Fasilitasi Sharing Pendidikan untuk Kesiapan Persaingan Global

Pemateri dari lulusan Al-Azhar, Mesir Maulana Mas’udi saat diskusi tentang pengalamannya kuliah di Mesir pada kegiatan Diaspora Calling SMAMX goes to abroad, Jumat (3/8)

Surabaya, Bhirawa
Pentingnya kecakapan hidup dan keahlian dalam persaingan global sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi muda. Ini karena kebutuhan pasar global akan keterampilan dan pengalaman mendominasi dalam dunia kerja. Oleh karenanya, SMA Muhammadiyah X Surabaya memfasilitasi diskusi pendidikan dengan beberapa narasumber dari lulusan luar negeri. Diantaranya, Tiago Rocha dari Leira Polytechnical Institute, Portugal, Dio Alif Hutama dari Natuional Central University, Taiwan, dan Maulana Mas’udi dari Al-Azhar University, Mesir.
Kepala SMAMX, Sudarusman mengungkapkan jika kegiatan ini sangat menarik dan bermanfaat bagi siswa untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Disamping, orientasi SMAMX yang berfokus pada paradigma pendidikan secara meluas.
“Di dalam kelas, kita pahamkan kepada anak-anak, bahwa mereka harus bisa bersaing dengan negara lain. Pengalaman, keterampilan dan kecakapan hidup mempunyai porsi lebih di banding pendidikan,” tutur dia.
Siap tidak siap, tambah dia, kita harus mampu bersaing secara global. Artinya, dalam persaingan global tidak hanya kecerdasan spesifik yang dibutuhkan. Melainkan juga problem solving.
“Kita sadar banyak orang di Indonesia pandai dan pintar namun tidak berkompetitor. Dalan artian, banyak mengeluh dan menyalahkan lingkungan sekitar. Itu yang tidak kami inginkan bagi anak-anak kami,” ujar dalam sambutan Diaspora Calling SMAMX goes to abroad, Jumat (5/8).
Salah satu narasumber lulusan National Central University, Taiwan Dio Alif Hutama menekankan untuk bisa studi keliarga negeri siswa harus mempunyai komitmen dan konsistensi denga mimpi. Ini akan berpengaruh pada semua proses yang akan mereka jalani. “Mereka harus fokus dalam mengerjar impian mereka. Kuliah di luar negeri bukan hal yang instan dan tidak mudah. Kalau ada rintangan harus dijalani. Karena kita tidak akan tahu, kapan kita berhasil. Kita harus berusaha,” papar dia.
Bagi siswa kelas 12 IPA, Dyah Asih Wulandari menuturkan jika kegiatan Dispora Calling sangat bermanfaat bagi ia untuk bisa mendapat informasi beasiswa di luar negeri, khususnya Australia.
“Saya sering mengikuti kegiatan-kegiatan seperti ini. Karena sangat membantu saya mencari info-info tentang kampus yang bagus. Selain itu, saya juga sering mengikuti pameran pendidikan dan sharing pengalaman,” ujar dia.

Kurangi Diskriminasi, Perbanyak Pendidikan Inklusi
Anak Berkebutuhn Khusus (ABK) seharusnya menjadi perhatian utama bagi pemerintahan baik dari segi pendidikan maupun segi sosial masyarakat. Ini karena, masih banyaknya masyarakat maupun orangtua tidak memberi kenyamanan bagi mereka. Hal sependapat pun diungkapkan oleh pakar terapis ABK asal Portugal, Tiago Rocha yang berkesempatan mengabdikan diri di SMA Muhammadiyah X Surabaya selama satu setengah bulan. Menurutnya, apa yang dilakukan SMAMX, untuk membaurkan antara siswa reguler dengan siswa inklusi sangat sesuai dengan tujuan departement khusus dalam sekolah. Terlebih lagi, SMAMX sendiri dinilai nya tepat dalam menerapkan sistem Sekolah Peduli Anak Hebat (SPAH).
“SMAMX dengan program SPAH nya, sangat saya apresiasi. Mengapa? Di Portugal jarang ada satu sekolah yang menyediakan sekolah inklusi. Sangat sedikit sekali bahkan dikatakan” ungkap profesional terapis ini.
Di Portugal, lanjut dia, ABK mempunyai tempat ternyaman yang tidak terpusat yaitu perpustakaan. Ini menjadi hal yang sulit bagi mereka karena tidak bisa berkembang dan bersosialisasi dengan sekitarnya. Ini membuat mereka semakin terdeskriminasi dengan dunia luar. Berbeda dengan sekolah inklusi yang ia temukan di SMAMX.
“Sistem ini (SPAH, red) sudah bagus. Namun butuh hal-hal teknik yang perlu diperbaiki sedikit. Misalnya, bisa menambah terapis dari sisi profesional. Tapi dari segi tenaga pendidik itu sudah luar biasa” tutur dia usai memberi materi Dispora Calling SMAX goes to abroad. Lebih lanjut, kalau setiap sekolah inklusi bisa bekerjasama dengan departemen khusus ABK, ini akan mempermudah perkembangan mereka untuk bisa sembuh. “Yang saya kagumi dari SPAH ini adalah titik kekuatan mereka dalam merespon dengan baik cara mereka berkomunikasi, dan membentuk interaksi antara anak SPAH dengan guru begitupun dengan siswa reguler” papar dia. Dengan sistem menbaurkan siswa SPAH dan reguler, imbuh dia, ini bisa mengimprove lima skill yang ada dalam diri mereka. Seperti skill motorik, sensorik, emosional, komunikasi dan kognitif.
“Ketika digabungkan dengan anak-anak lain, ini bisa mengembangkan skill yang mereka miliki dengan cepat. Sehingga mempercepat penyembuhan ABK sesuai dengan kategori yang diderita” ujar dia.
Harusnya disebuah dunia yang sempurna ini, orang tidak membutuhkan departemen khusus. Akan tetapi, yang terjadi saat ini, semua pihak harus bekerjasama untuk penyembuhan mereka. “Sulit memang menyeragamkan pandangan yang berbeda dari masing-masing orang. Karena ini membutuhkan komitmen” pungkas laki-laki Lulusan Leiria Polytecnical institute Portugal ini. [ina]

Tags: