Perkuat Karakter Anak melalui Permainan Tradisional

Pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk SDN Mojo III, Liber resmikan sekolah pelestarian permainan tradisional bersama Kepala SDN Mojo III, Soemarlik

SDN Mojo III Lestarikan Permainan Tradisional Sekolah
Surabaya, Bhirawa
Upaya mendukung pelestarian permainan tradisional mulai digalakkan di lingkungan sekolah. Terbukti, pada hari pertama masa Layanan Orientasi Sekolah (LOS) di salah satu sekolah dasar yaitu, SD Negeri Mojo III Surabaya, resmikan diri sebagai sekolah pelestarian permainan tradisional. Kepala SDN Mojo III Surabaya, Soemarlik menjelaskan jika berdasar hasil pentauan pihaknya, permainan tradisional yang didominasi oleh anak-anak mengalami penurunan penggunanya.
“Berdasar hasil pantauan kami, permainan anak-anak saat ini hanya terpacu pada gadget. Sehingga itu berdampak pada sikap mereka yang kurang mengenal lingkungan pertemanannya” ungkap dia
Lebih lanjut, diakui Kepala Sekolah yang kerab disapa Marlik ini, jika peresmian permainan tradisional ini baru dilakukan sekolah di Surabaya. “Mungkin kalau kampung, sudah ada kampung dolanan. Nah untuk sekolah, ini baru pertama kalinya di Surabaya meresmikan pelestarian permainan traditional” imbuh dia.
Dalam kegiatan LOS dihari pertama tersebut, beberapa permainan seperti dakon, bekel, yoyo, gasing, etek-etek, ular tangga, egrang batok dan bambu serta balap karung dikenalkan kepada siswa. “Kira-kita kita punya 11 permainan tradisional yang kami kenalkan kepada siswa baru kelas 1 maupun kelas 2 hingga kelas 6 di hari pertama LOS ini” tutur dia.
Kami menilai, sambung dia, jika masing-masing permainan tradisional mempunyai nilai filosofis yang baik dalam kehidupan anak-anak. Misalnya saja, permainan etek-etek. Pemain melatih keseimbangan, kecepatan dan kesabaran. “Seperti etek-etek ini kan tidak hanya bisa dimainkan saja. Tapi juga kan bisa digunakan sebagai alat atau media pembelajaran” sahut dia.
Selain etek-etek, tambah dia, beberapa permainan tradisional seperti telfon menggunakan kaleng juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Yaitu bagaimana cara kerja perambatan suara.
“Selama tiga hari ini, anak anak tidak hanya dikenalkan permainan tradisional. Tapi juga makanan tradisional dan media pembelajaran dalam kelas” tutur dia.
Kepala sekolah yang baru dilantik September 2017 di SDN Mojo III ini berharap agar kedepan, melalui media permainan tradisional SDN Mojo III mampu menumbuhkan jati diri anak-anak bangsa dan jiwa nasionalisme. Disamping itu, pihaknya juga berharap mampu membentuk karakter siswa menjadi lebih mandiri, sosialis, membangun kerjasama, menjaga kejujuran dan gotong royong.
“Kenapa kami lakukan itu? Karena kami ingin meningkatkan karakter siswa disamping peningkatan hasil belajar” tandas dia
Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, yang bertugas sebagai pengawas pembina SDN Mojo III, Liber menilai jika pelestarian permainan tradisional sudah seyogyanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
“Peresmian pelestarian permainan tradisional ini sangat bagus. Mengingat saat ini permainan yang kita temukan di jaman dulu sudah hampir punah. Anak-anak saat ini, lebih asik bermain gadget nya dari pada bermain kotor-kotoran dan bertemu teman sebayanya” terang dia. Apalagi, tambah dia, hanya SDN Mojo III yang mempunyai inisiatif untuk mengisi LOS dengan mengenalkan permainan tradisional. Di samping itu, dengan adanya permainan tradisional ini kita bisa memupukkan nilai kerjasama dalam diri siswa, kata dia. “Misalnya permainan bakiak, dimana satu tim harus kompak. Kita pupuk dan kita latih karakter anak-anak ini sedini mungkin. Mudah-mudahan permainan tradisional ini lebih lengkap di tahun depan” pungkas dia di temui usai peresmian pelestarian permainan tradisional, Senin (16/7).

Berharap Permainan Tradisional Terus Dilestarikan
Dalam era saat modern saat ini, permainan tradisional seolah-olah tak diperhitungkan untuk tumbuh kembang anak. Padahal permainan tradisional dinilai lebih baik untuk berperan dalam tumbuh kembang anak dibanding menggunakan gadget atau HP. Hal itupun diungkapkan salah satu wali siswa kelas 1 tahun ajaran 2018/2019 di SDN Mojo III, Umi Kalsum.
Menurutnya, mengembalikan ‘lagi’ dunia anak-anak yang dekat dengan alam, lingkungan maupun teman sebayanya sangat diperlukan saat ini. Apalagi anak-anak saat ini cenderung memainkan gadget dari pada perduli dengan teman-temannya
“Dengan permainan tradisional mereka lebih bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Selain itu juga bisa menumbuhkan sisi empati dalam diri anak” terang dia.
Terlebih lagi, sambung dia, usia anak-anak sangat dekat dengan dunia bermainnya. Jika kita tidak mulai mengajarkan anak-anak untuk berempati, bersosialisasi, hal itu akan berdampak negatif dalam tumbuh kembang mereka.
Sementara itu, salah satu siswa SDN Mojo III, Villa Ardiansyah (7) mengatakan jika ia cukup senang dengan berbagai macam permainan yang dikenalkan sekolah. Apalagi, permainan tradisional jarang sekali ditemui saat ini.
“Hari pertama sekolah, aku dikenalin banyak permainan ini. Aku tadi coba egrang dan ular tangga. Terus main bola. Senang banget banyak mainan disini,” kata dia. [ina]

Tags: