Pemikiran Ahmad Wahib Menurut Faisal Ismail

Judul : Polemik Pembaruan Pemikiran Islam Ahmad Wahib
Penulis : Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A.
Penerbit : Basabasi
Cetakan : 1 Maret 2018
Tebal : 262 Halaman
ISBN : 9786026651860
Peresensi : Faiqur Rahman,
Mahasiswa Perbandingan Madzhab UIN SUKA serta aktif di Lesehan
Kepenulisan Garawiksa Institute Yogyakarta (LKGIY) 

Ahmad Wahib adalah seorang penulis catatan harian, yang memiliki tema bervariasi. Yaitu, membahas tentang masalah kemahasiswaan, keilmuan, politik, bahkan sampai keagamaan (Islam). Pemikiran-pemikiran yang ia tulis dalam catatan hariannya pernah diterbitkan atas upaya Djohan Effendi dan Ismed Natsir dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam (PPI). Sejak pertama kali diterbitkan, buku tersebut diminati banyak orang terutama bagi para mahasiswa. Sehingga kemudian buku itu dicetak berkali-kali, bahkan sampai enam kali cetakan.
Catatan harian Ahmad Wahib dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam membuat dahi pembaca berkerut, terutama bagi mereka yang fanatisme terhadap Islam. Seperti yang tertulis dalam catatan hariannya bahwa “kadang-kadang hatiku berpendapat bahwa, dalam beberapa hal ajaran Islam itu jelek. Jadi ajaran Allah dalam beberapa bagian itu jelek dan beberapa ajaran manusia, yaitu manusia-manusia besar, jauh lebih baik”.
Faisal Ismail penulis buku Polemik Pembaruan Pemikiran Islam Ahmad Wahib ini memberikan tanggapan tentang hal tersebut bahwa, ungkapan wahib itu tidak jelas adanya. Jadi, Wahib baru sampai pada “asumsi” (yang tidak benar) dan bukan “konklusi”. Kalau asumsi-asumsi Wahib itu sudah tidak benar sejak awal, maka dapat dipastikan semua hasil pemikirannya akan berantakan. Wahib memberikan pernyataan, namun tidak menyertakan bukti tentang pernyataannya tersebut. Ia hanya mengandalkan akal bebasnya, tanpa berpikir dua kali apa yang akan terjadi setelahnya. Hal ini tentunya perlu disangga agar citra Allah dan ajaran-Nya dapat di tempatkan pada kesempurnaan-Nya. (Halaman 65-66).
Selain itu, Ahmad Wahib juga mencatat tentang kerasulan Nabi Muhammad. Ia menyatakan bahwa sunnah Nabi Muhammad SAW. tidak berlaku abadi. Dengan akal bebasnya, Wahib senantiasa menjadikan apa yang ia yakini sebagai kelemahan atau kekurangan agama Islam. Ia menelaah lebih dalam lagi tentang hal-hal yang disampaikan Nabi. Namun, Faisal Ismail tidak tinggal diam dengan pernyataan-pernyataan yang di tulis oleh Ahmad Wahib. Beliau mengkritisi tanpa ada bantahan lagi dari Wahib, sebab beliau sudah meninggal pada tanggal 31 Maret 1973 M.
Pernyataan Ahmad Wahib yang dikutip dalam buku PPI oleh Faisal Ismail dan tertera dalam buku ini pada halaman 150 ialah bahwa, Andai kata jabatan duniawi Nabi Muhammad adalah filsuf, cukuplah alasan bagi kita untuk menerima langkah-langkah dan kata-katanya itu sebagai sesuatu yang berlaku abadi atau setidak-tidaknya hampir abadi. Tetapi, karena jabatan duniawinya adalah pemerintahan, bahkan juga panglima perang, maka kita tidak mungkin berpikir demikian. Jenis-jenis jabatan duniawi yang dipegang beliau menghadap beliau pada masalah-masalah konkret zamannya atau umatnya, yang kepadanya beliau harus memberikan pendekatan dan jawaban-jawaban yang konkret pula.
Faisal Ismail memberikan kritikan dari beberapa poin tentang kalimat tersebut. Pertama, pengandaian Ahmad Wahib tentang Nabi Muhammad adalah seorang filsuf merupakan pengandaian yang tidak benar adanya. Sebab, Nabi Muhammad sudah jelas benar adanya bahwa beliau adalah utusan Allah SWT. yang memiliki tugas untuk menyampaikan pesan-pesan berisi mutiara hikmah bernilai tinggi, serta mengandung nilai-nilai falsafah-ilahiah.
Kedua, kedudukan filsuf lebih tinggi dari pada kedudukan Nabi Muhammad. Dalam menanggapi pernyataan tersebut, Faisal Ismail berpendapat bahwa pernyataan Ahmad Wahib tentang hal tersebut salah besar jika mengunggulkan filsuf dan merendahkan Nabi Muhammad SAW. Karena tugas Nabi adalah menjalankan segala apa pun yang diwahyukan oleh Tuhan kepadanya. Dan tugas ini merupakan suatu hal paling mulia serta lebih penting dari pada filsuf.
Ketiga, menurut jalan pemikiran Ahmad Wahib menyatakan bahwa, karena jabatan duniawi Nabi Muhammad bukan sebagai filsuf, melainkan sebagai kepala pemerintahan dan panglima perang, maka langkah-langkah dan kata-kata-katanya tidak berlaku abadi. Adanya hal ini, menurut Faisal Ismail, sudah menandakan tentang kecerobohannya terhadap Islam dan hal itu hanya omong kosong saja. Sebab sudah sangat jelas bahwa apa yang dilakukan dan yang diajarkan oleh Nabi berasal dari Tuhannya. Al-Quran dan Al-Hadits adalah pedomannya hingga akhir zaman. (Halaman 152).
Buku yang berjudul Polemik Pembaruan Pemikiran Islam Ahmad Wahib ini, mengajak kita untuk berpikir jernih dan kritis dalam menanggapi sebuah ide, gagasan, dan sebuah pemikiran. Dari per bab, memiliki pembahasan yang terperinci sehingga memudahkan para pembaca dalam memahami, walaupun perlu membaca dua kali untuk berpikir. Buku ini memberikan penawaran cara berpikir dan sudut pandang yang berbeda dari pemikiran Ahmad Wahib yang di paparkan dalam bukunya.

———— *** ————

Tags: