Saksi PDIP Menolak Tandatangani Berita Acara

Penghitungan suara KPU Jatim.

Surabaya, Bhirawa
Ada yang menarik dalam acara rekapitulasi pilgub Jatim yang diselenggarakan oleh KPU Jatim di Convention hall di Grand City Surabaya, Sabtu (7/7). Acara yang dihadiri oleh 38 KPU kab/kota sempat agak panas, dimana dua saksi dari paslon nomor urut 2 sempat bersitegang.
Dimana saksi dari PDIP, Martin Hamonangan menolak menandatangani berita acara yang disodorkan oleh KPU Jatim. Sementara dari PKB, Musyafak Rouf justru membubuhkan tandatangan di berita acara hasil rekapitulasi Pilgub Jatim.
Sementara alasan Martin menolak untuk menandatangai hasil rekapitulasi karena dia menilai bahwa ada beberapa kejanggalan di beberapa daerah. Bahkan ia menunjukkan data di kabupaten Jombang yang menurutnya ada ketidak sesuaian antara DA1KWK atau hasil rekap di tingkat kecamatan yang perbaikannya mencapai 50 persen.
Ditegaskan perbaikannya hampir 50 persen terhadap DA1KWKk artinya ini masif sekali dan itu bukan kekeliruan dan juga bukan unsur kelalaian. Ada juga beberapa daerah yang tidak cocok antara DA2KWKnya atau form keberatan tingkat kecamatan dan itu hampir di seluruh kabupaten.
“Untuk itu saya tidak dapat menerima dan menolak hasil rekapitulasi inisehingga kami nanti akan melakukan upaya-upaya yang akan kami rapatkan terlebih dahulu,”paparnya.
Sementara itu terkait Musyafak rouf yang memilih menandatangani hasil oleh Martin dituding Musyafak tidak tahu apa-apa dan terlibat dalam pemenangan paslon nomor dua. Mendapat tudingan tersebut mantan Ketua DPRD Surabaya ini jika selama ini dirinya aktif dalam pemenangan paslon nomor 2 diantaranya membangun sejumlah pos pemenangan.
“Tapi yang pasti kekeliruan yang terjadi di beberapa daerah tidak semasif yang dikatakan Martin. Bahkan kekeliruan penyelenggara pemilu di beberapa daerah tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak hasil rekapitulasi KPU,”tegasnya. Bahkan Musyafak memilih untuk menerima dan menandatangani hasil rekapitulasi perhitungan suara Oleh KPU Jatim.
Politisi dari PKB itu menilai Kejanggalannya itu masih bisa ditoleransi dan tidak mempengaruhi terhadap hasil. “Kalau mempengaruhi terhadap hasil silahkan ditolak,tapi hasil ini tidak mempengaruhi. Dan dirinya disuruh melihat kejadian di lapangan. Karena hasilnya tidak ada permasalahan yang ekstream, jadi dirinya diperintah untuk menandatangani,”paparnya.
Musyafak juga menjelaskan bahwa dirinya diutus sebagai saksi dan tidak ada instruksi untuk menerima ataupun menolak hasil rekapitulasi. Ia hanya diminta oleh ketua tim pemenangan pasangan nomor urut 2 Gus Ipul -Mbak Puti untuk melihat yang terjadi di lapangan dengan apa adanya.
Sementara itu, Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito menegaskan sesuai aturan masih ada waktu sanggah selama tiga. Jika tidak ada maka akan diserahkan ke KPU RI untuk disahkan. “Seperti diketahui ada waktu sanggah selama 3 hari.Jika tidak ada hasil rekapitulasi ini kita kirim ke KPU RI untuk disahkan,”tegasnya.
Seperti diketahui rapat pleno terbuka rekapitulasi perhitungan suara tingkat provinsi dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim telah usai. Dalam rapat ini, Pasangan Khofifah indar Parawansa – Emil Elestianto dardak unggul 7,11 persen atas pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.
Pada rekapitulasi ini pasangan Khofifah-Emil meraih suara 10.465.218 suara, Gus Ipul-Puti 9.076.014 suara. Pilgub Jatim ini Jumlah suara sah mencapai 19.541.232, jumlah suara tidak sah: 782.027. Total suara masuk sebanyak 20.323.259.
“Rapat pleno terbuka yang sudah dilakukan sesuai aturan PKPU 9 tahun 2017. Dengan hasil yang sudah ada rekapitulasi ini sudah sah,”ujar Ketua KPU Jatim, Eko Sasmito,
Kedua pihak telah menandatangani berita acara rapat pleno terbuka. “Jika ada keberatan akan kita sesesaikan sesuai menaknisme. Mekanismenya diatur dalam PKPU 9/2017,”ujarnya.
Dalam proses rekapitulasi ini, KPU di 38 daerah di Jatim membacakan satu persatu hasil rekap tingkat daerah. Hasilnya pasangan Khofifah-Emil unggul di 27 daerah. Dan gus Ipul-Puti unggul di 11 daerah. [cty]

Tags: