Ratusan Pedagang Pasar Wage Nganjuk Direlokasi

Ratusan pedagang Pasar Wage Nganjuk membongkar kios lama mereka dan pindah ke lokasi yang baru. [ristika]

Nganjuk, Bhirawa
Sekitar 800 pedagang Pasar Wage Nganjuk telah membongkar kios lama miliknya dan memindahkan barang dagangannya ke kios yang baru. Relokasi pedagang Pasar Wage, merupakan program lama Pemkab Nganjuk yang kerap kali tersendat.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Nganjuk telah mendata jumlah pedagang di pasar lama. Total ada sekitar 800 pedagang yang siap pindah setelah mereka mengikuti undian lokasi kios.
Kepala Disperindag Kabupaten Nganjuk Heni Rochtanti mengatakan, 850 orang merupakan pedagang yang sekarang berjualan di Pasar Wage lama. Lokasinya di tembusan Jl Dermojoyo. Batasannya mulai sebelah selatan kantor pasar.
Lebih jauh Heni mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi pedagang agar mereka bisa direlokasi ke pasar baru. Salah satunya, setiap pedagang dianggap hanya memiliki satu kios. Praktiknya, banyak pedagang di Pasar Wage yang memiliki lebih dari satu kios. Satu kios ditempati dan sisanya disewakan. Disperindag, lanjut Heni, juga mempertimbangkan pedagang yang benar-benar berjualan. Karenanya, pemilik kios yang tidak lagi berjualan akan dikroscek. “Kami merelokasi pedagang yang benar-benar berjualan di pasar,” tandas Heni.
Untuk menentukan jumlah pedagang dan memudah pengaturan, lanjut Heni, Disperindag juga mengelompokkan pedagang sesuai jenis dagangannya. Yakni, meliputi pedagang sayur dan buah, pakaian, pracangan, mainan dan warung.
Untuk diketahui, Disperindag hanya akan merelokasi pedagang di Pasar Wage II. Sedangkan pedagang di Pasar Wage I tetap menampati pasar lama. Jumlah pedagang Pasar Wage I diperkirakan sekitar 200 orang. Keputusan hanya memindah pedagang di Pasar Wage II dilakukan karena pertimbangan jumlah kios di pasar baru. Berdasar hitungan Disperindag, kios yang siap ditempati kurang dari 800 kios.
Sementara itu beberapa pedagang Pasar Wage yang ditemui Bhirawa saat membongkar kios lama mengaku sedih. Pasalnya mereka rata-rata sudah berdagang di Pasar Wage sudah lebih dari 20 tahun. Dengan menempati lokasi baru, para pedagang khawatir kehilangan pelanggan karena kiosnya yang berpindah. “Saya sudah 20 tahun berjualan baju, sekarang harus pindah. Pasti pelanggan-pelanggan akan kebingunan mencari kios saya,’ ujar Tomi, salah satu penjual pakaian.
Keluhan Cristian, salah satu pedagang soal akses menuju pasar baru masih belum memadai. Sehingga, mengganggu, baik bagi calon pembeli maupun para pedagang yang akan masuk pasar baru. Lebih-lebih, bagi kendaraan yang biasa bongkar muat dagangan, jauh dari kios miliknya. “Lokasi kios pecah belah terlalu ke dalam, sehingga kurang strategis untuk berjualan. Kalau di pasar lama, karena lokasinya berada di tepi jalan, baik pedagang maupun pembeli sama-sama enak, tidak terlalu jauh,” keluh Cristian, pedagang yang setiap hari berjualan barang pecah belah.
Meski demikian, Tomi, Cristian dan ratusan pedagang yang lain tidak dapat berbuat banyak dan tetap mematuhi kebijakan pemerintah. Karena memang seluruh kios Pasar Wage merupakan aset dan milik Pemkab Nganjuk sementara para pedagang hanya memiliki hak untuk menggunakan. [ris]

Tags: