Pemprov Jatim Diminta Turut Jaga Sungai Brantas Dari Popok Bayi

Pemprov Jatim Diminta Turut Jaga Sungai Brantas Dari Popok Bayi

Surabaya, Bhirawa
Sejumlah aktivis lingkungan Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan mahasiswa pencinta lingkungan Surabaya menggelar aksi di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (31/7) kemarin. Mereka menuntut pemerintah provinsi Jawa Timur agar turut menjaga Sungai Brantas agar tidak tercemar popok bayi.
Demo ala Ecoton yang digelar tepat di depan taman Apsari Surabaya itu terlihat unik. Dari pengamatan dilapangan, para aktivis yang terlibat tak hanya berorasi, mereka juga mendirikan patung ikan raksasa, yang sedang keracunan popok bayi.
Selain itu, puluhan aktivis juga membentangkan beberapa poster sindiran kekinian yang biasanya dituliskan di media sosial yang ditujukan kepada gubernur Jatim Soekarwo. Beberapa Poster sindiran itu diantaranya ‘Pakde Karwo Sekarang Jahat, Brantas Gak dirumat, popok nlecek sakarat-arat’.
Tak hanya itu, juga ada tulisan ‘buang popok ke sungai itu jahat, ikan bisa berubah kodrat’. ‘Menteri lingkungan itu jahat kok, cuekin Brantas tertimbun popok.
Prigi Arisandi Direktur Eksekutif Ecoton mengatakan demo yang dilakukannya itu bentuk upaya menagih janji pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, produsen, masyarakat serta kementerian terkait yang telah sepakat untuk ikut mendeklarasian serta mencanangkan “Kali Brantas bebas Popok 2020”.
“Kami menagih janji pemerintah, karena dari kegiatan bersih-bersih kali yang kemarin kita lakukan di sungai karnag pilang masih mengevakuasi 5 kuintal popok bayi. Hal itu yang kami namakan pembiaaran pemerintah terhadap janji yang telah setahun di deklarasikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam pengamatan yang dilakukannya efek dari timbunan popok itu juga membuat ekosistem Sungai Brantas termasuk ikan asli sungai tersebut ikut tercemar, karena dari 10 ekor dari lima jenis ikan yang diambilnya dari Sungai Brantas di dalam perutnya terdapat serpihan popok maupun plastik.
“Selain popok, delapan ikan dari 10 sampling itu juga kita temukan banyak sekali plastik yang sudah termakan oleh ikan, salah satunya adalah dalam bentuk serabut, dan dalam bentuk serpihan-serpihan kecil, itu yang kita duga sebagai plastik sebenarnya,” paparnya.
Andreas Agus Kristanto Nugroho, Tim peneliti Ecoton menambahkan sejak awal Juli 2018, saat mengadakan penelitian terkait limbah popok ini. Alhasil, sampel dari penelitian tersebut ikan yang menghuni Sungai Brantas terkontaminasi plastik fiber.
“Plastik tidak akan dicerna, yang bisa dicerna yaitu zat-zat yang ikut dengan micro plastik dan mengikat banyak bahan pencemar serta nantinya terakumulasi dalam tubuh ikan, tentunya ikan itu yang kita konsumsi,” imbuh alumnus Universitas Airlangga ini.
Sedangkan untuk jenis ikan sendiri yang memakan limbah tersebut ada sekitar 5 sampai 6 jenis ikan dan lima dintaranya sudah terkontaminasi plastik fiber yang terkandung dalam popok.
“Untuk dominasi paling banyak kami belum bisa tentukan, yang pasti penelitian ikan kami kumpulkan dari hulu daerah Mlirip, Wiringanom, Gunung Sari,” terangnya.
Untuk solusi sendiri, Agus meminta kepada konsumen untuk tidak menggunakan plastik, terlebih menggunakan popok, karena saat ini popok juga ada yang terbuat dari kain.
“Konsumen ya harus berubah, permasalahan lingkungan ini semakin kita nyaman semakin menjadi masalah dalan kehidupan,” pungkasnya. (geh)

Tags: