan berisi aplikasi WhatsApp. Di mana pada aplikasi tersebut ditemukan foto-foto soal UNBK yang mestinya tidak dapat diakses di luar ruangan kelas yang digunakan untuk ujian UNBK. Selain itu, para saksi juga melihat telah dilakukan pemotretan terhadap layar komputer tersebut dan kemudian dikirimkan kepada seseorang.
Kemudian para saksi melaporkan hal tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Dan berlanjut pada laporan ke Polrestabes Surabaya. Oleh Polrestabes Surabaya, tersangka Keny (Kepsek SMPN 54) yang juga pemiliki Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Excellent Study Club (ESC) ini ditetapkan sebagai tersangka beserta tersangka sebelumnya, yakni Imam Soetiono dan Teguh Kartono. [bed]

Tags: