Kumpulkan Rektor Bahas Pencegahan Terorisme di Kampus

Komjen Pol Suhardi Alius

Surabaya, Bhirawa
Pencegahan aksi radikalisme menjadi salah satu agenda mendesak yang tengah dilakukan saat ini. Tidak hanya oleh aparatur negara, perguruan tinggi juga dituntut ikut aktif melakukan pencegahan atas tumbuh kembangnya paham radikalisme yang negatif.
Ketua Badan Nasionalisme Pencegahan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mengungkapkan, pihaknya telah bekerjasama dengan Kemenristek-Dikti dan Kemendikbud untuk menyiapkan treatment pencegahan radikalisme. Sebagai tindak lanjut, rektor dan wakil rektor di wilayah Kopertis VII kemarin dipertemukan, Selasa (24/7).
“Permasalahan kita adalah masalah kebangsaan yang tereduksi. Jadi saat ini kita berusaha untuk memompa kembali nasionalisme di kalangan kampus,” tutur Alius usai menjadi narasumber ceramah umum Resonansi Kebangsaan dan Bahaya Paham Radikalisme di kampus UPN Jatim.
Penyebaran radikalisme, dijelarkan Alius, salah satunya bersumber dari informasi yang liar. Karena itu, generasi muda saat ini perlu memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang tepat. Memang, kendala yang membuat bangsa ini menjadi carut-marut tidak lepas kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi.
Dia mengaku, anak muda menjadi target brain washing lantaran idealisme yang masih tinggi, rasa keingintahuannya tinggi tapi emosinya masih labil. Itulah yang mudah disusupi paham radikalisme negatif. “Anak-anak perlu tahu cara-cara mengidentifikasi paham radikalisme bahkan bisa mencegah. Di banging sinergi mahasiswa dan dosen,” tutur Alius.
Semua rektor dan wakil rektor kumpul dan harus tahu fakta, modus serta treatment yang terjadi. BNPT tidak akan masuk tetapi hanya akan melakukan asistensi. “Kalau BNPT masuk nanti ada kesan yang bermacam-macam. Karena BNPT sendiri ada dari unsur TNI, POlR, Kemenkum-HAM dan banyak. Kita tidak akan masuk, yang bekerja adalah tim dari perguruan tinggi,” terang dia.
Treatment ini sedang dibahas di tingkat Kemenristek-Dikti sehingga menghasilkan satu pola yang seragam dalam rangka pencegahan radikalisme di tingkat perguruan tinggi. Salah satunya melalui kurikulum, seperti pendidikan karakter yang mencegah paham-paham radikalisme masuk. Dari segi struktural, juga sedang dirumuskan oleh Kemenristek-Dikti.
“Prinsipnya kami melakukan montoring jika terjadi hambatan baru tim kami akan masuk. Tapi bukan BNPT langsung,” kata dia. BNPT tidak ingin meninggalkan kesan menakutkan jika masuk di lingkungan perguruan tinggi. “Karena itu tadi, kita terdiri dari banyak unsur seperti TNI-Polri dan lintas kementerian lainnya,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor UPN Teguh Sudarto menambahkan, perguruan tinggi di bawah Kemenristek-Dikti telah melakukan kordinasi terkait pencegahan terorisme. Sebagai kampus, pihaknya juga sudah memiliki rambu-rambu apa yang harus dilkakukan. “Kita juga menunggu kebijakan khusus dari Kemenristek-Dikti terkait apa yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi,” kata dia. Teguh menegaskan, kampus harus netral dari pemahaman yang berbahaya dalam kehidupan berbangsa. “Kita bersyukur, sampai saat ini belum terdeteksi di UPN hal-hal yang mebahayakan terkait terorisme ini,” pungkas dia. [tam]

Tags: