Henry Beri Keterangan Tak Pernah Janjikan Strata Title

Henry J Gunawan, terdakwa kasus Pasar Turi dimintai keterangan pada sidang di PN Surabaya, Rabu (25/7).

(Kemelut Sidang Kasus Pasar Turi)
PN Surabaya, Bhirawa
Kemelut sidang kasus Pasar Turi masih terus berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (25/7). Sidang yang diketuai Majelis Hakim Rochmad ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa, yakni Henry J Gunawan.
Dalam keterangannya, Henry mengaku tidak pernah menjanjikan status stan strata title kepada para pedagang. Sebelum agenda pemeriksaan terdakwa digelar, Henry lebih dulu mengajukan saksi ahli auditor keuangan.
“Benar, nama saya Agus Ariyanto. Saya yang melakukan audit keuangan milik PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Joint Operation,” kata saksi Agus Ariyanto di hadapan Ketua Majelis Hakim Rochmad, Rabu (25/7).
Hasil dari audit menyatakan bahwa PT GBP Joint Operation memiliki opini wajar dengan pengecualian. Agus menuturkan, biaya pencadangan sertifikat dan BPHTB sudah dicatatkan. “Biaya pencadangan merupakan uang titipan dari para pedagang yang membeli stan. Jika nanti sudah terpenuhi syarat sesuai AJB, maka ini nanti dikeluarkan. Semua dicatat di utang lancar,” terangnya.
Selain itu dari audit yang dilakukan Agus, terungkap bahwa tidak ada dana yang mengalir ke pribadi Henry. “Tidak ada catatan keluar untuk saudara Henry J Gunawan. Sesuai catatan, uang cadangan milik pedagang tidak hilang,” jelasnya.
Terkait audit tersebut, Agus mengaku hal itu merupakan permintaan resmi dari PT GBP sebagai Lead form Joint Investment (JO). “Meski diminta pada April 2018, itu tidak masalah. Standar pemeriksaan memperbolehkan,” tegasnya.
Usai pemeriksaan terhadap Agus, sidang dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Sebagai terdakwa, Henry menjelaskan secara detil kasus sengketa di Pasar Turi. “Dulu Direktur Utama PT GBP dijabat La Nyalla Mattalitti, sedangkan saya menjabat sebagai Wakil Direkturnya,” terang Henry.
Saat dicecar pertanyaan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) perihal pertemuan di Hotel Mercure, Henry tak membantahnya. Namun menurut Henry, bukan dirinya yang memiliki inisiatif untuk mengadakan pertemuan. “Pada Februari 2013 ada pertemuan, saya saat itu diundang datang sebagai Wakil Dirut. Tapi bukan saya yang membuat pertemuan, saya saat itu diajak Teguh Kinarto,” ungkapnya.
Pada pertemuan dengan para pedagang Pasar Turi tersebut, Henry juga tidak menyangka bahwa hal itu justru menjadi awal dirinya dituduh melalukan penipuan. “Saat itu saya diajak ketemuan dengan para pedagang, katanya ada permintaan agar status lead form dialihkan ke dua perusahaan lain yang tergabung dalam Joint Operation,” katanya.
Saat ditanya apakah saat itu dirinya menjanjikan stan dengan status strata title ke para pedagang, Henry langsung menampiknya. “Itu tidak benar, saya tidak pernah menjanjikan status strata title. Status strata title itu merupakan hasil dari tim legal dengan notaris,” ucapnya.
Henry juga membantah dakwaan yang menyebut ada aliran dana dari PT GBP ke rekening pribadi Henry. “Dalam pembangunan Pasar Turi, perusahaan yang tergabung di joint operation pinjam uang ke saya. Kemudian yang masuk ke rekening saya adalah utang perusahaan join operation,” tegas Henry.
Pada sidang kali ini, Henry bahkan siap jika diminta untuk mengembalikan uang pembelian stan Pasar Turi ke para pedagang.
Sementara itu usai sidang, Agus Dwi Warsono, kuasa hukum Henry menegaskan, dakwaan penggelapan yang dituduhkan kepada Henry telah terbantahkan. “Bahwa sebelum ada beberapa kali transfer uang seperti yang didakwakan JPU sebagai penggelapan ternyata fakta di persidangan adalah Pak Henry memberikan pinjaman. Total pinjamannya sebesar Rp 5,5 miliar dan di dalam dakwaan tidak disebutkan sumber uangnya itu dari mana. Dan ternyata sumber uang itu dari rekening PT GBP Joint Operation,” jelasnya. [bed]

Tags: