Pemerintah Penuhi Kebutuhan Benih Tembakau di Kabupaten Probolinggo

Benih tembakau dipenuhi penangkar dan petani.

Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Rencana areal tanam tembakau musim tanam (MT) tahun 2018 seluas 10.774 hektar. Dengan asumsi rencana produksi sebesar 12.929 ton dan asumsi produktivitas 1,2 ton/Ha. Luasan lahan tersebut membutuhkan benih sekitar 215.480.000. Dimana perkiraan kebutuhan per hektar sekitar 20 ribu benih dengan jarak tanam 100 cm x 50 cm. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari melalui Kasi Tanaman Perkebunan Semusim Evi Rosellawati, Rabu 4/7.
“Dari rencana areal tanam tembakau tersebut, tentunya harus disediakan benih tembakau yang berkualitas baik dari penangkar maupun petani sendiri. Oleh karena itu kita intens memonitoring ketersediaan benih tembakau di penangkar selaku produsen benih tembakau yang berkualitas, ” katanya.
Menurut Evi, saat ini di Kabupaten Probolinggo terdapat 3 (tiga) penangkar benih tembakau. Yakni, Rachmad Yogi Samantha dari Kelompok Tani Cempiring Desa Karanganyar Kecamatan Paiton, Kelompok Tani Barokah IV Desa Bucor Kulon Kecamatan Pakuniran dan Hari Susanto dari Desa Bucor Kulon Kecamatan Pakuniran.
“Selain itu, petani-petani tembakau juga sudah melakukan pembenihan secara mandiri, baik untuk varietas Paiton VO maupun Jawa. Sehingga kebutuhan benih tembakau ini sudah bisa dipenuhi baik melalui penangkar maupun kelompok tani,” terangnya.
Selama ini pihaknya secara rutin sudah melakukan pembinaan kepada para penangkar benih maupun kelompok tani baik melalui anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan swadaya.
“Benih yang terjamin kualitasnya biasanya diperoleh dari penangkar benih karena sudah disertifikasi. Hanya saja setiap penangkar hanya mampu menghasilkan benih sekitar 1 hingga 2 juta saja. Sisanya dilakukan oleh petani sendiri, tetapi bijinya dari penangkar yang sudah bersertifikat,” jelasnya.
Evi mengharap dari rencana areal tanam seluas 10.774 hektar ini bisa terealisasi secara maksimal sesuai dengan kebutuhan gudang. Sehingga hasil panen tembakau bisa aman dan terbeli semua oleh pihak gudang dengan harga yang tinggi.
“Sebagai gambaran bahwa pada tahun 2017 lalu, dari rencana areal tanam seluas 10.774 hektar, realisasinya mencapai 7.609 hektar. Tetapi itu tidak penting asalkan tidak ada gejolak dan hasil panen tembakau bisa terbeli semua oleh pihak gudang. Harapan akhirnya tentu kesejahteraan petani bisa meningkat,” tambahnya.(Wap)

Tags: