Singkirkan Negatif Thinking dengan Bersyukur

Judul : Dan Allah pun Bersyukur
Penulis : MH Ardian Syah
Cetakan : Pertama, Februari 2018
Penerbit : Mizania
Tebal : 196 halaman
ISBN : 978-602-418-171-0
Peresensi : Abdul Kholiq Zuhry
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Jika hati dan pikiran diselimuti kegelapan, yang terlihat hanyalah surammnya kehidupan; kekurangan, kesempitan, kegelisahan, keluh kesah, tidak pua, merasa kurang terus, pada akhirnya kedamaian dan kebahagian enggan bermukim di hati kita. Hendaknya kita menyadari, betapa baiknya Allah Swt. memberikan kehidupan yang begitu indah serta tak pernah bosan melimpahkan nikmat kepada kita.
Setiap orang akan mengalami susah dan bahagia dalam kehidupan. Akan tetapi, hanya orang bersyukurlah yang bisa melewatinya. Syukur lebih dari sekadar memuji, melainkan tindakan iman dari hati, menuju ucapan dan tindakan. Unsur penting dalam bersyukur diawali dari penerimaan. Menerima dengan ridha, puas dan senang, kepada sang maha pemberi atas sesuatu yang telah diberikannya walaupun sedikit, bahkan dalam bentuk musibah.
Dalam buku ini Ardian Syah, mengajak kita untuk selalu berpositif thinking, serta menyingkirkan dari segala hal-hal negatif dari dalam hati dan pikiran. Dibersihkan dari sifa, sombog, ujub, buruk sangka, ria’, iri, kikir dengki, dendam, menghasut dan mudah tersinggung. Jika kita menyingkirkan sifat itu semua, maka akan lahir sikap tindakan dan ucapan yang penuh keceriaan syukur.
Syukur sering dianggap hanya sebatas ritual kemasyarakat, seperti tumpengan dan selametan. Jika tidak melakukan hal tersebut, rasanya belum syukuran. Tumpengan tentu bukan satu-satunya cara bersyukur. Syukur bisa diungkapkan denga dzikir, tadarus, menolong tetangga, puasa berkerja dan gal positif lainnya. Jadi Syukur tidak terbatas pada satu bentuk kegiatan tertentu.
Bersyukur dengan hati merupakan dari pangkal dari syukur lisan dan perbuatan, karena lisan dan perbuatan adalah cermin dari isi hati. Dengan begitu akan membuat pikiran menjadi positif. Salah satu cara membuat pikiran jadi optimis yaitu dengan selalu memandang kebesaran, kemurahan, dan kasih sayang Allah, bukan berfokus pada kelemahan dan keterbatasan diri. (hal. 54)
Seorang yang yang bersyukur akan jauh dari sifat iri dan dengki atas capaian orang lain, walaupun yang dimiliki orang lain lebih banyak dan bagus. Manusia yang hatinya bersyukur akan menhadapi hidup dengan tenang, damai, tanpa keluhan. Orang yang beriman selalu yakin bahwa segala ketentuan Allah sangat sempurna, untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan bersyukur kita mnayadari betapa Tuhan itu Mahabaik dan Mahasayang. Banyak orang mengira, kebahagian hidup terletak pada kekayaan material. Padahal banyak orang kaya yang tidak bahagia dan sebaliknya, tak sedikit orang miskin yang bahagia, semua tergantung cara pandang.
Kalau hidup dipandang dengan rasa syukur, hati dan jiwa akan selalu dalam keadaan bebas merdeka. Orang bersyukur akan merasa bahagia dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan kepadanya, seperti orang yang telah diberi hadiah besar, dia akan senang hati meayani si pemberi hadiah itu. Hidup akan terasa nikmat jika jiwa merdeka terbebas dari pengaruh eksternal, sehingga seseorang bisa menjadi manusia utuh sesuai fitrahnya. (hal. 152)
Rasa syukur akan memberi kemudahan, kelancaran dan jalan keluar dari berbagai permasalahan dalam kehidupan. Jika hidup kita ingin dilimpahi kekayaan dan kemulian yang tinggi, maka kita harus mengoptimalkan syukur kepada Allah Swt. semakin kita bersyukur, semakin besar keberuntungan yang datang kepada kita. Orang-bersyukur selalu berbaik sangka kepad Allah, berpikir positif dalam setiap situasi, jiwanya optimis karena yakin akan janji kebasaran Allah, tetapi tetap rendah hati walau berada di puncak kesuksesan.
Menurut Prof. Michael McCulluogh, Miami, bahwa orang yang bersyukur memiliki keadaan fisik, psikologis dan sosial yang lebih baik dibandingkan orang yangb fokus pada kejengkelan dan mengeluh. Tidak dapat dipungkiri jika orang bersyukur secara psikis membuat pikiran semakin positif. Karena selalu memandang segala hal dari sisi baik, sehingga hatinya damai dan pikirannya tenang.
Dalam buku ini juga dilengkapi dengan hikayat-hikayat orang-orang shaleh yang menyentuh pikiran dan hati. Sangat cocok untuk dibaca, dipahami, direnungkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi mereka yang merasa yang memandang kebahagian diukur dengan kekayaan material. Selamat Membaca!

———– *** ————–

Tags: