Wujudkan Mimpi, Jadi Dokter Anak Petani

Moch Jazil Ainul Yaqin Nur Hidayat

Moch Jazil Ainul Yaqin Nur Hidayat
Harapan masa depan yang cerah mulai terlihat di mata Moch Jazil Ainul Yaqin Nur Hidayat. Seorang anak petani dari Desa Mlilir, Kecamatan Brebek, Nganjuk ini tak pernah mengira akan mampu menyandang gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).
Dia pun menemui mimpinya benar-benar terwujud bersamaan dengan 188 dokter yang baru dilantik Unair beberapa waktu lalu. Jazil begitu ia disapa, adalah satu dari 14 orang lulusan dokter yang meraih S1 Pendidikan Dokter melalui jalur Bidikmisi. Dia berhasil lulus dengan perolehan IPK profesi sebesar 3,59.
Berangkat dari keluarga sederhana, membuat laki-laki kelahiran Nganjuk, 7 Januari 1994 ini sempat tak yakin bakal menempuh pendidikan di fakultas kedokteran. “Boro-boro jadi dokter, bisa kuliah saja saya belum berani mimpi pada saat itu,” ungkapnya.
Sejak SMA, Jazil hanya berfikir bagaimana caranya bisa segera lulus kuliah dan secepatnya mendapatkan pekerjaan. Namun keinginannya seketika berubah ketika mendengar ada program bidikmisi. Ia pun menggantungkan asa dengan mengikuti SBMPTN dan memilih jurusan kedokteran FK Unair sebagai satu-satunya pilihan.
“Awalnya deg-degan, apa iya mahasiswa dengan beasiswa Bidikmisi bisa terus kuliah di FK. Karena yang kita tahu biaya kuliah di sini tidak sedikit. Tapi ternyata benar, selama kuliah pihak universitas dan kemahasiswaan sangat mendukung,” ujarnya.
Sebagai anak petani, selama kuliah dia harus memutar otak untuk memenuhi biaya hidup sebagai anak perantauan. Dengan keterbatasan yang ada, Jazil mengaku terbantu dari uang saku beasiswa sebesar Rp 600 ribu per bulan.
“Sepersen pun saya tidak mengeluarkan biaya kuliah. Malah bisa nabung sedikit demi sedikit dan setiap kali pulang ke rumah bisa ngasih sedikit ke orang tua. Masih cukup untuk biaya hidup, walaupun harus super hemat mengelolanya,” ungkapnya.
Sejak awal, anak kedua dari tiga bersaudara ini berkomitmen ingin hidup mandiri tanpa membebani kedua orang tua. Selain ditopang dari uang beasiswa, Jazil merasa kemudahan datang setiap kali ia berhasil menjuarai perlombaan karya tulis ilmiah. Selain itu, dia juga kerap diundang sebagai pemateri di berbagai acara mutsabaqah tilawatil Quran.
“Pernah suatu ketika uang beasiswa telat cairnya, padahal sudah nggak punya uang. Kepikiran ingin kerja tapi jadwal kuliah padat, minta orang tua juga sungkan. Akhirnya puasa daud dan ngutang selama empat bulan,” kenangnya.
Berkat ketekunannya selama ini, Jazil sukses memenangkan sejumlah kejuaraan kompetisi karya tulis ilmiah. Antara lain dua kali menyabet juara di Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) Unair tahun 2012 – 2013, serta juara tiga lomba poster ilmiah tingkat nasional di Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2014.
Selain bidang ilmiah, Jazil juga tercatat pernah menyabet sejumlah kejuaraan pada lomba MTQ tingkat nasional, dan memenangkan beberapa kejuaraan bersama tim. [tam]

Tags: