Malnutrisi pada Susu Kental Manis

Oryz Setiawan

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Hebohnya pemberitaan bahkan telah viral di media sosial bahwa kandungan susu dalam produk susu kental manis (sweetened condensed milk) yang selama ini digembar-gemborkan sangat minim bahkan cenderung hanya berupa bubuk krim. Keberadaan prosuk susu kental manis telah lama dikenal selain keju dan yoghurt dan beredar di Indonesia sejak lebih dari 50 tahun lalu tepatnya tahun 1967. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) melalui Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) menekankan bahwa label dan iklan produk agar memperhatikan larangan menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 (lima) tahun dalam bentuk apapun dan larangan menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental dan analognya disertakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap gizi serta larangan menggunakan visualisasi gambar susu cair dan atau susu dalam gelas disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Khusus untuk iklan di larangan tayang pada jam tayang acara anak-anak.
Selain harga yang relatif terjangkau dan menjadi konsumsi bayi, balita dan anak-anak di Indonesia, susu kental manis juga menjadi campuran pelengkap (topping) makanan maupun minuman lain seperti puding atau penambah cita rasa dalam hidangan penutup, seperti martabak atau roti bakar. Sebagai bahan campuran susu kental manis masih aman jika hanya digunakan dalam jumlah sedikit dan tidak dikonsumsi secara rutin. Saat ini masih diteliti sejauhmana kandungan nutrisi susu sebenarnya bukan berlabel susu atau hanya berupa krimer yang mengandung kadar gula tinggi. Jika kandung gula terlalu tinggi dan dikonsumsi secara rutin dan terus menerus makan berresiko terjadi penimbunan kadar gula dalam tubuh yang nantinya akan berdampak pada terjadinya obesitas pada balita dan anak-anak dan timbulnya penyakit diabetes.
Produk “pakem”
Efek iklan, visualisasi dan publikasi yang tidak sesuai dengan kandungan produk sesungguhnya cenderung memberikan informasi yang menyesatkan pada masyarakat dimana acapkali menyajikannya untuk anak, sebagai alternatif dari susu bubuk yang memiliki harga lebih mahal. Apalagi sejak dahulu oleh masyarakat kita bahwa sebagian besar produk susu kendal manis digunakan sebagai pengganti susu. Seperti pada umumnya bahwa, susu merupakan makanan pelengkap dalam diet manusia sehari-hari dan merupakan makanan utama bagi bayi. Ditinjau dari komposisi kimianya, susu merupakan minuman bergizi tinggi karena mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia sehingga baik untuk dikonsumsi.
Sedangkan susu kental manis menurut SNI 2971: 2011, susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dari campuran susu dan gula dengan menghilangkan sebagian airnya hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu atau hasil rekonstruksi susu bubuk dengan penambahan gula dengan/tanpa penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan. Susu kental manis adalah susu yang dipekatkan dan ditambahkan gula. Produk ini memiliki warna kekuningan dan terlihat seperti mayonnaise. Konsentrasi gula dalam fase air pada susu kental manis tidak boleh kurang dari 62.5% atau lebih dari 64.5%. Menurut (Godam, 2012), susu kental manis mengandung energi sebesar 336 kilokalori, protein 8,2 gram, karbohidrat 55 gram, lemak 10 gram, kalsium 275 miligram, fosfor 209 miligram, dan zat besi 0 miligram. Selain itu di dalam susu kental manis juga terkandung vitamin A sebanyak 510 IU, vitamin B1 0,05 miligram dan vitamin C 1 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram susu kental manis, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100 %.
Sungguh ironis memang di tengah problematika gizi diantaranya ancaman stunting (kerdil) di tanah air justru terjadi produk nutrisi (susu) yang dapat memberikan dampak buruk bagi bayi, balita dan anak-anak negeri ini sehingga timbul masalah baru yang kian mengancam generasi penerus. Di sisi lain, fenomena stunting atau kerdil merupakan dampak asupan gizi yang kurang pada awal kehidupan 1000 hari pertama kehidupan (sejak hamil sampai anak berumur 2 tahun) dan mempunyai konsekuensi berat pada masa dewasa baik secara fisik (high risk non communicable disease), intelektual maupun ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa kejadian stunting disebabkan terutama oleh kurangnya asupan gizi dan tingginya prevalensi infeksi, yang diantaranya terkait dengan konsumsi ASI/susu formula dan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Hal tersebut sebagai paradoks yang berresiko atas kecukupan nutrisi generasi penerus bangsa, yakni anak-anak kita.

——— *** ———

Rate this article!
Tags: