Janger Banyuwangi Akan Dipentaskan di Taman Budaya Jatim

Foto: ilustrasi Janger Banyuwangi

Pemprov, Bhirawa
Janger Banyuwangi telah ditetapkan menjadi salah satu dari 8 (delapan) Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional tahun 2018 dari Jawa Timur. Penetapan itu dilakukan hari Jumat kemarin (3/8) di Hotel Milenium Sirih Jakarta oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI.
Kali ini, kesenian yang unik karena merupakan gabungan kesenian Jawa, Bali dan Using atau Banyuwangi itu dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur dalam rangkaian acara Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) hari Sabtu malam (11/8).
GSBD itu sendiri merupakan acara rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), khususnya UPT Taman Budaya Jawa Timur, yang menampilkan berbagai potensi seni budaya dan pariwisata dari daerah-daerah di Jawa Timur secara bergantian.
Menurut Kepala Disbudpar Provinsi Jatim, Dr. H. Jarianto, MSi, acara ini merupakan unjuk potensi seni budaya dan pariwisata kota-kota dan kabupaten di Jawa Timur. Sedangkan kabupaten Banyuwangi sudah dikenal luas memiliki potensi seni budaya dan pariwisata yang bahkan sudah dikenal secara internasional.
Acara GSBD dengan tema “Peningset Tali Rasa” ini diawali Jumat malam dengan sajian Bedaya Blambangan, Tari Mbok Delimo, Lagu Daerah “Kangen Banyuwangi” dan “Semebyar” hingga dipungkasi dengan pergelaran sendratari “Manggolo Raung”.
arian “Mbok Delimo” mengisahkan perawan desa yang berparas cantik dan suka menolong banyak orang dengan kesaktian selendang yang dimilikinya. Namun Mbok Delimo merasa tertekan dan gelisah karena cinta, sebab dihadapkan pada dua pilihan, antara cinta kepada kekasih pujaan atau kepada rakyatnya.
Sedangkan sendratari “Manggala Raung” menceritakan perihal Sayu Wiwit, Puteri Kedaton, putra dari bangsawan Mas Gumuk Jati, sebagai Manggala atau Senopati dalam perang melawan penjajah. Sebutan Manggala (Pemimpin) Raung adalah gelar yang diembannya karena di kawasan sekitar kaki gunung Raung itulah wilayah perang berlangsung.
Hari kedua, setelah diawali oleh lomba untuk anak-anak dan keluarga, siang harinya digelar Jaranan Buto, kesenian khas jaranan dari Banyuwangi yang menggunakan properti jaranan berbentuk kepala raksasa (buto).
Pertunjukan hari terakhir ini kemudian dipungkasi dengan kesenian Janger dengan lakon “Wahyu Katentreman” (Joko Sampurno). Kisah singkat lakon ini seputar perjalanan hidup pemuda desa bernama Joko Sampurno yang pas-pasan namun bertekad kuat ingin mengubah nasib dan menyejahterakan keluarganya. Tanpa sengaja perjalanannya sampai di keraton Bumi Asih dan diterima menjadi prajurit asal dapat mengalahkan begal bernama Benggol Joyo. Ternyata Joko Sampurno berhasil melaksanaan tugasnya sehingga dia diterima menjadi prajurit hingga akhirnya diangkat menjadi Senopati Keraton Bumi Asih.
Sementara, Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Sukatno SSn MM menambahkan, semua pertunjukan ini berlangsung gratis dan terbuka untuk umum. Selama berlangsungnya GSBD ini disemarakkan pula dengan pameran dan bursa potensi seni budaya serta bazaar kuliner khas Banyuwangi. [rac]

Tags: