Perawatan Neonatal, RSU Haji Awali Kerjasama dengan SIF

Dirut RSU Haji drg Sri Agustina (tiga dari kiri) bersama jajaran SIF dan SingHealth usai melakukan peluncuran Program Kegawatdaruratan Pediatri dan Perawatan Neonatal, Selasa (31/7). [titis/bhirawa]

RSU Haji, Bhirawa
RSU Haji melalui kemitraannya dengan Singapore International Foundation (SIF) mengumumkan peluncuran Program Kegawatdaruratan Pediatri dan Perawatan Neonatal, Selasa (31/7). Program tersebut berupa transfer pelatihan dan pengetahuan dan bertujuan untuk meningkatkan layanan kegawatdaruratan dan perawatan neonatal di lembaga kesehatan masyarakat di Jatim.
Dirut RSU Haji drg Sri Agustina menjelaskan program ini dirancang untuk mengembangkan kapasitas tenaga kesehatan dalam meberikan layanan perawatan kritis pada bayi dan anak-anak yang berisiko. Kerjasama ini mencakup lokakarya pelatihan klinis, kunjungan studi banding ke Singapura untuk para tenaga kesehatan, dialog kepemimpinan, simposium, upaya penjangkauan komunitas untuk mengedukasi masyarakat mengenai permasalahan ini.
“Program ini untuk tahap pertama menyasar 40 tenaga medis RSU Haji mulai tenaga spesialis, paramedis hingga perawat. Kerjasama berlaku empat tahun mulai 2018 hingga 2022,” katanya kepada wartawan usai Peluncuran Program Kegawatdaruratan Pediatri dan Perawatan Neonatal di RSU Haji Surabaya, Selasa (31/7) seraya menjelaskan kerjasama ini juga melibatkan RS di kawasan Gerbangkertosusilo.
Tenaga medis RSU Haji nantinya akan diberikan pelatihan perawatan yang komprehensif untuk bayi dan anak di Jatim yang memerlukan perawatan darurat oleh SIF yang didukung oleh SingHealth (Singapore Health Services). Pihaknya yakin dengan kerjasama ini tenaga medis RSU Haji bisa menambah wawasan dan pengalaman berharga dari kolaborasi lintas batas ini dan pada gilirannya berkontribusi dalam menurunkan angka kematian bayi dan anak.
Dijelaskannya dengan kerjasama ini diharapkan angka kematian bayi dan anak di RSU Haji Surabaya bisa ditekan. Pada 2017 angka kematian di RS milik Pemprov Jatim itu sebanyak 23 bayi meninggal dari 886 kelahiran hidup yang disebabkan oleh prematuritas dan respirasi. “Setelah kerjasama ini kami berharap angka kematian bayi bisa ditekan separonya pada 2018,” katanya.
Sementara itu Dedi Setiawan dari Bagian Administrasi Kerjasama Biro Humas dan Protokol Setdaprov Jatim menambahkan RSU Haji dipilih Pemprov Jatim untuk proyek kemitraan dengan SIF karena unggulan pelayanan RS ini adalah Children Care. Sebelumnya RS milik Pemprov Jatim yang lain juga bermitra dengan SIF untuk penekanan bidang yang berbeda-beda pula.
Seperti RSU dr Soetomo pelatihan terkait rekonstruksi bedah atau micro surgery mulai 2007 hingga 2010. Juga RS Syaiful Anwar terkait kegawatdarutan yang lain.
“Khusus untuk pelatihan kegawatdaruratan pediatri dan perawatan neonatal Pemprov Jatim menunjuk RSU Haji sebagai tuan rumah,” katanya.
Ditegaskan SIF adalah salah satu mitra Pemprov Jatim sejak 1992 untuk menangani masalah kesehatan dan pendidikan. Program pelatihan dan transfer ilmu ini secara nasional masuk di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Acara kemarin juga dihadiri perwakilan SIF di antaranya Governor SIF Shee Tse Koon, Direktur Grup International Collaboration Office SingHealth Chua Yeow Leng dan Ketua Tim Spesialis SIF Prof Victor Samuel Rajadurai. [tis]

Tags: