Perlu Imunisasi Difteri

Dua kota metropolitan di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, masih menunjukkan terjangkitnya difter. Sehingga masih perlu melanjutkan imunisasi suntik difteri. Pada tahun 2017, difteri mulai mewabah di 30 propinsi. Tercatat sebanyak 948 suspect dengan angka kematian sebanyak 44 jiwa (4,6%). Tetapi tidak perlu panik. Karena masyarakat telah mendukung suksesnya pemberantasan difteri melalui vaksin DPT. Namun pada bulan (Juli 2018) ini perlu dilanjutkan lagi.
Seluruh daerah (kabupaten dan kota) yang masih terdapat kasus difteri akan dilakukan ORI (Outbreak Response Immunization). Khusus daerah penyelenggara Asian Games 2018 (Jakarta, dan Palembang), dipastikan melaksanakan ORI pada bulan Juli. Sehingga bisa dipastikan bebas difteri. Begitu pula beberapa daerah di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, masih perlu dilakukan ORI. Kini (Juli 2018) sedang dilaksanakan ORI ketiga (terakhir).
Bahkan di Jawa Timur, difteri, tergolong anomali. Karena ditemukan kasus paling banyak di Indonesia (pada tahun 2017), saat perekonomian keluarga rata-rata membaik. Sepanjang tahun 2017 hingga Pebruari 2018, tercatat sebanyak 460 kasus, dengan korban sebanyak 16 pasien meninggal. Lima daerah dengan catatan suspect terbanyak (masing-masing lebih dari 21 kasus). Yakni, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Ngajuk, dan Sampang. Kelimanya wajib tuntas ORI sampai tiga kali.
ORI, terutama melalui program imunisasi pada anak sekolah, mulai TK (Taman Kanak-Kanak) hingga SMA sederajat. Juga melalui layanan posyandu di kampung-kampung untuk balita. Stok obat suntik yang telah diproduksi di dalam negeri, telah tersedia berlebih. Pemerintah (dan daerah) wajib melanjutkan program vaksinasi DPT. Terutama di seantero pulau Jawa. Pemerintah Desa wajib dilibatkan, sebagai ujung tombak “deteksi” munculnya pasien difteri.
Hampir se-antero pulau Jawa dinyatakan KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri. Karena satu suspect, sudah dinyatakan KLB. Hal itu disebabkan penularan difteri cukup cepat, hanya melalui percikan dahak. Sehingga diperlukan anggaran cukup besar menangani difter. Di Jawa Timur, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 98 milyar, sharing antara pemerintah propinsi dengan kabupaten dan kota.
Bertepatan dengan tahun ajaran baru, pekan ini, hampir seluruh kota-kota besar (ibukota propinsi) di pulau Jawa, diselenggarakan imunisasi DPT. Bahkan yang terbaru, masih ditemukan 5 suspect di Semarang (Jawa Tengah). Seorang diantaranya meninggal. Sedangkan di Jawa Barat, ORI ketiga saat ini lebih di-intensif-kan. Pada imunisasi pertama (Agustus 2017), partisipasi imunisasi di Jawa Barat hanya sekitar 4%. Disebabkan keraguan terhadap ke-halal-an.
Diperlukan kerjasama dengan tokoh masyarakat (ulama). Sudah di-fatwa-kan, bahwa imunisasi sebagai pencegahan penyakit menular (dan me-wabah) wajib diikuti masyarakat. Nyata-nyata, fatwa berhasil me-lancar-kan program imunisasi. Sukses imunisasi anak (usia 9 bulan hingga 15 tahun), ditandai dengan capaian sasaran tersuntik telah melebihi target. Lebih dari 13 juta anak di Jawa, telah disuntik, hanya dalam waktu setengah bulan.
Semula Kementerian Kesehatan mencanangkan sebesar 35% (sekitar 11,5 juta) anak di seantero Jawa bisa mengikuti suntik imunisasi. Ternyata, lebih banyak orangtua di pedesaan mengikuti imunisasi melalui posyandu. Selanjutnya, pemerintah masih dituntut lebih profesional melaksanakan imunisasi, termasuk ke-halal-an obat. Terdapat kewajiban jaminan halal, sesuai UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.
Seluruh produk makanan, minuman, dan obat, yang berhubungan dengan masyarakat harus mempunyai sertifikat? halal. Termasuk obat produk BUMN maupun impor. Saat ini seluruh produsen obat bisa mendaftarkan produk merek dagang pada Kementerian Agama secara online. Serta penting pula, petugas kesehatan wajib bisa meyakinkan keamanan kesehatan setelah suntik vaksin.

——— 000 ———

Rate this article!
Perlu Imunisasi Difteri,5 / 5 ( 1votes )
Tags: