Pekan ASI Sedunia, Mahasiswa Unusa Gelar Sosialisasi dan Penyuluhan

Mahasiswa Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melakukan penyuluhan cara memperlancar ASI pada Ibu yang baru melahirkan pada peringatan pekan ASI sedunia di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya, kemarin (6/8).

Surabaya, Bhirawa
Peringati hari pekan Air Susu Ibu (ASI) sedunia yang jatuh pada tanggal 1-6 Agustus, mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengadakan sosialisasi dan penyuluhan pentingnya ASI bagi tumbuh kembang anak di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya.
Kegiatan inipun disambut baik oleh pihak rumah sakit. Kepala ruang Rawat Jalan RSI, Tri Wi Untari mengatakan jika kegiatan ini sangat membantu pihaknya dalam mensosialisasikan perawatan payudara bagi ibu menyusui. Di samping produksi ASI yang sering kali mengalami masalah.
“Kegiatan ini sangat baik sekali. RSI sendiri sebenarnya punya program Seperti ini. Namun, dengan adek-adek mahasiswa ini kami bisa lebih terbantu. Apalagi mereka juga mengenalkan produk inovasi biskuit dari daun katuk,” ungkap dia.
Nantinya, sambung dia, pihaknya berencana mengadakan kerjasama untuk distribusi biskuit yang dibuat mahasiswi D3 Kebidanan. “Biskuit yang mereka buat sangat membantu ibu-ibu menyusui. Karena dilihat dari bahannya sendiri ini memperlancar produksi ASI ibu,” ujar dia.
Mahasiswa D3 Kebidanan, Agnes Zefillia Rizqi mengatakan pihaknya memberikan beberapa tips dalam merawat payudara ibu menyusui. Salah satunya adalah cara mengeluarkan ASI dan cara memijat payudara agar ASI lancar.
“Kami berikan beberapa tips untuk merawat payudara, agar ASI ibu lancar. Yang sering kita temui, ASI tidak keluar. Ini terjadi karena ibu mudah stress dan asupan makanan berkurang. Di samping itu, mereka tidan tahu bagaimana cara merawat ASI nya,” Jelas mahasiswi semester 5 ini.
Dalam sosialisasi dan penyuluhan yang dilakukan pihaknya, para mahasiswa Unusa ini juga menawarkan produk inovasi biskui yang berbahan daun kutuk. Di mana, daun ini diakui memilikj kandungan prolaktin bagi ibu menyusui.
“Kami buat produk inovasi biskuit ini sudah setahun yang lalu. Produk biskuit ini sendiri diperuntukkan bagi ibu menyusui untuk memperlancar jalannya ASI” papar dia.
Pada proses pembuatannya, Agnes menjelaskan jika pihaknya sempat mengalami kegagalan sebanyak tida kali dalam menentukan adonan yang sesuai. Ini karena cita rasa pada daun katuk yang terbilang pahit harus dihilangkan agar terasa enak bagi ibu menyusui.
“Kami tiga kali gagal bikin inovasi kukis daun katuk. Pertama bikin, rasa daun katuk banget, pahit. Kedua, rasanya enak tapi adonan masih terlalu cair. Baru ketiga ini jadi dan bisa mendistribusikan ke koperasi kesehatan,” katanya. Daun katuk sendiri selain memperlancar ibu menyusui juga memiliki manfaat lain. Seperti pencegahan anemi, meningkatkan kesehatan mata, mencegah osteoporosis dan memperlancar ibu menyusui. Bagi pasangan suami-istri (pasutri) asal Surabaya, Wahyu dan Evi Aziz sosialisasi dan penyuluhan tersebut, memberikan informasi baru bagi mereka. Sisi lain, selama ini diungkapkan Evi Aziz pihaknya sama sekali tidak mengetahui tata cara laktasi dan pemijatan ASI.  [ina]

Tags: