Korban Miras Oplosan Bertambah, 3 Orang Jalani Cuci Darah

Korban miras saat dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya.[gegeh/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Korban minuman keras (miras) oplosan di Gresik terus bertambah. Sampai kemarin, sudah ada 33 pasien yang sedang menjalani perawatan di RSUD dr Soetomo Surabaya dengan kondisi yang berbeda. Data sebelumnya 29 pasien dirawat dan 3 orang meninggal dunia.
Hal ini disampaikan Wakil Direktur Penunjang Medik RSUD dr Soetomo Surabaya dr Hendrian D Soebagjo kepada Bhirawa, Senin (20/8) kemarin.
Menurutnya, dari 33 pasien yang ditangani, 29 pasien di antaranya masih dalam kondisi stabil. Sedangkan 3 pasien lainnya, ada yang kondisinya membaik tapi masih perlu dilakukan observasi lebih lanjut.
Kemudian, ada juga yang masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU, dan satu pasien mengeluh penglihatannya masih kabur. “Kami menerima 33 pasien yang cukup beragam, terduga keracunan metanol. Kemarin ada 1 pasien yang cukup kritis, sehingga kami tidak bisa menolongnya. Untuk yang dirawat saat ini sebagian besar kondisinya stabil, tapi masih ada juga beberapa yang perlu dirawat lebih lanjut,” katanya.
Berdasarkan hasil diagnosa, lanjut dr Hendrian, puluhan pasien yang mengalami mual hingga rabun mata itu, diduga karena keracunan metanol. Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa senyawa metanol sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Sebab, saat masuk ke dalam tubuh, akan masuk ke aliran darah, hingga menyerang organ vital seperti ginjal.
Bahkan, bisa juga menyebabkan pendarahan pada otak, menyebabkan kebutaan dan juga kematian. “Pasien dalam kondisi tidak stabil masih dilakukan tindakan medis yakni mencuci darah untuk menghilangkan racun (miras, red) di dalam tubuh,” ungkapnya.
Banyaknya puluhan korban miras oplosan itu, dr Hendrian berharap masyarakat bisa menjadikan pelajaran dan lebih waspada dengan miras oplosan. Khususnya, untuk para produsen yang meramu minuman yang tidak berstandar dan menyebabkan kematian pada seseorang.
Sementara, Kepala Humas RSUD dr Soetomo dr Pesta Parulian menjelaskan bahwa ketiga korban itu harus menjalani cuci darah untuk mengeluarkan racun akibat miras oplosan. Ia menyebut pasien yang dirujuk kondisinya berbeda-beda. “Kita masih merawatnya ya. Ada satu yang kondisinya berat sudah kita dialisis cuci darah kita rawat di ICU, ada dua dirawat di HCU setingkat di bawah ICU ya,” ungkap dr Pesta.
Pesta menjelaskan Intensive Care Unit (ICU) sebagaimana namanya adalah ruangan di mana pasien sakit berat dan kritis dirawat secara khusus, dengan perlengkapan khusus, dipantau secara ketat dan dilakukan total care.
Sedangkan High Care Unit (HCU) lanjutnya merupakan unit pelayanan di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi respirasi, hemodinamik dan kesadaran yang stabil tetapi memerlukan pengobatan, perawatan dan pengawasan ketat karena memiliki risiko terjadi ketidakstabilan sewaktu-waktu.
“Kalau sebagai dokter saya mengatakan ini mengkhawatirkan ya. Kalau sudah sampai cuci darah berarti racun-racun yang diminum itu belum tereliminasi oleh tubuhnya. Karena itu kita terus melakukan pengawasan,” paparnya.
Sebelumnya, puluhan warga Bulakan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik dirawat intensif di RSUD dr Soetomo Surabaya diduga karena keracunan miras oplosan. [geh]

Tags: