PKM Umsida Serahkan Mesin Pencacah Makan Ternak

Ketua Kelompok PKM Umsida Ribangun Bamban Jakaria dan Ketua Kelompok Peternak Mandiri Jasmuri sedang meneliti mesin pencacah pakan ternak.

Sidoarjo, Bhirawa
Untuk memberikan kemudahan dan kecepatan kepada masyarakat, serta bisa memangkan efisiensi tenaga kerja. Kelompok Pengusul PKM (Program Kemitraan Masyarakat) Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoajo) telah menyerahkan mesin pencacah makanan ternak kepada mitranya yang berpasitas 1 liter bahan bakar bisa mencacah makanan ternak sekitar 1 ton.
Program yang proposalnya telah digarap oleh PKM Umsida diketuai oleh Ribangun Bamban Jakaria, ST MM dengan Anggota Ir. A. Miftakhurrohmat, MP dengan menggandeng mitra kelompok peternak sapi ‘Lembu Joyo’ Porong dan ‘Peternak Mandiri’ Tanggulangin yang ada di wilayah Sidoarjo tersebut, sebelumnya telah diusulkan ke Kementeria Dikti (Pendidikan Tinggi), dan lolos hingga akhirnya mendapatkan anggaran untuk merealisasikan program tersebut.
Usai menyerahkan mesin pencacah makanan ternak ke Peternak Mandiri Tanggulangin Sidoarjo, Ketua Kelompok Pengusul PKM Umsida, Ribangun Bamban Jakaria mengatakan kalau alat pencacah makanan ternak ini sebenarnya adalah hasil kombinasi ide dosen pengusul dengan mahasiswa. Kalau dipasaran alat seperti ini memang sudah ada, namun kami garap lebih lembut dalam melakukan pencacahan juga lebih banyak kapasitasnya. “Dalam 1 liter bahan bakar, alat ini diperkirakan bisa mencacah sekitar 1 ton makanan ternak dari pohon jagung maupun pohon tebu,” jelas dosen Fakultas Teknik (2/7).
Evaluasi kami di lokasi, permasalahannya belum adanya alat yang dapat mempermudah kinerja kelompok dalam memotong bahan pakan yang diperoleh, baik berupa
tanaman jagung atau bahan pakan lain. Sehingga kinerja pemberian pakan yang dilakukan oleh kelompok kurang efektif. “Dengan alat ini tentu sangat efektif dan efisien sekali,” jelasnya.
Ketua Kelompok Peternak Mandiri Tanggulangin, Jasmuri mengatakan kalau alat seperti ini rata-rata dibutuhkan oleh peternak, karena makanan ternak sapi yang dari ‘pucukan tebu/tebu dan juga tebon/pohon jagung itu tidak bisa diberikan kepada hewan secara langsung, harus dicacah/dihancurkan terlebih dahulu. Jadi sangat bermanfaat sekali, yang biasanya dicacah secara manual oleh tenaga manusia, sekarang bisa dicacah menggunakan mesin, juga sangat memudahkan ternak untuk mengkonsumsi,” katanya.
Menurutnya, alat ini sangat efisien terhadap tenaga kerja. Kami mencacah secara manual dalam 1 ton ditangani oleh sekitar 6 hingga 8 tenaga manusia. Dengan menggunakan mesin ini hanya membutuhkan sekitar 3 orang saja, yang lainnya bisa menangani pekerjaan-pekerjaan yang belum tertangani. “Jadi sangat bermanfaat sekali dan sangat efisien sekali. Apalagi 1 liter bahan bakar bisa mencacah sekitar 1 ton makanan ternak,” jelas Jasmuri yang mempunyai ternak sekitar 200 ekor sapi. [ach]

Tags: