Cerita Mbah Tarijah, Bakul Karak Naik Haji

Penjual karak, Mbah Tarijah asal Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk naik haji setelah 15 tahun menabung. [ristika]

Menabung 15 Tahun, Uang Disimpan di Bawah Kasur dan Bantal
Kabupaten Nganjuk, Bhirawa
Tak ada yang tak mungkin selagi ada niat dan kemauan. Prinsip itu yang mungkin dipegang mbah Tarijah, nenek berusia 78 tahun. Ya, berkat ketekunannya menabung selama belasan tahun, akhirnya dia menjadi salah satu dari 765 jamaah calon haji dari Kabupaten Nganjuk.
Jamaah calon haji dari Nganjuk, dibagi dalam dua kloter. Pertama Kelompok Terbang (Kloter) 59, dengan jumlah jamaah sebanyak 445 orang yang berangkat pada 5 Agustus, dan Kloter 62 dengan total jamaah mencapai 320 orang yang berangkat dari 7 Agustus. Mbah Tarijah masuk dalam Kloter 59.
Sosok Mbah Tarijah ini menjadi perhatian khusus saat pemberangkatan. Sebab nenek 78 tahun ini sehari-hari hanya penjual karak atau nasi aking di Pasar Wage Nganjuk. Dengan kondisi hidup yang pas-pasan itu, Mbah Tarijah ternyata berhasil mewujudkan mimpinya berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Untuk bisa terdaftar sebagai calon jamaah haji dan berangkat tahun ini, perjuangan mbah Tarijah cukup panjang. Nenek asal Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk ini harus mengumpulkan uang hasil jualannya sedikit demi sedikit, selama 15 tahun sejak 2003. “Alhamdulillah, saya bersyukur doa dan usaha saya akhirnya terkabul,” tuturnya.
Mbah Tarijah yang berangkat melalui kloter 59 embarkasi Juanda Surabaya, dilepas bersama ratusan calon jemaah haji asal Kabupaten Nganjuk lainnya. Kepada Bhirawa, Mbah Tarijah menuturkan, sejak suaminya meninggal dunia 15 tahun silam karena sakit, dia tinggal bersama cucunya di rumah sederhana.
Untuk memasak sehari-hari pun dia masih menggunakan tungku kayu bakar. Semua pekerjaan rumah hingga berjualan di Pasar Wage dikerjakan sendiri. Pagi, setelah menjalankan salat subuh, Mbah Tarijah terbiasa berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer menuju tempat berjualan Pasar Wage, Nganjuk.
Selain berjualan karak, Mbah Tarijah juga menjual koran bekas, botol bekas air mineral, hingga aneka macam bumbu dapur. Rutinitas berjualan nasi aking dan barang bekas sudah dilakoni mbah Tarijah selama puluhan tahun. Namun, keinginan untuk menunaikan ibadah Haji sebagai rukun Islam kelima, baru muncul setelah suaminya meninggal 15 tahun silam.
Uniknya, mbah Tarijah tidak menabung uang hasil berjualannya di bank, tetapi disimpannya dibawah kasur dan bantal tempatnya tidurnya. Setelah berjalan sekitar 7 tahun, uang hasil jualan terkumpul Rp20 juta. Uang yang ditabung di bawah bantal tersebut lantas dijadikan uang muka pembayaran pendafataran naik haji, pada tahun 2010 lalu.
Merasa biaya naik haji masih kurang dari Rp25.000.250, Mbah Tarijah sempat meminjam uang dari tetangganya. Sambil menunggu jadwal pemberangkatan, Mbah Tarijah terus menyisihkan hasil penjualan karak dan barang bekas untuk melunasi hutangnya. “Waktu daftar, uang saya belum cukup untuk bayar. Akhirnya saya pinjam tetangga, sambil nunggu jadwal pemberangkatan, hutang sudah bisa lunas,” kata Tarijah.
Saat akan berangkatan ke tanah suci, Tarijah mendapat ucapan selamat dari rekan sesama pedagang di Pasar Wage dan para tetangganya. Lantaran, tidak disangka, dari hasil jualan karak, dapat naik haji. [ristika]

Tags: