10 Kecamatan di Sumenep Kekurangan Air Bersih

Rahman Riadi, Kepala BPBD Kabupaten Sumenep

Sumenep, Bhirawa
Sebanyak 10 dari 27 kecamatan di Kabupaten Sumenep mengalami kekeringan sejak bulan Juni hingga sekarang. Akibatnya, di sejumlah desa di 10 kecamatan itu mengalami krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ribuan warga di 10 kecamatan itu harus menunggu droping air bersih dari pemerintah setempat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Rahman Riadi mengatakan, dari 10 kecamatan yang mengalami kekurangan air betsih itu diantaranya, Kecamatan Batuputih, Pasongsongan, Saronggi, Rubaru dan Kecamatan Dasuk. Itu merupakan kecamatan yang memang setiap tahun menjadi langganan kekurangan air bersih.
“Untuk memenuhi kebutuhan warga terhadap air bersih, kami telah melakukan suplai air ke sejumlah desa yang memang membutuhkan. Biasanya kepala desa mengajukan permohonan ke kami dan petugas langsung menyuplai air bersih secara bergantian disejumlah desa,” kata Rahman Riadi, Rabu (29/8).
Ia menyampaikan, sesuai informasi yang diterimanya dari pihak terkait, pada bulan September nanti menjadi puncak musim kemarau tahun ini. Dengan dengan demikian, dipastikan warga akan terus membutuhkan suplai air bersih hingga bulan September mendatang.
“Selagi dibutuhkan kami akan terus mengirimkan air bersih itu secara gratis kepada warga, tentunya sesuai dengan permintaan warga melalui aparat desa setempat. Kalau tidak ada permintaan kami tidak mungkin langsung mengirim air tersebut,” jelasnya.
Pemerintah daerah memang setiap tahun melakukan suplai air bersih pada warga yang memang membutuhkan air bersih. Ada beberapa armada yang dimanfaatkan untuk menyuplai air bersih itu, salah satunya armada milik PDAM.
Sedangkan air yang disuplai itu pihaknya mengaku bekerjasama dengan PDAM. “Setiap hari armada pengangkut air bersih itu membagi-bagikan air bersih kepada warga, sesuai permintaan yang dilakukan pihak desa sebelumnya,” ucapnya.
Lebih lanjut ia menegaskan, suplai air bersih itu merupakan langkah jangka pendek dari pemerintah dalam penanganan kekurangan air bersih itu. Untuk jangka panjangnya sudah ada program pengeboran dan pipanisasi air bersih di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain. “Kalau di desa itu memungkinkan adanya pengeboran air, ya dilakukan pengeboran, tapi kalau tidak bisa, ya dilakukan pipanisasi air dari desa lain yang masih bisa dijangkau, tapi itu tanggung jawab OPD lain,” imbuhnya.
Ia berharap, aparat desa bersangkutan lebih aktif dan peka terhadap kebutuhan warga, terutama dalam pemenuhan air bersih. Sebab, air bersih itu sangat dibutuhkan, baik untuk warga sendiri maupun hewan ternak. “Makanya, kalau dirasa warganya sudah kekurangan air bersih, silahkan langsung mengajukan permohonan agar air cepat dikirim,” harapnya. [sul]

Tags: