Cottok Inovation Park, Pusat Studi Banding Unggulan Siswa Situbondo

Direktur Pesantren Pangan dan Energi Situbondo H Harsono bersama Andrew Juwono dan para mahasiswa UKWM Surabaya-NTUST Taiwan saat memasang jaringan tenaga surya dan di pusat innovasion bukit Desa Curah Cottok Jumat (10/8). [sawawi]

Bangun Wisata Berbasis Pendidikan Bersama UKWM Surabaya-NTUST Taiwan
Situbondo, Bhirawa
Cottok Inovation Park (CIP) Desa Curah Cottok Kecamatan Kapongan Situbondo bersama Lembaga Pusat Pesantren Pangan dan Energi pimpinan H Harsono memiliki gagasan membanggakan bagi majunya dunia pendidikan di Situbondo yang sudah dimulai dalam beberapa tahun ini. Ini terwujud setelah mereka berhasil melakukan kerjasama pembangunan PLTS (Pusat Listrik Tenaga Surya) bersama civitas akademika kampus Universitas Katholik Widya Mandala (UKWM) Surabaya dan NTUST (National Taiwan University Science and Technology) di Bukit Desa Curah Cottok. Agar program ini kian meluas dan dikenal banyak kalangan, empat lembaga tersebut kembali mengembangkan sejumlah program di CIP Sabtu (11/8). Satu diantaranya mengajak siswa dan pemuda menanam buah koro dengan sistem penyemprotan air dan pembuatan sampah menjadi briket.
Kades Curah Cottok Samsuri menandaskan, beberapa delegasi yang hadir dalam acara pengembangan di CIP kemarin diantaranya Guru besar Fakultas Teknik Unika Widya Mandala Surabaya, Profesor dari NTUST Taiwan, mahasiswa Unika Widya Mandala Surabaya Indonesia-bersama mahasiswa NTUST Taiwan. “Lokasi realisasi kerjasama dua kampus ini dilakukan di Bukit Desa Curah Cottok atau Cottok Innovations Park. Alhamdulillah program inovasi pengembangan pendidikan terpadu pertama kali di Situbondo ini mendapatkan apresiasi sambutan positif dari Bupati dan berbagai OPD Pemkab Situbondo,” ungkap Samsuri.
Samsuri menambahkan, kegiatan ini dinilai memiliki berbagai sisi keunggulan sebab selain dapat meningkatkan kualitas kepemudaan dan kualitas pendidikan siswa yang ada di Kota Santri juga sangat menopang peningkatan inovasi bagi kalangan pemuda dan masyarakat yang ada di Desa Curah Cottok Situbondo. Untuk itu, papar Samsuri, diperlukan peningkatan wawasan bagi kalangan pemuda, pelajar dan masyarakat secara umum bersama pihak ketiga seperti UKWM Surabaya dan NTUST Taiwan ini. “Dengan program ini di kawasan CIP diharapkan menjadi pusat studi banding pendidikan bagi kalangan siswa yang ada di Situbondo,” tutur Samsuri.
Sementara itu H Harsono memaparkan pihaknya bersama Desa Curah Cottok sengaja menggandeng dua kampus (UKWM-NTUST) agar kawasan CIP kedepan menjadi contoh bagi masyarakat desa se-Situbondo. Sebab, urai H Harsono, saat ini belum ada masyarakat Desa yang benar benar menguasai tehnologi seperti pembuatan sampah menjadi briket yang sekarang dilakukan di Desa Curah Cottok. “Kami sebagai pelaku usaha siap memberikan pelatihan pembuatan briket untuk dijual ke luar negeri seperti Jepang Korea dan Taiwan. Kami juga siap memberikan pendampingan pengelolaan pupuk organik untuk diekspor ke dunia. Tentunya harus dilatih dahulu bagi para pemuda dan siswa, sehingga ekonomi Situbondo kedepan tumbuh menjadi lebih baik,” ungkap H Harsono.
H Harsono mengatakan, dengan berbagai pelatihan alat canggih ini, diharapkan pemuda dan pelajar di Desa Curah Cottok semakin eksis, sehingga secara bertahap akan berkembang dan menjadi pioner sektor ekonomi lain seperti membuat air minum kemasan. Di kawasan CIP ini pula, urai H Harsono, pihaknya sangat yakin adanya keterlibatan BUMDes Curah Cottok akan menumbuhkan komoditas tanaman singkong dan keripik koro yang ditanam di kawasan CIP. “Makanya kami melatih 100 pemuda dan pelajar menjadi enterpreneur dengan menggandeng mahasiswa dari UKWM dan NTUST Taiwan. Diharapkan setelah menjadi pengusaha akan dapat memberikan income kepada pemerintah. Mereka bisa melakukan MOU dengan supermarket atau pasar modern,” papar H Harsono.
Di sisi lain, Andrew Juwono penanggung jawab program UKWM Surabaya menerangkan pihaknya membuat diseminasi tehnologi kepada masyarakat dengan bekerjasama NTUST Taiwan yang memiliki program sama untuk disharing atau diterapkan kepada masyarakat Desa Curah Cottok. Kata Andrew, pihaknya kini melakukan joint dengan membuat sprinkle solar system untuk menyemprotkan air ke permukaan tanah dan titik lain guna meneteskan air bagi kelembaban lahan tanah. “Ini lokasinya memang menjadi pilihan kami karena untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Curah Cottok,” pungkas Andrew.

Ajak Pelajar Kembangkan Ekonomi dengan Ubah Sampah Menjadi Briket
Selain membuat pusat unggulan studi dan peningkatan kualitas pendidikan bagi para siswa di Kota Santri, program yang di gagas Kades Samsuri dan Lembaga Pusat Pesantren Pangan dan Energi pimpinan H Harsono di Desa Curah Cottok ini juga digarap pengembangan bidang ekonomi dengan mengajak pelajar membuat sampah menjadi briket. Langkah ini dilakukan dua lembaga tersebut bersama dua kampus kenamaan (UKWM Surabaya dan NTUST Taiwan), Sabtu (11/8).
Kades Curah Cottok Samsuri menuturkan, pihaknya sangat setuju dengan gagasan pembangunan pusat wisata pertanian dan pelatihan pembuatan sampah menjadi briket di daerah yang ia pimpin. Nantinya, tegas Samsuri, di Desa Curah Cottok akan berkembang pusat wisata berbasis pendidikan dengan pengembangan inovasi berbagai potensi terpadu di Kota Santri Situbondo. Cottok Inovation Park (CIP) ini, menurut Samsuri, merupakan tempat inovasi wisata pendidikan yang dikembangkan dalam satu tempat tertentu.”Cottok Inovation Park ini dikembangkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PTLS) karena CIP dipersiapkan menjadi wisata berbasis pendidikan bagi kalangan pelajar yang ada di Kabupaten Situbondo. Para pelajar Situbondo kedepan dapat menyerap teknologi terbarukan di Cottok Inovation Park ini,” papar Samsuri.
H Harsono mengakui, di Situbondo yang mayorits warganya berprofesi sebagai petani sangat cocok untuk mengikutsertakan para pelajar dan pemuda dalam pengembangan usaha tani serta pembangunan energi tenaga surya secara umum. Sebab, urai H Harsono lagi, saat ini di Tanah Air masih melakukan impor bahan pangan mulai dari beras, jagung dan kedelai. “Itu kan makanan pokok setiap hari, kenapa kita tidak memanfaatkan lahan yang ada untuk dijadikan lahan penghasil bahan pangan yag tangguh,” ujar H Harsono.
Andrew Juwono menimpali, dengan program ini kedepan Desa Curah Cottok akan menjadi contoh media pembelajaran dan wisata di Indonesia karena di lokasi sudah mengaplikasi Iptek tenaga surya. Untuk itu, Adrew akan terus intens menggugah masyarakat untuk memulai dalam peningkatan ekonomi produksi dengan MoU bersama BUMDes Curah Cottok. “Kegiatan ini sudah tahap yang kesekian kalinya. Sebelumnya kami sudah melakukan MoU dengan Bupati Dadang Wigiarto. Program ini mendapatkan respon dan tanggapan yang bagus dari Bupati Dadang. Ini terwujdu merupakan hasil kerja nyata bersama antara Desa Curah Cottok, H Harsono, UKWM Surabaya dan NTUST Taiwan,” pungkas Andrew Juwono. [awi]

Tags: