Korban Sipoa Kembali Laporkan Dugaan Penipuan dan TPPU ke Polisi

Sejumlah warga yang mengatasnamakan Paguyuban Customer Sipoa usai melaporkan jajaran PT Sipoa Legacy Land atas dugaan penipuan serta TPPU di SPKT Polda Jatim, Senin (3/9).[abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Setelah sukses dengan laporan (pertama) dugaan penipuan dan penggelapan proyek hunian apartemen murah dari PT Sipoa Legacy Land. Kali ini Paguyuban Customer Sipoa (PCS) dengan para korban yang terdiri dari 212 orang ini kembali melaporkan jajaran PT Sipoa Legacy Land ke Polda Jatim atas dugaan penipuan serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Senin (3/9).
Melalui kuasa hukumnya Masbuhin, para penggugat (pelapor) yang diwakilkan pada Titin Ekawati (47) mendatangi gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim. Setelah mendapat rekomendasi dari Ditreskrimsus, Masbuhin bersama pengugat langsung melaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim.
“Hari ini (Senin kemarin, red) kami laporkan terkait sangkaan penipuan dan TPPU nya. Karena laporan kami gelombang pertama telah sukses dan berhasil, di mana penyidik bekerja profesional dan mampu menyita aset benda bergerak dan tidak bergerak. Laporan kedua ini mewakili 212 korban,” kata Masbuhin, Senin (3/9).
Laporan Polisi bernomor : TBL/1101/IX/2018/UM/JATIM, Senin pada 3 September 2018 ini atas nama Titin Ekawati (pelapor). Lanjut Masbuhin, pada laporan pertama yang dilaporkan yakni Dewan Direksi dan Dewan Komisaris PT Sipoa dan kawan-kawan. Sedangkan laporan kedua ini mereka minta penyidik polisi memeriksa terlapor Mr X selaku investor.
“Kami ingin terlapor kedua ditindaklanjuti, karena dugaan investor itu menerima dana yang besar,” jelasnya.
Tak hanya itu, Masbuhin menambahkan, pihaknya juga melaporkan konsultan, marketing dan kontraktor di jajaran PT Sipoa Legacy Land. “Kami berharap dengan berkas setebal ini, penyidik konsen terhadap terlapor yang terdiri dari para direktur dan komisaris, investor, konsultan, marketing dan para kontraktor,” tegasnya.
Pihaknya juga berharap pada laporan kedua ini bisa sukses seperti penyidikan pertama. Bahkan pihaknya selaku kuasa hukum para korban berharap penyidik kepolisian dapat menyita sisa-sisa harta yang ada dan dimiliki Sipoa.
“Sisa-sisa harta seperti kos-kosan yang ada di Siwalankerto, rumah di Kediri, mobil merek Hummer dan tanah yang ada di Citraland atau yang belum tersita, bisa segera disita pada laporan kedua ini,” harapnya.
Masih kata Masbuhin, pihaknya juga telah membuat laporan secara resmi kepada Komisi Kejaksaan Republik Indonesia di Jakarta. Tujuannya agar dilakukan pengawasan dan pemantauan terhadap Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim dan para Jaksa Penuntut Umum (JPU) terkait penanganan kasus dan pengamanan barang bukti berupa benda-benda bergerak dan tidak bergerak yang sebelumnya disita Kejati Jatim.
“Kami berharap ada transparansi dan akuntabilitas terhadap benda bergerak dan tidak bergerak ini. Sehingga suatu saat harus dikembalikan kepada korban dalam proses due process of law (proses penegakan hukum yang benar dan adil), tentunya melalui putusan Pengadilan,” ucapnya.
Sambung Masbuhin, sejauh ini kerugian sementara dari 212 korban ini kurang lebih Rp 19,7 miliar. Bahkan sampai saat ini para korban belum menerima penyerahan properti dari masing-masing perusahaan tersebut. Bahkan terdapat dugaan uang yang telah diterima dari para pelapor tidak digunakan seluruhnya untuk kepentingan pembangunan properti, akan tetapi untuk kepentingan lain.
“Bahwa kami menduga ada upaya sistematis, massif dan terstruktur dalam upaya pencucian uang,” pungkasnya. [bed]

Tags: