Mencetak Wirausahawan Muda

Oleh:
Almas Qisthi
Mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap Prodi D3 Teknik Informatika

Di era milenial saat ini Indonesia berada dalam keadaan jumlah penduduk muda yang populasinya semakin tinggi tiap tahunnya. Keadaan itu disebut dengan bonus demografi. Apa itu bonus demografi?Bonus demografi yaitu kondisi di mana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif.Bonus demografi harusnya memberikan kesempatan emas untuk Indonesia.
Sudah saatnya, Indonesia dapat mengandalkan industri jasa serta manufaktur untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Bisa juga, menggairahkan agrobisnis dan sektor kemaritiman. Seperti yang diketahui kekuatan alami negara terbesar keempat di dunia ini (Tribunnews.com).
Namun melihat keadaan sekarang yang terjadi adalah banyaknya pemuda yang justru termotivasi untuk bekerja di perkotaan dan meninggalakan desa mereka yang menyimpan sejuta potensi.Penelitian tahun 2015 menyebutkantotal perantau tertinggi di Indonesia berasal dari Jawa Tengah yakni 6.5 juta, disusul Jawa Timur 3.8 juta, Jakarta 2.7 juta, Jawa Barat 2.3 juta, Sumatera Utara 2.2 juta, Sulawesi Selatan 1.4 juta, dan terakhir Sumatera Barat 1.1 juta (TUMOUTOUNEWS.html). Terlihat jelas bahwa Jawa Tengah menduduki peringkat pertama untuk tingkat perantau yang melakukan migrasi, dengan alasan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada mereka bekerja di desa.
Seiring berjalannya waktu keadaan ini justru menjadi rutinitas yang seolah sudah sangat melekat terhadap jiwa pemuda yang baru saja lulus Sekolah Menengah Atas/ Kejuruan untuk bekerja di perkotaan dengan harapan mendapat UMR (Upah Minimum Regional) yang lebih tinggi dibanding desa mereka.
Tentu saja mereka akan mendapat gaji yang lebih tinggi dibanding mereka harus bekerja di desa. Sebenarnya keadaan tersebut boleh-boleh saja asalkan mereka dapat kembali ke desa dan membangun desa tersebut. Namun hal itu sulit kendalikan, dampaknya desa menjadi sepi, banyak sekali sektor pekerjaan di desa yang terbengkalai. Pada akhirnya desa mereka tidak lebih maju bahkan cenderung tidak mengalami perkembangandikarenakan pemudanya banyak yang bekerja di kota-kota besar. Alangkah baiknya jika pemuda dibekali jiwa berwirausaha agar dapat berkembang serta peningkatan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Harapannya, tak ada lagi tenaga terampil yang menganggur (Tribunnews.com ).
Pada kesempataan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana mencetak wirausahawan muda. Apa itu wirausaha? Apa yang akan dijadikan topik untuk wirausaha? Mungkin itu beberapa hal yang kita pikirkan saat akan memulai suatu usaha. Marilah simak penjelasan saya.Ada beberapa pendapat menurut para ahli tentang wirausaha yaitu:
“Raymond W.Y.KAO berpendapat bahwa wirausaha adalah orang yang mampu menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi realita”.
“Schumpeter berpendapat bahwa wirausaha merupakan inovator yang tidak selalu menjadi inventor (penemu)”.
“Syamsudin suryana berpendapat wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar, kepemimpinan yang lugas, kreatif dan menghasilkan inovasi, serta berorintasi pada masa depan”.
Dari beberapa pengertian tentang wirausaha saya mengambil kesimpulan bahwa wirausaha adalah seseorang yang memiliki karakteristik percaya diri, kreatif, konsisten, berorientasi pada tugas dan hasil hingga mampu merealisasikan gagasan ke dalam dunia nyata.
Dalam pembahasan kali ini saya akan menggambarkan kondisi yang terjadi di suatu desa akibat banyaknya pemuda yang memilih bekerja di perkotaansebenarnya desa tersebut menyimpan sejuta potensi namun justru terbengkalai.
Desa Pesanggrahan merupakan desa kecil yang terletak di kecamatan Kroya, kabupaten Cilacap Jawa Tengah, ya itulah nama desa yang sebenarnya menyimpan sejuta potensi untuk lebih maju dari sebelumnyadan sekarang malah dibiarkan terbengkalai. Mayoritas penduduk desa tersebut bekerja di kota-kota besar yang ada di Indonesia dan tidak sedikit yang memilih bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia.
Pembaca yang budiman mungkin kalian bertanya-tanya mengapa saya mengatakan desa ini terbengkalai? Marilah simak penjelasan saya.Desa Pesanggrahan merupakan desa yang sangat terkenal dengan petani air nira. Dahulu petani nira banyak ditemukan, karena memang itu adalah mata pencaharian utama masyarakat desa tersebut. Sehingga desa tersebut mendapat julukan desa penghasil nira di kecamatan Kroya karena memang kualitasnya yang bagus.
Seiring berjalannya waktu sudah semakin jarang menjumpai petani nira di desa tersebut hingga menyebabkan sulitnya mencari gula merah murni dan harga yang melambung tinggi. Harga yang melambung tinggi disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tidak adanya regenerasi para petani nira. Harusnya pemerintah melakukan penyuluhan betapa pentingnya petani nira untuk menghasilkan gula merah yang berkualitas untuk memajukan desa itu sendiri.
Saya berpendapat untuk mencetak wirausahawan muda diperlukan kerja keras dari berbagai pihak, adanya roda penggerak semangat bagi pemuda untuk menciptakan motivasi dan potensi diri para pemuda. Peran pemerintah juga diperlukan sebagai penyedia fasilitas untuk perkembangan perkebunan agar lebih luas. Perlunya penciptaaan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dengan topikair nira.
Pada kali ini saya akan membahas tentang potensi nira yang di dapat warga. Air nira dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan beraneka macam produk, diantaranya: gula semut, gula merah, gula kristal.
Betapa berkembangnya desa tersebut jika pemudanya di tanamkan jiwa wirausaha sejak dini hingga mereka dapat menciptakan UMKM dengan topik air nira, sehingga masyarakatnya akan jauh berkembang dengan pola hidup yang mandiri dengan menjalankan UMKM tersebut. Sehingga tidak ada lagi ketergantungan hidup sebagai karyawan, melainkan memiliki pekerjaan yang penuh inovasi dengan mengandalkan sektor perkebunan.
Melihat keadaan sekarang Indonesia sedang berada dalam kondisi bonus demografi. Sangatlah bijak jika desa-desa kecil mampu menciptakan UMKM. Melihat pasar ekonomi yang memiliki peluang untuk penciptaan produk bersumber air nira.
UMKM juga tidak akan berkembang tanpa campur tangan pemuda untuk melakukan regenerasi ikut andil dalam proses kemajuan perkebunan.Faktanya sulit dalam pencapaiannya, karena banyak hal yang harus diperbaiki seperti Sumber daya manusia (SDM), fasilitas, sumber dana, iklim, dll. Hal hal tersebut harus sangat diperhatikan agar tercapainnya tujuan dari UMKM itu sendiri.
Sumber daya manusia (SDM) merupakan hal tepenting yang harus diperbaiki. Hal ini terlihat dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2016, lebih dari satu juta anak putus sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD) dan tak melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Jika digabung antara yang tidak tamat SD-SMP, maka ada sekitar 4,3 juta anak yang tak mengenyam pendidikan dasar sembilan tahun. Dengan rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap pola pikir masyarakatnya. Tentu saja kondisi tersebut menghambat upaya Indonesia untuk bersaing di kancah global dalam merengkuh puncak bonus demografi.
Harapannya UMKM dapat membantu masyarakat jika pemuda dan pemerintah saling bekerja sama menciptakan bisnis,sehingga dapatmembangun kesejahteraan masyarakat yangdiharapkan. Jadi desa tersebut akan makmur oleh pemudanya yang berkualitas, inovatif serta dapat memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat pada umumnya dan didapatlah pemuda yang produktif dengan minimnya pengangguran. Dengan begitu bonus demografi yang terjadi di Indonesia akan akan benar-benar menjadi generasi emas. Mengingat usia muda adalah pemuda yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi melalui produktivitas kerja, konsumsi, dan tabungan yang mereka miliki. UMKM merupakan salah satu tabungan / aset yang sangat berharga bagi bangsa ini.

———– *** ———–

 

Rate this article!
Tags: