Makin Abbas: Kekeringan Ancam Pasokan Pangan Nasional

Makin Abbas

DPRD Jatim, Bhirawa
Bencana kekeringan menjadi ancaman serius bagi daerah-daerah di Jawa Timur penghasil pangan. Dari rekapitulasi potensi desa terdampak kekeringan tahun 2018 ada sebanyak 422 desa. Jumlah desa tersebut masuk kategori kering kritis atau jarak dengan sumber air 3 kilometer lebih.
Seperti di wilayah Kabupaten Lamongan sendiri juga mulai terdampak kekeringan. Oleh sebab itu, Komisi D DPRD Jatim meminta kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Lamongan segera mengatasi masalah kekeringan tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Jatim, Makin Abbas saat ditemui di DPRD Jatim, Rabu (19/9) kemarin. Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi dan Kabupaten Lamongan untuk melakukan berbagai program.
“Saya minta PU Pengairan provinsi dan Kabupaten Lamongan untuk melakukan program embung – embung, dan irigasi, serta penyediaan air bersih guna mengatasi kekeringan tahun ini,” pintanya.
Politisi asal Fraksi PKB Jatim ini menegaskan bahwa saat ini kekeringan yang terjadi di daerah Lamongan bisa berdampak secara luas. Jika dibiarkan, kata dia, dipastikan tiga bulan kedepan kekeringan tersebut akan mempengaruhi perekonomian warga Lamongan dan sekitar.
“Hampir 5 bulan lebih tidak ada hujan, di Lamongan semua waduk dan embung saat ini terancam tak ada air lagi dan ini ancaman serius,” katanya.
Untuk mengatasi kekeringan yang terjadi saat ini, menurut Makin, segera melakukan pembenahan dan penambahan pembangunan waduk dan embung khususnya di wilayah Lamongan. Mengingat daerah tersebut menjadi salah satu lumbung pangan yang ada di Indonesia.
“Jika dibiarkan tanpa ada penanganan serius dari dinas terkait, dikhawatirkan akan mengganggu pasokan pangan secara nasional, dan stok pangan akan berkurang,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini kondisi embung dan sumur mengalami kekeringan dan warga hanya mengandalkan bantuan air bersih yang disediakan oleh Pemkab.
Seperti diketahui, hingga kini sudah 40 desa di 10 kecamatan di Lamongan yang terdata mengalami krisis air bersih. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan menyebutkan jumlah desa yang mengalami kekeringan bertambah banyak.
Jika dua pekan sebelumnya hanya 31 desa, kini telah meluas menjadi 40 desa. Wilayah yang mengalami kekeringan tersebar di Kecamatan Tikung, Sugio, Mantup, Kembangbahu, Sarirejo, Modo, Bluluk, Sukorame, Kedungpring, dan Sukodadi.
Sebelumnya, BPBD Jatim mengungkapkan ada 422 desa yang mengalami kekeringan tersebar di sejumlah Kabupaten. Dari jumlah tersebut, sebanyak 199 desa berstatus kering atau tidak ada air. Sedangkan sisanya 223 desa kekeringan namun masih berpotensi mendapat air.
Selama 2018, BPBD Jatim mengklaim berhasil menurunkan tingkat kekeringan yang melanda 422 desa hingga 25 persen. Khusus di 223 desa masih memiliki potensi air, 126 desa di antaranya telah diberikan bantuan infrastruktur penyediaan air minum, mulai dari sumur pompa, pipanisasi, dan tandon air.
“Bersama instansi lintas sektor, kami terus mengupayakan pembangunan instalasi penyaluran air bersih di daerah-daerah yang setiap tahun mengalami kekeringan. Distribusi air bersih menjadi konsentrasi kami untuk menghadapi kekeringan,” kata Kepala BPBD Provinsi Jatim, Suban Wahyudiono. (geh)

Tags: