Tahun Baru Adat Budaya

Perayaan tahun baru 1 Syuro (1 Muharram 1440 Hijriyah), sudah akan dimulai malam nanti. Kebo bule (kerbau putih), keturunan (kerbau keraton Surakarta, kyai Slamet) telah disiapkan. Arak-arakan menandakan dimulainya awal kalender awal tahun. Berbagai kerajaan di Indonesia menggelar pesta adat, menjamu rakyat. Awal bulan Syura menandai tahun baru adat, sekaligus tahun baru hijriyah (Islam). Adat budaya bersendi syara’ (ajaran agama).
Perayaan grebek Suro, telah dijadikan agenda wisata berskala internasional, terdaftar sebagai bulan kunjungan Indonesia. Kebo bule, hadiah dari bupati Ponorogo, merupakan hewan kesayangan raja Pakubuwono II. Dinamakan kyai Slamet, karena digunakan sebagai kavaleri pengangkut pusaka bernama kyai Slamet. Sesuai adat Jawa, seluruh barang berharga milik kerajaan diberi nama dengan sebutan kyai.
Kerbau kyai Slamet dulu, juga memandu raja untuk mencari lahan dalam rangka pemindahan keraton Kasunanan Pakubuwana. Itu mencontoh peristiwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW mencari lokasi untuk pembangunan masjid Nabawi di Madinah, dipercayakan kepada onta Nabi SAW. Kebo bule saat ini, diperkirakan turunan ke-100 dari kerbau pertama (tahun 1725).
Ketika gajah telah sulit dicari, maka kerbau memiliki fungsi strategis. Selain sebagai ikon kavaleri, juga menjadi pengawal rombongan kerajaan untuk setiap acara kirab. Karena itu keraton Pakubuwanan tetap me-mulia-kan kebo bule. Tidak pernah dijual, juga tidak pernah dikonsumsi. Harus diakui, kebo bule memiliki magnitude sebagai “bintang utama” ke-wisata-an.
Pada malam hari 1 Muharram, mayoritas suku-suku di Indonesia merayakan pesta adat, grebek Suro. Bukan hanya di pulau Jawa, melainkan juga di Ternate (Maluku Utara), Lombok, Deli Serdang, serta di Sulawesi bagian selatan. Umumnya, grebek Sura merupakan pengungkapan rasa syukur kepada Allah. Sekaligus memohon keberkahan pada tahun (baru) yang akan dijalani. Maka selain pesta, biasanya juga disertai doa, serta ajang muhasabah (mawas diri).
Di kesultanan Ternate (Maluku Utara), grebek Sura, dijadikan sebagai waktu untuk memotong rambut mahkota raja. Selain bertabur mani-manik permata dan batu mulia, mahkota raja Ternate juga dilengkapi rambut asli. Uniknya, rambut di mahkota terus tumbuh. Sehingga harus dipotong, sekali setahun pada awal bulan Suro. Setelah itu, raja Ternate menjamu rakyat memakai mahkota yang telah rapi, ber-gemerlap permata.
Berbagai pusaka kerajaan yang berupa senjata tajam milik pejabat kerajaan (keris, tombak, panah, mandau, dan sejenisnya) disucikan. Di Yogyakarta, grebek Sura, juga disertai adat mubeng beteng seluruh abdi dalem. Yakni berjalan sejauh 4 kilometer mengelilingi kompleks keraton, tanpa bersuara. Simbol kesetiaan abdi dalem terhadap raja yang dimuliakan.
Perayaan grebek Suro, memang adat bersendi syara’. Tradisi ini diperingati dengan beragam seni budaya. Pada suku Jawa dan Sunda misalnya, dilakukan kungkum (berendam) di sungai besar, danau atau sumber mata air tertentu. Sembari mandi kembang. Selain itu juga dilakukan tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan perenungan diri sambil berdoa.
Tradisi grebek Sura bermula saat zaman kerajaan Mataram Islam, diperintah oleh Mas Rangsang atau Sultan Agung (abad ke-17). Di bawah kekuasaannya kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaan. Pengaruh besar raja digunakan untuk memperluas syiar Islam. Diantaranya memadukan kalender Hijriyah yang berlaku pada kawasan pesisir utara dengan kalender Saka yang digunakan rakyat di pedalaman.
Grebek Sura, seyogianya menjadi pencerahan keguyuban sosial. Meneguhkan adat budaya bersendi ajaran agama. Saling mendukung. Masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan sosial. Hajat seni budaya juga dapat mempersatukan berbagai kelompok masyarakat, yang terpecah akibat pilihan politik yang berbeda.

——— 000 ———

Rate this article!
Tahun Baru Adat Budaya,5 / 5 ( 1votes )
Tags: