Mahasiswa Petra Tawarkan Konsep Kampung Kreatif Dolly

Mahasiswa program studi UK Petra Stefan Rio Erwanto memaparkan ide konsep kampung kreatif Dolly Surabaya, Kamis (30/8).

Surabaya, Bhirawa
Sebagai bekas kampung prostitusi, Kampung Dolly berusaha mengubah wajahnya menjadi kampung kreatif. Sayangnya, hal tersebut belum terkonsep secara maksimal. Tentu saja, ini menjadi perhatian bagi mahasiswa program studi Arsitektur Universitas Kristen Petra, Stefan Rio Erwanto.
Meskipun sempat ditentang oleh dosen pembimbingnya, Rio sapaan akrabnya, tetap gigih dalam mempertahankan ide konsep yang bertema “Partisipasi dalam intervensi ; Fasilitas Kampung Kreatif Dolly di Surabaya”. Alhasil, dari kegigihannya tersebut Rio mampu mewujudkan wajah kampung kreatif Dolly dalam sebuah maket.
“Saya ingin memberikan kontribusi untuk masyarakat. Saya melihat masih belum ada fasilitas dikampung Dolly yg mampu mengintegrasikan antara usaha kecil menengah (UKM) dan tempat tinggal sebagai identitas sebuah kampung kreatif,” ungkap dia.
Untuk mengetahui penyebab kurang berkembangnya kampung kreatif Dolly, Rio melakukan riset di Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok, Bandung yang sukses sebagai kampung percontohan.
Konsep utama perancangan ini, sambung dia, menggunakan partisipasi dalam intervensi. Di mana menggabungkan fungsi ruang kreatif publik dengan tempat tinggal. Sehingga tidak ada lahan kosong yang terbuang. Kendati demikian, Rio tetap memperhitungkan aspek keterlibatan masyarakat setempat. Salah satunya dengan adanya pusat aktivitas dari kampung dolly.
“Jadi tidak harus ada lahan besar untuk berkumpul, warga bisa memanfaatkan tempat berkumpulnya bapak-bapak di gang sebagai tujuan wisata juga. Gang kecil juga bisa dijadikan gang umum agar bisa melihat potensi di tiap rumah di Dolly,” jelas dia.
Rio menilai, dengan menambah keterampilan warga, akan menjadi kelebihan tersendiri bagi ruang publik kreatif. Di samping ituhal tersebut bisa dilakukan tanpa meninggalkan pekerjaan sehari-hari. “Keterampilan ini bisa ditunjukkan saat ada tamu berkunjung,” sambung dia.
Berbeda dengan Rio, mahasiwa program studi Desain Komunikasi Visual, Monica Claudia Chiong membuat sebuah board game untuk anak berusia 4-6 tahun. Itu yang pilih karena perkembangan reknologi saat ini mulai mengkhawatirkan terhadap perkembangan anak-anak.
“Zaman sekarang banyak anak usia dini sudah terbiasa bermain gadget. Tak jarang komunikasi anatara orangtua dan anak menjadi berkurang,” jelas dia.
Boardgame untuk usia dini yg ia buat merupakan hasil kolaborasi antara permainan ular tangga dan monopoli. Di mana ia mendesain permainan tersebut untuk meningkatkan intensitas komunikasi antara anak dan orangtua. [ina]

Tags: