Perankan Posisi Perdana Menteri Inggris

Agustinus Kurniawan Ady Sulistyo

Agustinus Kurniawan Ady Sulistyo
Perdana Menteri United Kingdom (UK) Emily Thornberry harus menjelaskan strategi yang perlu dilakukan menghadapi situasi ekonomi pasca terjadinya Britain Exit (Brexit ). Salah satunya ialah dengan melakukan riset untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan stabilitas politik di UK dan tidak terpengaruh dengan konflik separatis di Uni Eropa.
Begitulah ceritanya. Strategi yang sebenarnya bukan dikeluarkan oleh Perdana Menteri UK, melainkan delegasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam forum Göttingen Model United Nation (GöMUN) di Jerman. Forum tersebut merupakan simulasi konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia adalah Agustinus Kurniawan Ady Sulistyo yang sukses membawa pulang predikat Best Position Paper dari kompetisi GöMUN tersebut. Pria yang akrab disapa Yoyok tersebut mendapat kesempatan masuk dalam komite Futuristic Security Council as a Crisis Committee (UNSC) dari total lima komite yang dikompetisikan.
“Topik yang diangkat pada komite ini adalah gerakan separatis di Spanyol yang semakin merajalela,” tutur pria yang akrab disapa Yoyok ini. Dalam mengatasi masalah tersebut, Yoyok sebagai Security Council harus mempertimbangkan banyak cara agar mendapat solusi dari masalah tersebut. “Saya sendiri berperan sebagai Emily Thornberry, Perdana Menteri United Kingdom (UK) pada saat itu,” jelas Yoyok antusias.
Sulitnya menjadi delegasi UK, menurut Yoyok, pada saat itu proses Brexit (Britain Exit) selesai dan perekonomian UK kurang bagus. Maka dari itu, Yoyok harus belajar dan melakukan riset lebih untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan stabilitas politik di UK supaya tidak terpengaruh dengan konflik separatis di Uni Eropa. Brexit sendiri merupakan peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Saat diskusi, ada hal menarik yang dialami oleh Yoyok. “Karena saya memerankan karakter wanita jadi saya dipanggil Miss Thornberry, waktu ada delegasi yang nyebut nama saya di pidatonya, dia malah tertawa sampai waktunya habis,” cerita mahasiswa asal Jakarta tersebut mengenang peristiwa unik yang dialaminya selama kompetisi.
Tak sia-sia, perjuangannya membuahkan hasil. Ia meraih Best Position Paper mengalahkan sekitar 130 peserta dari 14 negara berbeda. Dalam position paper, yang paling penting adalah cara pandang dan solusi diplomatis yang ditawarkan yang sesuai dengan negara masing-masing. “Kebetulan solusi yang saya tawarkan hampir semua diimplementasikan sebagai solusi committee, jadi bisa jadi nilai tambah juga,” tutur Yoyok bangga.
Ketika ditanya soal hambatan, Yoyok bercerita. “Di Indonesia saya termasuk punya badan gede, jadi kalau lomba nasional mungkin agak mengintimidasi, tapi kalo di GöMUN, saya cowok paling pendek, jadi saya yang terintimidasi,” kelakar mahasiswa Departemen Teknik Mesin tersebut. [tam]

Tags: