Raih Tiga Medali, Kado di Hari Kemerdekaan

Natalie

Natalie
Sempat menjadi kandidat atlet Asian Games 2018 cabang olahraga (Cabor) Wushu, Mahasiswa Program Kekhususan Multimedia Jurusan Teknik Informatika Universitas Surabaya Natalie akhirnya sukses borong tiga medali dalam kejuaraan Dunia Wushu Antar Universitas, FISU World University Wushu Championship di Macau, China pada 2-5 Agustus 2018 lalu.
Dalam kejuaraan ini, Natalie bermain dalam disiplin Taolu (seni) dan berkompetisi untuk tiga nomor, yaitu tinju utara (tangan kosong), pedang dan tombak. Sedangkan ketiga medali yang disumbangkan adalah dua emas pada nomor tinju utara dan pedang. Sementara medali perunggu di raih dalam nomor tombak.
“Saya sudah berlatih semaksimal mungkin untuk semua nomor. Tapi memang untuk nomor tombak antara irama dan teknik gerakan harus menarik. Sesuai dengan ketukan. Di samping itu, saya lihat atlet Jepang sendiri lebih power full pada nomor tombak,” papar dia.
Meskipun namanya belum menjadi punggawa utama dalam jajaran atlet Asian Games 2018 ini, namun Natalie cukup puas atas raihan medali yang ia dapatkan pada kejuaraan dunia Wushu Championship 2018.
“Saya harus bekerja keras lagi untuk bisa masuk pada jajaran atlet Asian Games. Terlepas dari itu saya nggak nyangka dapat medali ini. Saya merasa bangga sekali. Karena di saat yang bersamaan capaian ini mendekati hari kemerdekaan. Ini seperti kado istimewa untuk negara,” ungkap perempuan yang pernah meraih medali perunggu kategori beregu dalam Sea Games Myanmar 2013 ini.
Putri kedua dari Yongky Tanasa dan Fanny Wahyuni merupakan salah satu dari tujuh atlet Wushu Indonesia yang dikirim dalam kejuaraan Dunia Antar Universitas. Para atlet yang mewakili Indonesia dalam FISU World University Wushu Championship, merupakan mahasiswa aktif di masing-masing Universitasnya yang sebelumnya meraih kemenangan pada Kejuaraan Nasional Wushu Piala Raja di Yogyakarta, Maret lalu.
Pemusatan latihan sendiri, diakui Natalie dilakukan di China secara intensif selama satu Bulan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk mematangkan persiapan yang sebelumnya sudah dilakukan di Indonesia.
“Total persiapan kami terhitung tidak lama. Kurang lebih satu bulan. Satu bulan awal di Pelatnas. Kemudian di China untuk lebih maksimal,” ungkap mahasiswa kelahiran Surabaya, 22 desember 1993.
Kedepan, ia mengaku fokus dalam mempersiapkan PRA PON 2019 dan berkomitman menampilkan yang terbaik.
“Saya sadari jika kegagalan mungkin saja bisa terjadi di setiap pertandingan. Tapi saya tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Saya main saja berikan yang terbaik dalam segala kesempatan,” harap perempuan berusia 25 tahun ini. [ina]

Tags: