Pustakawan Se Jatim Ikuti Lokakarya Penulisan Karya Ilmiah dan Artikel

Narasumber Lokakarya Penulisan Karya Ilmiah dan Artikel Wahyu Kuncoro SN (kiri) dan Dr Siti Majanah saat berfoto bersama dengan panitia.

“Resep Paling Ampuh Belajar Menulis adalah Segeralah Menulis”
Surabaya, Bhirawa
Upaya untuk mengembangkan profesi pustakawan di Jawa Timur terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan menggelar lokakarya penulisan karya ilmiah dan artikel. Kegiatan lokakarya ini ternyata mendapat sambutan antusias dari para pustakawan di Jawa Timur.
Dari rencana semula yang hanya menargetkan 80 peserta, namun karena animo pustakawan yang besar akhirnya jumlah peserta ditambah 100 peserta lebih.
“Panitia sudah menambah slot jumlah peserta tetapi tetap tidak mampu menampung jumlah calon peserta yang membludak,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Drs Sudjono MM seusai membuka acara.
Menurut Sudjono, melihat animo dan minat pustakwan yang ingin ikut demikian besar itu menandakan ada keinginan yang kuat dari para pustakawan untuk mengembangkan dirinya.
“Bagaimanapun profesi pustakawan sangat berkaitan dengan budaya membaca dan menulis. Untuk itu kami akan terus memacu agar pustakawan memiliki kemampuan menulis baikuntuk menulis artikel di media maupun di jurnal-jurnal,” kata Sudjono lagi.
Dalam lokakarya yang berlangsung sehari tersebut, menghadirkan tiga narasumber yakni wartawan senior Bhirawa Wahyu Kuncooro SN yang menyampaikan materi terkait penulisan artikel di media massa, peneliti LPPM Untag Surabaya menyampaikan materi tentang Membuat Karya Ilmiah Hasil Enelitian, Kajian Survey Dan Evaluasi, dan Pustakawan Sudjarwo yang menyampaikan materi Penulisan berita dan penulisan fiksi.
Saat menyampaikan materinya terkait penulisan artikel di media massa, Wahyu Kuncoro mengingatkan bahwa untuk menjadi penulis yang hebat harus tetap diimbangi dengan budaya membaca yang kuat.
“Seorang penulis yang hebat pastilah juga seorang pembaca yang hebat. karena menulis itu sesungguhnya merupakan cerminan dari apa yang dibacanya,” jelas wartawan yang langganan juara berbagai kompetisi menulis tingkat nasional ini. Makna membaca yang dimaksud, tentu bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membaca suasana dan perkembangan yang ada dilingkungannya.
“Untuk menjadi penulis opni di koran harus kritis dengan situasi. Sikap krisis itu bisa dimulai dari rajin membaca perkembangan yang ada di media,” jelasnya. Namun yang terpenting lagi jelas Wahyu, untuk menjadi penulis tiada pilihan lain kecuali segera menulis.
“Tidak ada resep yang lebih jitu untuk menjadi penulis kecuali segera menulis,” kata wartawan yang juga mengajar di beberapa kampus di Surabaya ini. [rac]

Tags: