Kiprah Komunitas Pa’beng di Tengah Membanjirnya Musik Modern

Komunitas Pa’beng asal Situbondo saat atraksi pada acara Parade Musik Tradisional di Taman Candra Wikwatikta, Pasuruan, belum lama ini. [sawawi]

Selalu Rutin Diundang Event Seni Jawa Timur, Berhasil Pukau Antusias Penonton
Kab Situbondo, Bhirawa
Di tengah membanjirnya arus musik modern dalam beberapa dekade terakhir ini, tak membuat sejumlah komunitas musik tradisional kendor dalam berekspresi dan berkreasi. Ini yang dilakukan sebuah Komunitas Pa’beng (pemain musik tradisional dari bambu) yang cukup lama melegenda di Situbondo. Bahkan, grup musik yang dipandegani enam personil yang dikenal sebagai ahli musik tradisional ini, sudah lama panen undangan baik dari Pemprov Jatim maupun Dewan Kesenian Jatim. Seperti apa kiprah Pa’beng ini ?
Menyingkap sejarah jenis bambu di Indonesia sejak dahulu hingga sekarang tercatat kurang lebih jumlahnya ada 60-an. Bahkan untuk spesies bambu di dunia bisa tembus sekitar 1.000-an lebih. Dalam keseharian, bambu banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan, termasuk alat untuk bermusik dan berpatrol. Alat musik dari bambu ini memang khas asli dari Indonesia dan bertebaran di berbagai pelosok Tanah Air. Tidak hanya untuk bahan alat musik tradisional semata, saat ini bambu juga bisa dijadikan bahan untuk alat musik modern.
Irwan Rakhday salah satu pentolan Komunitas Pa’beng Situbondo mengatakan Pa’beng merupakan alat musik tradisional dari bambu yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian mirip kenong, kendang dan gong yang memiliki karakteristik unik. Komposisi Pa’beng itu, aku Irwan, meliputi bagian sembilu bambu setelah diiris memanjang hingga terangkat dan berfungsi sebagai senar. “Bagian ini diganjal potongan kecil bambu sehingga sembilu bisa menonjol ke permukaan. Ketika dipukul, bagian ini akan menghasilkan bunyi-bunyian mirip kenong,” papar Irwan, pemuda asli Desa Mojosari Asembagus Situbondo itu.
Irwan menandaskan, pada alat Pa’beng ini selalu ada bagian lain dari bambu dan memiliki lubang di samping sembilu. Di atas lubang tersebut, kata dia, terdapat Sober atau potongan bambu yang sedikit ditipiskan dan biasanya ditautkan pada irisan sembilu tadi. Ketika bagian ini dipukul, akan timbul bunyi-bunyian mirip gong karena berisonansi. Sedangkan bagian lain yang berbunyi mirip kendang, berada di ujung lubang bambu sebelah kiri berupa pelepah pohon pinang yang dikaitkan. “Itulah sekilas Pa’beng, alat musik tradisionl Situbondo yang terbuat dari bambu,” ujar Irwan.
Masih kata Irwan, di Kabupaten Situbondo banyak menyimpan potensi musik tradisional, modern dan pelaku teater yang cukup handal. Buktinya, belum lama ini tim perwakilan dari Situbondo selain mampu meraih sebagai juara umum pada event festival teater dan musik di Surabaya juga diundang Dewan Kesenian Jawa Timur pada event Parade Musik Tradisional di Pandaan Pasuruan. Pemusik Pa’beng Situbondo, akunya, selain pernah meraih penghargaan katagori aransemen musik terbaik juga pernah mengukir prestasi sebagai sutradara terbaik, artistik terbaik serta pemain alat musik tradisional terbaik. “Capaian prestasi ini juga didukung tim pelajar asal SMAN I Situbondo dan SMAN I Panarukan,” kenang Irwan.
Komunitas Pa’beng ini, lanjut Irwan, juga pernah mendapatkan kehoramatan dari berbagai pejabat penting di Surabaya pada event akbar kesenian sebagai penyaji festival musik bambu. Saat itu, ingat Irwan, sedang dihelat festival musik di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kemunculan grup Pa’beng ini tampak berbeda terutama dengan acara serupa yang dihelat di sebuah hotel, yang biasanya menyajikan musik modern. Kala itu, sambung Irwan, musik tradisional yang tampil mampu memukau ribuan mata penonton. “Atraksi musik tradisional jangan sampai kalah dengan musik musik modern kekinian,” terang Irwan yang juga seorang pengajar sebuah SD di Situbondo itu.
Agung Hariyanto, juru bicara Komunitas Pa’beng Kabupaten Situbondo mengaku sangat optimis atas respon generasi muda saat ini dengan menggeliatnya kembali musik musik tradisonal di nusantara. Pasalnya, urai Agung, musik tradisional selain dikenal anti mainstream, kehadirannya sebagai bagian dari musik tanah air cukup fenomenal. Masih kata Agung, dahulu tentu sangat marak dengan musik tradisional karena berada pada masanya. Sebaliknya, saat ini musisi musik tradisional harus rajin menggali lagi setelah tenggelam selama puluhan tahun lamanya. “Tentu ada nuansa kerinduan yang membuat kami ingin membangkitkan kembali keberadan musik tradisional ini. Para generasi muda harus dapat melanjutkan kebudayaan yang adiluhung ini,” ucap Agung.
Agung menambahkan, eksistensi penampilan Komunitas Pa’beng Situbondo yang sukses tampil dalam penyajian unggulan versi Disbudpar Jatim Tahun 2018 di Pandaan Pasuruan baru baru ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagu dunia musik tradisional Situbondo kedepan. Pasalnya, aku Agung, Komunitas Pa’beng berhasil tampil apik bersama 6 Komunitas musik tradisional lain asal daerah Jatim. “Kami berhasil unjuk kebolehan memainkan alat musik kuno asal Padukuhan Pariopo di Kecamatan Asembagus ini di depan ribuan pecinta musik tradisional Jatim,” tandas Agung.
Disisi lain, Armand Semut, aktivis musik tradisional asal Situbondo yang ikut menyaksikan aksi Komunitas Pa’beng menyatakan penyajian Komunitas Pa’beng asal Situbondo cukup bagus dalam keterlibatannya memajukan musik tradisional ke depan. Selain itu, kupas Arman, Pa’beng juga dapat ikut serta dalam pelestarian musik tradisional yang merupakan warisan leluhur budaya Indonesia. Untuk itu, tegas Arman lagi, para pelestari musik tradisional itu harus intens mengasah serta lebih banyak ikut lomba di level regional maupun nasional. “Ini karena karakteristik musik tradisional itu harus dicapai. Nah momen penampilan ini sebagai wujud nyata dalam bereksperimen pada musik tradisional,” tambahnya.
Sementara itu Nasar Albatati, Komite Musik Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) mengatakan kegiatan tersebut diadakan untuk mengajak dan menghidupkan kembali musik bambu sebagai bagian dari kekayaan tradisional yang ada di Provinsi Jatim dan nasional. Apalagi, kata Nasar, pada tahun depan event ini akan diselenggarakan dengan level nasional. “Kami harus bisa mensukseskan kiprah pemusik tradisional yang tersebar di Provinsi Jawa Timur, termasuk Komunitas Pa’beng asal Situbondo sehigga bisa ikut berkibar dilevel nasional,” papar Nasar Albatati.
Senada dengan Nasar Albatati, Kepala UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian Disbudpar Jatim, Efiewidjajanti mengaku ikut berbangga hati dengan progres pelestarian musik tradisional yang banyak melibatkan generasi muda masa kini. Dimata Efie-panggilan akrabnya, kini sudah ada kecenderungan dari generasi muda untuk mencintai kembali musik tradisional. “Sebelumnya anak muda itu kurang menggemari musik-musik tradisional karena dipicu membanjirnya musik modern. Dengan pelestarian musik tradisional ini, kami yakin prorgam menciptakan iklim budaya seni musik tradisional yang berkarakter akan segera terealisasi,” pungkas Efie. [sawawi]

Tags: