Mahasiswa Papua di Kota Surabaya Serang Ormas dengan Sajam

Aliansi mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya bersitegang dengan ormas di asrama jalan Kalasan Surabaya, Rabu (15/8) kemarin. Gegeh Bagus Setiadi

(Enggan Kibarkan Bendera Merah Putih) 

Surabaya, Bhirawa
Keengganan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengibarkan bendera merah putih menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-73 membuat Ormas di Kota Pahlawan geram. Bentrok pun tak terhindarkan di Asrama AMP Jalan Kalasan Nomor 10 Surabaya, Rabu (15/8) kemarin.
Kejadian ini berawal saat sejumlah ormas yang tergabung dalam Sekber Benteng NKRI mendatangi asrama mahasiswa Papua pukul 13.00. Mereka melakukan imbauan kepada mahasiswa agar memasang bendera merah putih. Itu sesuai dengan perintah Wali Kota Surabaya melalui surat edaran (SE) untuk memasang bendera merah putih mulai 14 hingga 18 Agustus.
Koordinasi pemasanagan bendera merah putih oleh Sekretaris Bersama Benteng NKRI pun ditolak. Saat akan dipasang tiang bendera berwarna hijau di halaman asrama terjadi aksi penolakan dan penghadangan oleh AMP. Keributan dan adu pukul pun tak terelakkan antara AMP dengan Sekber Benteng NKRI.
Bahkan, salah seorang anggota AMP tampak mengambil parang dan menyerang anggota Sekber Benteng NKRI atas nama Arifin selaku Ketua Patriot Garuda (Patga). Akibatnya, Arifin mengalami luka ditangannya.
“Kami dari Sekber Benteng NKRI mengajak negosiasi penghuni asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan untuk memasang bendera merah putih sesuai surat edaran Wali Kota,” kata Susi Rohmadi, anggota Sekber Benteng NKRI kepada Bhirawa.
Susi menceritakan, awalnya negosiasi berjalan damai. Namun, AMP menolak dan marah-marah. Entah siapa yang memulai, anggota ormas dan mahasiswa saling pukul di halaman asrama. Setelah sempat baku hantam, keduanya saling mundur. “Korban dari kami, Basuki kena pukulan mereka juga dan Arifin kena sabetan senjata tajam,” jelasnya.
Ketika dari anggota Sekber Benteng NKRI terkena senjata tajam, langsung menuju Polrestabes Surabaya untuk membuat laporan kepihak Kepolisian.
Disamping itu, Ketua Sekber Benteng NKRI, Arukat Djaswadi yang didampingi oleh Pendeta Rico dan Joko Suprianto melakukan mediasi dengan AMP di dalam Asrama Mahasiswa Papua.
“Dalam mediasi tersebut di sepakati pemasangan bendera Merah Putih di pagar asrama III Kemasan Jalan Kalasan No 10 Surabaya,” terangnya.
Menurut Arukat, bahwa negara Papua Barat belum ada pengesahan/legalitas kemerdekaan Papua Barat. Bahwa langkah yang diambil oleh ormas merupakan langkah yang strategis, memang Bendera Merah Putih harus dikibarkan di Asrama Kamassan III Jl. Kalasan No 10 kota Surabaya.
“Menjadi tanggung jawab kita untuk tetap menjaga bendera merah putih untuk tetap berkibar sampai dengan tanggal 18 Agustus 2018 dan berharap Bendera Merah Putih tidak diturunkan,” jelasnya.
Menurutnya, tidak ada gunanya saling baku hantam antar sesama anak bangsa, karena posisi Papua barat yang mereka Klaim belum mendapat pengakuan dari manapun. Setelah itu, sekitar 10 orang dari Anggota Sekber Benteng NKRI dari unsur Pemuda Pancasila tiba di depan Asrama Mahasiswa Papua bergabung dengan massa yang sudah stand bay di Asrama Papua, ikut menjaga agar bendera Merah Putih tidak di turunkan. (geh)

Tags: