Kiprah H Harsono, Pimpinan Lembaga Pusat Pesantren Pangan dan Energi Situbondo

Pimpinan Lembaga Pusat Pesantren Pangan dan Energi Moncel H Harsono saat mendampingi mahasiswa UKWM Surabaya dan NTUST Taiwan pemasangan springkle air di Bukit Curah Cottok Situbondo. [sawawi]

Intens Cetak Wirausahawa Muda Dengan Memberdayakan Ratusan Pemuda Desa
Kabupaten Bhirawa, Bhirawa
Meski usia sudah mulai menua, namun soal kegigihan dalam pemberdayaan pemuda desa tak perlu diragukan kiprahnya. Ya, itulah sosok H Harsono dalam beberapa tahun ini terlihat konsentrasi mengembangkan Lembaga Pusat Pesantren Pangan dan Energi di Dusun Moncel, Desa Juglangan, Kecamatan Kapongan Situbondo, sebuah lembaga pemberdayaan khusus pemuda desa di Kota Santri. Dalam wadah ini, ia merangkul kalangan pemuda desa setempat untuk bersama sama mengembangkan pusat pengembangan bidang ekonomi dan energi.
Baru baru ini, H Harsono di Kota Bumi Salawat Nariyah itu berhasil menggandeng dua kampus ternama yakni Universitas Katholik Widya Mandala (UKWM) Surabaya dan NTUST (National Taiwan University Science and Technology) Taiwan dalam pemberdayaan kalangan pemuda desa. Dilapangan H Harsono tidak sendirian melainkan melibatkan para Kepala Desa dan Muspika setempat. Satu yang sudah terwujud adalah pembangunan kebuh buah di Dusun Moncel Desa Juglangan dan pembanguna PLTS (Pusat Listrik Tenaga Surya) di Desa Curah Cottok Kecamatan Kapongan Situbondo.
Menurut H Harsono, sebelum realisasi pembangunan PLTS pihaknya menggelar pelatihan konstruksi listrik tenaga surya di kompleks kebun buah di pegunungan moncel bersama UKWM Surabaya. Acara itu untuk pemberdayaan pemuda desa Juglangan dan Curah Cottok dengan menghadirkan Ir Rasional Sitepu M.Eng Ketua Laboratorium Energi Listrik UKWM Surabaya. “Pelatihan tersebut digelar sehari penuh dengan melibatkan 15 tenaga ahli dibidang tehnisi tenaga surya asal UKWM Surabaya,” kata H Harsono.
Ia menambahkan, kegiatan ini untuk memberikan pengenalan PLTS serta pemanfaatan sinar matahari yang melimpah di Kabupaten Situbondo. Dengan kegiatan ini H Harsono berharap para pemuda yang ada di Desa Curah Cottok dan Desa Juglangan kedepan bisa ikut membangun perekonomian Situbondo. “Arah kegiatan ini untuk meningkatkan pemuda desa menjadi seorang usahawan (entrepeneursip). Kami sengaja mengundang 100 pemuda yang punya semangat untuk membangun desa,” ujar H Harsono.
Pria yang juga pengusaha aneka buah segar, di Situbondo yang mayorits warganya berprofesi sebagai petani sangat cocok untuk mengikutsertakan para pemuda desa dalam pengembangan usaha tani serta pembangunan energi tenaga surya secara umum.
Sebab, saat ini di Tanah Air masih melakukan impor bahan pangan mulai dari beras, jagung, gula dan kedelai. “Itu kan makanan pokok setiap hari, kenapa kita tidak memanfaatkan lahan yang ada untuk dijadikan lahan penghasil bahan pangan yang tangguh,” ujar H Harsono.
Peserta pelatihan tenaga surya dan pemanfaatan serta pencegahan bahaya listrik diikuti 100 pemuda desa yang berasal dari Dusun Air Mancur Desa Jugalangan dan Desa Curah Cottok. Ke 100 pemuda tersebut, dilatih dasar-dasar kelistrikan oleh para pakar ilmu energi dan elektro dari kampus UKWM Surabaya. Mulai dari para tenaga tenaga ahli UKM, produksi bahan makanan sampai hingga produk tersebut siap dijual dipasar nasional maupun internasional.
“Program ini sudah berjalan, kami siap melatih para pemuda dengan mendatangkan pakar dari di Dinas Pertanian Provinsi Jatim, Kementan RI Jakarta. Mereka semua siap membantu bersinergi dengan pemuda Situbondo,” paparnya.
Sementara itu Rasional Sitepu, Ketua Laboratorium Energi Listrik UKWM Surabaya memaparkan, pelatihan ini merupakan representasi pendidikan dibidang elektro dan energi listrik serta pengembangan implementasi pemakai listrik tenaga surya dalam rangka untuk mendukung energi terbarukan serta pembaharuan energi nasional. Selain itu, kata Rasional Sitepu, dari kegiatan itu lembaganya ikut mengambil peran bagi pemberdayaan pemuda desa di Kabupaten Situbondo. “Sudah lama kita terjun melakukan pelatihan tenaga surya ke daerah-daerah. Termasuk salah satunya di Desa Juglangan dan Desa Curah Cottok Situbondo ini,” ujar pria asli kelahiran Medan itu.
Dalam kegiatan pelatihan ini, sambung Rasional Sitepu, para peserta diajari teori sekaligus merangkai konstruksi pembangkit tenaga listrik tenaga surya serta pemanfaatan air tanah. Dalam pelatihan ini, Sitepu membagi tiga kelompok dengan tiga materi. “Kami juga siap mendidik peserta dari nol. Kami berharap dari kegiatan ini akan terbentuk kelompok pemuda desa yang siap bekerja menangani tenaga surya di daerah Situbondo dan daerah-daerah lain,” pungkas Sitepu.
Sementara itu Kades Curah Cottok Samsuri mengaku berterima kasih kepada H Harsono dan civitas akademika Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya bersama National Taiwan University of Science Technology (Taiwan Tech) yang telah membangun PLTS di Bukit Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan Situbondo. Kerjasama ini terealisasi, ujar Samsuri, berkat adanya program kerjasama internasional antara tiga lembaga tersebut. “Ini juga membantu peningkatan dunia pendidikan bagi kalangan pelajar dan masyarakat Situbondo,” terang Samsuri.
Ia menambahkan, kegiatan peningkatan kualitas kepemudaan dan kualitas pendidikan saat ini sangat diperlukan mengingat masyarakat Desa Curah Cottok Situbondo memerlukan peningkatan wawasan terutama bagi kalangan pemuda, pelajar dan masyarakat secara umum. “Sebelum kerjasama ini terealisasi, kami bersama Ir Rasional Sitepu M. Eng Ketua Laboratorium Energi Listrik Jurusan Tehnik Elektro Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya dan jajarannya mengadakan kegiatan pelatihan konstruksi listrik tenaga surya yang diikuti ratusan pemuda yang tersebar di Desa Curah Cottok,” pungkas Samsuri.
Andre Juwono, penanggung jawab pembangunan PLTS UKWM dan NTUST Taiwan, menandaskan dampak yang terjadi dari program ini selain masyarakat Desa Curah Cottok mudah mendapatkan stock air juga dapat merealisasikan tanaman pertanian seperti kacang koro. Jenis tanaman ini, menurut Andrew, selain kuat terhadap cuaca panas dan kering juga mudah tumbuh dilahan bercadas. “Agar tanaman kacang koro terus tumbuh subur jangan sampai lewat dari tiga minggu dari siraman air,” aku Andrew.
Ada banyak kelebihan PLTS dengan model portable yang dibangun Andrew Juwono. Ini karena selain mudah dipindah dan di instal, jenis springkle tersebut juga mudah menyesuaikan dengan lokasi tiap desa. “Kelebihan alat model portable ini selain otomatis juga bisa dipindah oleh setiap operator. Selanjutnya bisa dipindah dengan diisi air dan begitu seterusnya. Termasuk juga bisa dipindah ke area pertanian,” ujar Juwono. [sawawi]

Tags: